3 Industri Terancam Lakukan PHK Imbas Tarif Impor AS, Berikut Capaian Ekspornya
Kenaikan tarif impor hingga 32% oleh Amerika Serikat (AS) memicu kekhawatiran akan penurunan ekspor Indonesia, khususnya untuk produk alas kaki, pakaian, dan elektronik. Kecemasan tersebut sebelumnya disuarakan oleh Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Anindya Novyan Bakrie dalam rilis pers pada 3 April lalu.
Menurut Anin, penurunan ekspor dikhawatirkan akan berujung pada penurunan produksi di sektor industri yang pada akhirnya dapat memicu efisiensi tenaga kerja hingga pemutusan hubungan kerja (PHK). “Ini akan berdampak pada ketenagakerjaan. Kadin mengimbau agar pemerintah dan pelaku usaha bersama-sama mencegah PHK,” kata Anin.
Keresahan serupa juga dikatakan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Dalam siaran persnya pada Ahad, 6 April kemarin, Airlangga mencermati potensi dampak kebijakan tarif terhadap sejumlah sektor industri padat karya berorientasi ekspor, seperti industri apparel dan alas kaki. Menurut Airlangga, sektor-sektor tersebut rentan terhadap fluktuasi pasar global.
Melansir laporan Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, ekspor komoditas alas kaki, apparel, pakaian, dan elektonik Indonesia ke AS cenderung progresif.
Ekspor pakaian jadi (konveksi) dari tekstil ke AS pada 2023 menyentuh 134.300 ton senilai US$ 3,61 miliar atau sekitar Rp 60,1 triliun dengan asumsi nilai tukar Rp 16.652 per dolar AS. Torehan ini jauh mengungguli ekspor ke Jepang yang menempati peringkat kedua, yakni seberat 24.100 ton dengan nilai US$ 609,7 juta.
Kendati demikian, angka ekspor pakaian ke AS pada 2023 lebih rendah daripada jumlah ekspor tahun sebelumnya yang menembus 170.400 ton senilai US$ 4,4 miliar.
Amerika Serikat juga menjadi pasar potensial bagi produk peralatan listrik dalam negeri. BPS mencatat ekspor peralatan listrik ke AS mencapai 80.603,7 ton dengan nilai transaksi US$ 1,88 miliar atau sekitar Rp 31,3 triliun pada 2023.
Angka ini terpaut jauh di atas ekspor ke Jepang yang berada di peringkat kedua dengan volume 74.362,3 ton dan nilai mencapai US$ 1,41miliar. Angka ekspor peralatan listrik ke AS pada 2023 naik daripada jumlah ekspor tahun sebelumnya sejumlah 73.747,9 ton senilai US$ 1,81 miliar.
Lebih lanjut, AS juga merupakan negara tujuan utama ekspor sepatu olahraga dengan pengiriman 62.200 ton senilai US$ 1,39 miliar pada 2023. Capaian tersebut melampaui ekspor ke Belgia yang menempati posisi kedua dengan volume 23.700 ton senilai US$ 525,2 juta.
Kendati demikian, angka ekspor sepatu olahraga ke AS pada 2023 lebih rendah daripada jumlah ekspor tahun sebelumnya yang menembus 89.700 ton senilai US$ 2,04 miliar.
