Gerak Gesit PLN Menjaga Momentum Data Center

Nur Hana Putri Nabila
6 November 2026, 15:57
PLN
TheDigitalArtist-pixabay.com
Ilustrasi data center atau pusat data.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN bergerak cepat untuk menyalurkan listrik raksasa ke sejumlah proyek data center alias pusat data di sekitar wilayah Ibu Kota Jakarta. Langkah itu dilakukan di tengah meningkatnya permintaan di sektor bisnis infrastruktur digital tersebut.

Sebagai informasi, perusahaan pelat merah itu mesti menjamin pasokan listrik mencapai 15 gigawatt (GW) untuk proyek data center yang telah masuk perencanaan sampai 2028.  Lebih jauh lagi ke depan, indikasi kebutuhan daya setrum di sektor tersebut bahkan mencapai 25 GW sampai 2034.

Sekitar 7,4 GW dari kebutuhan daya itu telah masuk tahap perjanjian jual beli listrik (PJBTL) dengan sejumlah pengembang pada September 2026. “Ada tsunami permintaan data center yang harus kami layani,” kata Manager Priority Account Executive Kawasan Industri PLN, Andi Kurniyawan, dalam forum Indonesia Energy & Engineering Series 2026, Jakarta, Kamis (3/9). 

Dia menuturkan, besarnya skala permintaan data center belakangan mesti berhadapan dengan keterbatasan jaringan transmisi dan gardu induk di sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali. Situasi itu mendorong PLN mempercepat penyambungan transmisi dan gardu induk untuk menjaga momentum investasi pusat data saat ini. 

Selain itu, PLN belakangan juga mengajak pengelola data center untuk ikut membangun infrastruktur listrik yang diperlukan bagi kebutuhan mereka. Sebagai gantinya, PLN akan memberikan insentif untuk pengelola pusat data tersebut. “Kami memberikan kompensasi biaya pembangunannya, kami berikan insentif dan ini sudah berjalan,” ujar Andi. 

PLN kini melayani 159 pelanggan data center dengan daya listrik mencapai 1,99 GW per Juli 2026. Sebanyak 63 di antaranya berlokasi di Jawa Barat dengan kapasitas terpasang 1,3 GW.

  

Menurut hitung-hitungan PLN, sebagian besar rencana pembangunan data center akan berpusat di sekitar Jakarta. Kendati demikian, PLN telah berupaya untuk menggeser beberapa proyek ke kawasan industri di Jawa Tengah dan Batam. “Memang salah satu tantangan ini lokasinya terkonsentrasi di Jawa Barat dan Jakarta,” ucap Andi. 

Tak hanya itu, PLN belakangan mengikat kontrak pengadaan listrik skala besar dengan Digital Edge Indonesia dan BDx Data Centers (BDx) untuk pengembangan pusat data. PLN bahkan menjamin pasokan listrik hingga 1,45 GW untuk kampus CGK yang dikembangkan Digital Edge di Cikarang, Jawa Barat. Komitmen tersebut menjadi yang terbesar untuk satu kampus pusat data di Indonesia.

Dengan total investasi US$ 4,5 miliar atau sekitar Rp 81,33 triliun (dengan asumsi kurs 18.074 per dolar AS), Kampus CGK dirancang untuk beban kerja AI dan komputasi awan tingkat tinggi. Rencananya, Kampus CGK juga mengintegrasikan sistem daur ulang air dan energi terbarukan, serta menerapkan teknologi pendinginan cair untuk mendukung workload AI. 

“Bersama PLN, kami tidak sekedar membangun sebuah pusat data, kami sedang meletakkan fondasi agar Indonesia dapat bersaing di level tertinggi ekonomi AI global,” kata CEO Digital Edge Indonesia Stephanus Oscar lewat keterangan tertulis.

 

Selain itu, PLN turut berkomitmen memasok daya setrum mencapai 1,2 GW untuk data center yang tengah dikembangkan BDx. PLN akan menyalurkan listrik secara bertahap untuk CGK4 milik BDx di Jatiluhur dan mengembangkan jaringan tegangan tinggi untuk CGK5 di kawasan industri Suryacipta, Jawa Barat. 

PLN juga membangun gardu induk 150 kilovolt (KV) Jatiluhur Baru yang akan menyalurkan listrik ke kawasan data center BDx tersebut. Kampus data center milik BDx telah mendapat sertifikasi NVIDIA DGX-Ready, yang mendukung penggunaan GPU kelas H100 untuk pelatihan AI dan komputasi awan. 

Menjaga Momentum  

Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia (IDPRO), Hendra Suryakusuma mengatakan, asosiasinya berkomitmen untuk ikut mengisi kekosongan jaringan listrik yang belum terhubung saat ini. “Di anggota kami sudah willing untuk investasi di gardu induk tegangan menengah atau tegangan ekstratinggi, potentially mereka juga harus bayar pajak hibahnya, mereka sudah willing untuk itu,” kata Hendra di forum Indonesia Energy & Engineering Series 2026, Jakarta, Rabu (2/9).

Hendra berharap inisiatif pembangunan jaringan listrik dan gardu induk itu dapat menjaga momentum minat investasi besar-besaran pusat data di Indonesia. Apalagi, nilai investasi data center terbilang intensif dengan perhitungan minimal Rp 18 triliun untuk kapasitas 100 megawatt (MW). Dengan demikian, nilai investasi data center untuk kapasitas 1 GW dapat mencapai Rp 180 triliun. 

