Ekspor RI Tembus US$ 160,16 Miliar, Kemendag Yakin Tahun Depan Tumbuh 7,1%
Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan target ekspor tahun ini telah tercapai sebesar 7,1%. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor pada Januari–Juli 2025 naik 8,03% secara tahunan menjadi US$ 160,16 miliar.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi menilai capaian tersebut mencerminkan lonjakan signifikan dibandingkan tren sebelumnya. Rata-rata pertumbuhan ekspor sebelumnya hanya sekitar 2% secara tahunan.
"Kami menaikkan target ekspor harus bisa mencapai 7% sampai 9% dalam lima tahun ke depan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8%,” kata Fajarini dalam konferensi pers Trade Expo Indonesia (TEI) 2025, Senin (29/9).
Ia menambahkan, performa ekspor tahun depan ditargetkan tumbuh sama dengan tahun ini, yakni 7,1%. Menurutnya, pencapaian tersebut akan didorong oleh kerja sama yang terbentuk melalui TEI 2025.
Fajarini juga menargetkan nilai transaksi di TEI 2025 naik 10% menjadi US$ 16,5 miliar atau sekitar Rp 277,77 triliun. Salah satu strategi yang ditempuh adalah pra-business matching.
132 Perwakilan Dagang Pemerintah
Dia menjelaskan, pra-business matching dilakukan dengan menyerahkan daftar eksibitor TEI 2025 kepada 132 perwakilan dagang pemerintah di luar negeri. Dengan cara ini, sebagian buyer yang hadir hanya perlu melakukan pertemuan fisik sebelum merealisasikan transaksi.
“Memang diharapkan buyer pada TEI 2025 lebih terarah dibandingkan tahun lalu, sebab sudah ada buyer yang berjodoh dengan eksibitor. Itu yang membedakan TEI 2025 dengan tahun sebelumnya,” kata Fajarini dalam konferensi pers TEI 2025, Senin (29/9).
Ia mencatat, sebanyak 6.850 calon pembeli atau buyer telah mendaftar untuk menghadiri TEI 2025 yang akan digelar pada 15–19 Oktober 2025 di ICE BSD, Tangerang. Buyer tersebut mewakili 80% buyer global karena berasal dari 106 negara.
Menurut Fajarini, buyer terbanyak datang dari Nigeria, Malaysia, India, dan Cina. Sementara itu, jumlah peserta TEI 2025 sejauh ini mencapai 1.015 perusahaan, terbagi dalam tiga kelompok, yakni makanan dan minuman, manufaktur, serta gaya hidup.
“Total peserta dalam kelompok makanan dan minuman mencapai sekitar 350 perusahaan. Produk yang ditawarkan berasal dari industri pertanian, bisnis lisensi, hingga waralaba,” ujarnya.
