Utang ID Food ke BRI Susut 7,68% dalam Dua Tahun, Tersisa Rp 7,4 Triliun

Ringkasan
- Gempa bermagnitudo 7,5 dan 6,6 mengguncang Taiwan, dirasakan hingga Jepang selatan.
- Gempa berkekuatan 7,5 berkedalaman dangkal terjadi pukul 08.58 waktu setempat, diikuti gempa kedua berkekuatan 6,6 pada pukul 09.11 waktu setempat.
- Peringatan tsunami dikeluarkan untuk Pulau Okinawa, Miyako, dan Yaeyama, dengan perkiraan ketinggian gelombang tsunami 3 meter.

PT Rajawali Nusantara Indonesia atau ID Food mengungkapkan jumlah utang perusahaan kepada Bank Rakyat Indonesia (BRI) saat ini berjumlah Rp 7,4 triliun. Angka ini menyusut 7,68% dibandingkan 2023 yang mencapai Rp 8,016 triliun.
“Dengan perjalanan waktu di 2024 sampai posisi terakhir Februari ini kami berhasil menurunkan utang tersebut,” kata Direktur Keuangan dan Strategi ID Food Susana Indah Kris Indriati dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta, Senin (24/3).
Indah mengatakan pelunasan atau penurunan jumlah utang kepada perbankan ini menjadi fokus utama perusahaan. “Karena ini memang bunganya juga terus terang membebani secara cashflow,” ujarnya.
Berdasarkan paparan Indah, jumlah liabilitas (unaudited) perusahaan pada 2024 mencapai Rp 15,96 triliun. Angkanya meningkat 21% dibandingkan liabilitas 2023 yang hanya berjumlah Rp 13,22 triliun.
Untuk laba bersih ID Food pada 2024 berjumlah Rp 92 miliar (unaudited), angkanya turun 61% dibandingkan 2023 yang mencapai Rp 234 miliar. Indah mengatakan perusahaan saat ini masih memproses audit kinerja keuangan mereka.
“Pada 2024 kami mengalami beberapa hal, khususnya ada proses PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang) yang dijalani oleh Nusindo, salah satu perusahaan perdagangan kami,” ucapnya.
Kemudian dari sisi aset, perusahaan membukukan Rp 32,38 triliun pada 2024, naik 11% dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp 29 triliun saja.
Pada sisi ekuitas, perusahaan mencatat peningkatan 3%, dari Rp 15,8 triliun pada 2023 menjadi Rp 16,4 triliun pada 2024. Untuk pendapatan, ID Food mengalami pertumbuhan 20% dari Rp 15,2 triliun pada 2023 menjadi Rp 18,3 triliun pada 2024. Sedangkan EBITDA yang dibukukan tumbuh 12% yaitu dari 2023 sebesar Rp 562 miliar menjadi Rp 631 miliar.