Impor Jagung AS Bebas Tarif, Petani RI Kian Terjepit dan Harga Terancam Anjlok
Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI) mempertanyakan arah visi ketahanan pangan nasional menyusul kebijakan pembebasan bea masuk terhadap jagung asal Amerika Serikat. Langkah ini dinilai merugikan petani lokal dan dapat membuat mereka berhenti menanam jagung.
Ketua Umum APJI, Solahuddin menyebut rata-rata harga pokok produksi (HPP) jagung di dalam negeri berkisar Rp 4.000 hingga Rp 4.500 per kilogram. Sementara itu, jagung dari Negeri Paman Sam dijual sekitar Rp 3.500 per kg.
"Harga jagung di dalam negeri pasti akan turun menjadi Rp 3.700 per kg kalau jagung asal AS banyak di pasar. Masa petani masih mau tanam jagung wong jelas akan merugi. Pembebasan bea masuk jagung dari AS akan membahayakan keberlanjutan pangan kita," kata Solahuddin kepada Katadata.co.id, Kamis (31/7).
Kebijakan ini merupakan bagian dari kesepakatan dagang antara Indonesia dan AS. Presiden AS Donald J. Trump mensyaratkan tarif impor 0% untuk produk AS agar produk asal Indonesia dikenakan tarif 19% di pasar AS. Presiden Prabowo Subianto pun telah menyetujui impor produk pertanian dari AS senilai US$ 4,5 miliar, termasuk jagung.
Solahuddin memperingatkan bahwa petani jagung lokal kemungkinan besar akan beralih ke tanaman lain jika jagung asal AS mulai membanjiri pasar domestik.
Ia mencontohkan, sebagian petani di wilayah sekitar peternakan sapi perah telah berhenti menanam jagung dan beralih menanam rumput gajah sebagai pakan ternak karena lebih menguntungkan.
Saat ini, HPP jagung ditetapkan sebesar Rp 5.500 per kg melalui Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional No. 18 Tahun 2025. Solahuddin mengatakan harga tersebut baru tercapai bulan ini, setelah sebelumnya hanya sekitar Rp 5.000 per kg.
Jagung RI Masih Kalah Saing dari Produk Impor
Menurutnya, daya saing jagung nasional masih kalah jauh dari produk impor karena tiga faktor utama yaitu efisiensi lahan, mekanisasi pertanian, dan keunggulan benih.
Mayoritas petani jagung lokal hanya mengelola lahan sempit, rata-rata 0,4 hektare. Sebaliknya, petani kecil di AS mampu menggarap lahan seluas 200 hektare. Dari sisi mekanisasi, satu petani di AS bisa memanen 90 hektare dalam satu hari.
Sementara itu, 20 petani jagung di dalam negeri belum tentu dapat memanen lahan seluas 10 hektare dalam satu hari. Ia juga menyoroti penggunaan teknologi canggih dalam produksi jagung di AS.
"Belum lagi mereka menggunakan benih berteknologi tinggi yang telah mendapatkan perlakuan rekayasa genetik melalui teknologi nano," katanya.
Karena itu, Solahuddin menilai kebijakan pembebasan bea masuk jagung asal AS sangat tidak adil bagi petani lokal. "Petani yang cerdas tidak akan menanam jagung lagi pada masa depan dan pindah ke tanaman lainnya," katanya.
Tren Impor Jagung AS Menurun Tajam
Meski kebijakan impor jagung dari AS menuai pro dan kontra, data menunjukkan tren impornya terus menyusut sejak 2016. Kala itu, volume impor jagung AS sempat melonjak hingga 303.690 ton. Namun sejak 2019, volumenya terus turun.
Sepanjang 2024, volume jagung asal AS yang masuk ke Indonesia hanya sekitar 4.000 ton, senilai US$3,5 juta atau turun lebih dari 98% dibanding puncaknya pada 2016.
Selama ini, Indonesia lebih banyak mengandalkan impor jagung dari Argentina dan Brasil. Sejak 2023, rata-rata nilai impor dari kedua negara tersebut masing-masing mencapai US$55,6 juta dan US$21,6 juta per kuartal.
