Apindo: Investor Asing Lirik Industri Sepatu RI, Manufaktur Vietnam Mulai Jenuh
Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo memprediksi prospek investasi industri alas kaki nasional cukup cerah pada tahun depan. Sebab, jumlah pabrik sepatu berorientasi ekspor dengan kualitas tinggi di dalam negeri masih bisa dikembangkan.
Ketua Umum Apindo Shinta W Kamdani mengatakan satu-satunya pesaing Indonesia di pasar sepatu global adalah Vietnam. Namun, Shinta menilai pelaku industri sepatu berorientasi ekspor di Vietnam sudah cukup jenuh yang membuat peluang investasi di dalam negeri cukup menarik.
"Saya baru dapat data bahwa ada dua investor asing baru yang membangun pabrik alas kaki di Jawa Tengah. Ini menunjukkan minat investasi di industri alas kaki nasional masih besar," kata Shinta di Jakarta Selatan, Rabu (5/11).
Shinta tidak merinci berapa jumlah dana segar yang ditanam dua investor asing tersebut di Jawa Tengah. Namun Shinta menyampaikan kedua pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi yang besar.
Walau demikian, Shinta menilai kondisi industri tekstil dan produk tekstil secara keseluruhan masih penuh tantangan pada tahun depan. Tantangan terbesar akan dirasakan oleh ekosistem industri garmen lantaran tingginya volume impor garmen pada tahun ini.
Shinta menyampaikan mayoritas pelaku industri garmen nasional berorientasi pasar domestik. Menurutnya, produk garmen lokal masih belum dapat bersaing dengan garmen impor asal Cina dengan harga yang murah.
"Pemerintah harus mengatasi banjirnya impor garmen ini pada tahun depan. Kalau kondisi ini berkelanjutan, dampak ke isu ketenagakerjaan tidak akan terlihat baik," ujarnya
Pada saat yang sama, Shinta menyampaikan performa pasar ekspor garmen pada tahun depan akan menantang akibat tarif resiprokal di Amerika Serikat sebesar 19%. Shinta mencatat Amerika Serikat menyerap sekitar 61% produk ekspor asal Indonesia.
Selain itu, Shinta menyampaikan Indonesia telah memiliki banyak kompetitor di pasar ekspor, seperti Bangladesh dan Ethiopia.
Asosiasi Pertekstilan Indonesia atau API menyatakan industri tekstil diprediksi masih lesu tahun ini meskipun pemerintah sudah merevisi aturan tentang ketentuan impor. Impor tekstil masih akan membanjiri pasar dalam negeri yang akan menekan industri domestik.
Seperti diketahui, pemerintah baru saja merevisi Permendag No. 8 Tahun 2024 yang digantikan oleh Permendag No. 16 Tahun 2025 dan delapan aturan lainnya sesuai sektor tertentu. Beleid tersebut tentang kebijakan dan pengaturan impor secara umum. Sebelumnya, Direktur Eksekutif API, Danang Girindrawardana, mengatakan performa industri tekstil diperkirakan baru dapat membaik secepatnya tahun depan.
"Saat revisi Permendag No. 8 Tahun 2024 berlaku, saya kira permintaan tekstil di dalam negeri belum akan naik karena pasar domestik masih dibanjiri barang-barang impor yang sudah terlanjur masuk sejauh ini," kata Danang kepada Katadata.co.id, Selasa (8/7).
Danang mencatat tingkat produksi industri garmen kini di bawah 60% dari kemampuan maksimum. Angka tersebut lebih rendah lagi untuk industri tekstil atau kurang dari 50% akibat tingginya produk impor.
