Pengusaha Sebut Tren PHK akan Berlanjut Tahun Depan, Apa Faktornya?
Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo menyatakan tren pemutusan hubungan kerja atau PHK akan berlanjut pada 2024. Tren PHK didorong oleh berubahnya tren investasi asing dan digitalisasi.
Ketua Bidang Kebijakan Publik Apindo Sutrisno Iwantono mengatakan, pandemi Covid-19 telah mengubah cara pandang terhadap teknologi. Menurutnya, penggunaan kecerdasan buatan atau AI akan banyak diimplementasikan oleh berbagai sektor usaha di dalam negeri.
"AI itu capital intensive, jadi tidak akan memiliki karakter untuk menciptakan lapangan kerja. Oleh karena itu, tidak mungkin mengharapkan investasi mampu menciptakan lapangan kerja," kata Iwantono di kantornya, Kamis (21/12).
Oleh karena itu, Iwantono mencatat, ada dua pilihan yang ditawarkan Apindo dalam menciptakan tenaga kerja. Pertama, penciptaan wirausaha baru sejak tingkat lulusan Sekolah Menengah Atas.
Iwantono menilai, bertambahnya lulusan pendidikan tinggi tidak akan menyelesaikan masalah minimnya lapangan kerja di dalam negeri. Menurut dia, lulusan SMA seharusnya mampu menciptakan pekerjaan sendiri.
"Pendekatan seperti ini yang dicari bentuk model pendidikan oleh Apindo. Kita enggak mungkin mengharapkan penciptaan lapangan kerja ke depannya melalui investasi," ujarnya.
Kedua, insentif investasi untuk investor lokal yang lebih banyak membangun industri padat karya. Iwantono menyampaikan, investor asing akan mengarah pada investasi modal daripada padat karya mengingat tren penggunaan AI terus naik.
Di sisi lain, Wakil Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo Darwoto juga melohat tren PHK akan terus berlanjut pada 2024. Tren PHK pada tahun depan akan didorong oleh digitalisasi, khususnya pada sektor alas kaki, tekstil dan produk tekstil, dan manufaktur.
Kementerian Ketenagakerjaan mendata jumlah tenaga kerja yang terkena PHK pada Januari-Oktober 2023 mencapai 237.080 orang. Anak korban PHK terus konsisten meningkat selama periode tersebut dari 2.867 per Januari 2024 menjadi 45.576 per Oktober 2023.
Provinsi dengan jumlah PHK terbesar pada Januari-Oktober 2023 ada di Jawa Barat atau hingga 88.981 orang. Sementara itu, provinsi dengan jumlah korban PHK terendah adalah Sulawesi Barat atau hanya 16 orang.
Darwoto mengatakan, sebuah perusahaan dapat mengurangi tenaga kerjanya hingga 50% pada tahun depan atas nama digitalisasi. Menurutnya, industri alas kaki dan TPT menjadi dua subsektor manufaktur yang paling tertekan dari sisi penyerapan tenaga kerja tahun depan akibat digitalisasi.
"Tertekan karena pengaruh digitalisasi, tapi juga karena pelemahan permintaan global. Situasi global memang berpengaruh pada industri alas kaki dan TPT," katanya.