Selain itu, kata Hendra, asosiasinya juga berdiskusi dengan pemerintah dan PLN ihwal kebijakan tarif listrik yang kompetitif untuk mendukung pertumbuhan industri pusat data nasional. Menurutnya, perlambatan investasi data center yang terjadi di Malaysia belakangan disebabkan karena kenaikan tarif listrik yang signifikan sekitar 70%. Situasi itu menekan arus kas pengelola pusat data yang belakangan menggeser investasinya ke Indonesia. 

“Kalau ada kenaikan listrik, kalau bisa ada tahapannya dan dihitung dampak kenaikan listrik ini terhadap potensi investasi yang masuk,” tuturnya. 

Sebagian besar analis memperkirakan Indonesia dapat menyerap limpahan permintaan data center regional selepas moratorium pusat data di Singapura dan Malaysia. Kedua negara tetangga itu membatasi investasi anyar pusat data selepas masalah keterbatasan lahan, listrik, dan air. 

 

Mengutip riset yang disusun analis UOB Kay Hian, Indonesia menawarkan pasar yang besar dan belum tergarap secara optimal di tengah keterbatasan ruang ekspansi di Singapura dan Malaysia. “Operator internasional, termasuk DayOne, Princeton, AirTrunk, dan NTT, telah membangun atau memperluas kehadirannya di Indonesia,” dikutip dari riset UOB Kay Hian yang disusun oleh Andrew Agita Buntoro, Willinoy Sitorus dan Benyamin Mikael.

Menurut mereka, Indonesia menawarkan kombinasi fleksibilitas kepemilikan investor asing, rendahnya biaya pengembangan dan ketersediaan lahan yang luas. Proyek yang memenuhi kriteria berpeluang mendapat tax holiday, tax allowance dan pembebasan bea masuk. 

Selain itu, mereka menggarisbawahi, Indonesia memiliki keunggulan signifikan dari sisi biaya konstruksi. Menurut hitung-hitungan UOB Kay Hian, biaya pembangunan pusat data di Jakarta sebesar US$ 11,21 per watt pada 2025. Sementara itu, biaya pembangunan di Singapura mencapai  US$ 14,53 per watt.

“Angka itu menunjukkan keunggulan biaya sekitar 23% bagi Jakarta,” dikutip dari riset UOB Kay Hian. 

Sebelumnya, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM telah memberikan tax holiday dan pembebasan bea masuk kepada 10 investor asing pengembang data center sampai pertengahan tahun ini. BKPM meminta investor asing itu menanamkan investasi minimal Rp 1 triliun sebagai syarat mendapat insentif.

Head of Sub-Directorate Investment Promotion BKPM, Henry Rombe, berharap insentif itu dapat menarik investasi strategis untuk membangun kemampuan pusat data nasional. “Kami harapkan ini bisa menjadi pemantik mereka untuk mau berinvestasi, dan ketika mereka mau proyek perluasan, itu bisa saja diberi tax holiday, sepanjang Rp 1 triliun,” kata Henry. 

Keandalan Sistem

Upaya mengerek kapasitas data center belakangan masih dibayangi risiko keandalan pasokan listrik dalam jangka pendek. Indonesia memiliki kapasitas pembangkit listrik terpasang 107,5 GW sampai akhir 2025. 

Tak hanya itu, Kementerian ESDM memproyeksikan beban puncak listrik nasional mencapai 47,2 GW, dengan Daya Mampu Pasok (DMP) sekitar 51,6 GW selama Ramadan-Idulfitri 2026. Dengan demikian, cadangan kapasitas listrik hanya mencapai 4,4 GW atau 9,3%. 

Sementara itu, DMP sistem Jawa-Madura-Bali mencapai 38 GW, dengan beban puncak sebesar 34,1 GW sepanjang 2025. Neraca itu menyisakan cadangan kapasitas sebesar 3,9 GW atau 11,3%. 

Posisi pasokan listrik lebih ketat justru dialami di Batam, wilayah yang relatif mendapat limpahan investasi data center dari Singapura dan Malaysia. DMP bersih Batam hanya sekitar 881 MW, dengan beban puncak 761 MW sampai Maret 2026. Situasi itu menyisakan ruang cadangan listrik sekitar 120 MW. 

Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) meminta PLN untuk memastikan pertumbuhan permintaan listrik dari pusat data tidak mengurangi kualitas layanan bagi pelanggan lain. “Jadi tantangannya bukan hanya menyediakan listrik yang cukup, tetapi memastikan sistem tetap andal ketika permintaan terus meningkat,” kata Research & Engagement Lead Indonesia Energy Transition di IEEFA, Mutya Yustika, saat dihubungi Katadata, Rabu (4/11). 

Dia  juga mengatakan keikutsertaan investasi dari pihak swasta menjadi krusial untuk mempercepat peningkatan kapasitas listrik sembari memperluas jangkauan jaringan transmisi. “Di satu sisi, ini merupakan peluang karena data center merupakan pelanggan dengan kebutuhan listrik yang stabil dan beroperasi sepanjang waktu,” tuturnya. 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...