Harga Daging Sapi Berpotensi Naik Gara-gara Pelemahan Rupiah

Andi M. Arief
3 Maret 2025, 21:18
daging sapi, harga daging sapi, pelemahan rupiah
ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/Spt.
Pedagang menata daging sapi di Pasar Klender, Jakarta, Jumat (28/2/2025). Pemprov DKI Jakarta menjamin ketersediaan pangan pada bulan Ramadhan 1446 Hijriah aman, berdasarkan data pada Februari 2025 stok pangan seperti daging sapi 554 ton, daging ayam 788 ton, beras sebanyak 60.275 ton, gula pasir 250 ton, minyak goreng 33.876 liter, cabai merah keriting 25 ton, cabai rawit merah 24 ton, cabai rawit hijau 7 ton, bawang merah 89 ton dan bawang putih 36 ton.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badan Pangan Nasional memperkirakan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akan berdampak pada harga daging di dalam negeri. Ini karena sekitar 23% dari ketersediaan daging sapi dan kerbau pada tahun ini masih bergantung pada impor.

Berdasarkan data Bapanas, pasokan daging sapi dan kerbau pada awal tahun ini mencapai 65.652 ton dengan proyeksi produksi hingga 551.651 ton. Ketersediaan daging sapi dan kerbau tahun ini mencapai 809.834 ton setelah ditambah prediksi impor sejumlah 192.531 ton.

Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi mencatat, stok daging kerbau tahun ini sekitar 30.000 ton, dengan tambahan impor bulan ini sebanyaki 4.000 ton.

Arief awalnya berencana menjadikan daging kerbau sebagai instrumen pengendalian harga daging sapi di dalam negeri. Namun, pelemahan nilai tukar rupiah juga akan berdampak pada harga daging kerbau di pasar lokal.

"Target harga daging kerbau harusnya antara Rp 80.000 sampai Rp 100.000 per kilogram. Sekarang nilai tukar rupiah telah senilai Rp 16.500 per dolar Amerika Serikat. In akan berpengaruh pada harga pangan," kata Arief di Kantor Menteri Koordinator Bidang Pangan, Senin (3/3).

Arief menilai, harga daging sapi di dalam negeri harus naik untuk menjaga kesejahteraan peternak. Bapanas mendata, 30 provinsi memiliki harga daging sapi di bawah Harga Acuan Pemerintah senilai Rp 140.000 per kilogram.

Berdasarkan data Bapanas, rata-rata nasiona harga daging sapi segar naik 1,32% secara bulanan menjadi Rp 135.850 per kg hari ini, Senin (3/3). Adapun harga daging sapi di DKI Jakarta tumbuh hingga 6,01% selama 30 hari terakhir dari sekitar Rp 133.000 per kg menjadi Rp 141.250 per kg.

Arief menjelaskan, pelemahan harga daging sapi segar disebabkan oleh kekhawatiran konsumen akan penyakit mulut dan kuku. Ia menekankan PMK tidak memiliki dampak negatif terhadap manusia yang mengonsumsi daging sapi terjangkit PMK.

Maka dari itu, Arief menilai peningkatan harga daging sapi segar saat ini menjadi momentum baik bagi peternak lokal. "Kemarin harga daging sapi turun karena PMK. Jadi memang harga daging sapi saat ini harus naik," ujarnya.

Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas Maino Dwi Hartono sebelumnya mengatakan daging kerbau beku impor tersebut akan disalurkan ke pasar tradisional dan modern. Pihaknya akan menyalurkan 19 ribu ton daging kerbau senilai Rp 75 ribu per kilogram melalui operasi pasar pada Ramadan 2025. Namun, harga daging kerbau di pasar modern akan ditetapkan sesuai harga acuan pemerintah senilai Rp 80 ribu per kg.

"Badan usaha milik negara (BUMN) pangan wajib menyalurkan ke pasar modern," kata Maino kepada Katadata.co.id, Rabu (19/2).

Maino mengaku telah berkoordinasi dengan asosiasi pedagang daging sapi terkait penggelontoran daging kerbau beku impor tersebut. Langkah ini  tidak akan berdampak pada harga daging sapi segar lantaran segmen daging kerbau dan daging sapi berbeda.

"Distribusi daging kerbau beku impor melalui operasi pasar tidak akan mendistorsi pasar karena segmennya berbeda. Selain itu, tidak semua orang mau membeli daging beku," katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...