Skenario Inaplas Jika Selat Hormuz Ditutup, Harga Bahan Baku Terancam Naik
Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) memastikan industri petrokimia nasional telah menyiapkan mitigasi terhadap risiko terganggunya bahan baku akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Namun, pelaku industri memastikan harga bahan baku akan melonjak jika Selat Hormuz benar-benar ditutup.
Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiyono mengatakan mayoritas naphta atau bahan baku industri plastik global berasal dari Timur Tengah. Setidaknya, 40% industri hulu plastik atau petrokimia di dalam negeri diimpor melalui Selat Hormuz.
"Indonesia juga memproduksi naphta, tapi hanya untuk produksi bahan bakar minyak. Karena itu, 100% naphta kebutuhan industri petrokimia masih bergantung impor," kata Fajar kepada Katadata.co.id, Rabu (2/7).
Fajar menyampaikan pihaknya telah menyiapkan mitigasi untuk dua skenario. Skenario pertama yaitu pengiriman naphta dari Timur Tengah akan dialihkan dari Selat Hormuz menjadi melalui Laut Merah.
Menurutnya, skenario pertama akan menambah waktu pengiriman sekitar 24 jam. Namun, biaya logistik tetap dibebankan kepada pabrikan petrokimia domestik.
Sementara itu, skenario kedua adalah memindahkan seluruh pasokan naphta dari Timur Tengah ke negara lain seperti Cina dan negara-negara anggota ASEAN. Mitigasi ini disiapkan jika seluruh kawasan Timur Tengah sulit dilalui jalur perdagangan akibat perang Iran-Israel.
Fajar menegaskan skenario dapat dilakukan jika merujuk data tanpa mempertimbangkan kondisi ekonomi global. Maka dari itu, lanjutnya, pengiriman naphta pada skenario kedua juga harus datang dari Amerika Serikat.
"Fakta di lapangan nantinya akan berbeda dengan laporan di atas kertas, karena akan ada kekhawatiran pasokan dari pemain di negara lain dan spekulan yang mengambil keuntungan," kata Fajar.
Namun, mitigasi skenario kedua akan menambah waktu pengiriman hingga 14 hari. Selain itu, biaya logistik dari Amerika Serikat membuat biaya logistik meningkat hingga US$ 40 per kontainer.
Kenaikan Harga Bahan Baku
Walau demikian, Fajar memastikan peningkatan eskalasi perang Iran-Israel lebih lanjut akan mendongkrak harga naphta yang dinikmati pabrik petrokimia lokal. Sebab, harga minyak dunia juga akan meningkat, mengingat 20% perdagangan minyak mentah global melalui Selat Hormuz.
Berdasarkan data Investing, harga minyak West Texas Intermediate atau WTI telah naik dari US$ 64,68 per barel pada 13 April 2025 menjadi US$ 74,93 per barel pada 15 Juni 2025. Harga WTI ditutup pada level US$ 65,46 per barel pada bulan lalu.
Karena itu, Fajar menilai harga naphta global cenderung stabil di kisaran US$ 600 sampai US$ 700 per ton selama harga WTI di bawah US$ 75 per barel. Namun Fajar menilai angka tersebut bisa naik mendekati US$ 100 per barel jika Selat Hormuz ditutup.
"Kalau harga WTI mendekati US$ 100 per barel, harga naphta global akan mendekati US $ 1.000 per ton atau antara US$ 900 sampai US$ 1.000 per ton," jelasnya.
