Penjualan Mobil Anjlok 10%, Tiga Faktor Jadi Batu Sandungan Industri Otomotif RI

Mela Syaharani
13 November 2025, 14:05
Pengunjung melihat mobil BMW seri terbaru yang dipamerkan dalam BMW Exhibition di Mall Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (17/9/2025). Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan mobil secara wholesales pada Agustus 2025 sebesar
ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/aww.
Pengunjung melihat mobil BMW seri terbaru yang dipamerkan dalam BMW Exhibition di Mall Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (17/9/2025). Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan mobil secara wholesales pada Agustus 2025 sebesar 61.780 unit atau turun 19 persen secara tahunan (yoy) dibandingkan Agustus 2024 sebanyak 76.302 unit.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan jumlah penjualan mobil baru dari Januari hingga Oktober 2025 mencapai 635.844 unit. 

Jika dibandingkan dengan periode yang sama di 2024, jumlahnya menurun 10,6%. Sebab, pada Januari-Oktober 2024, total penjualan mobil mencapai 711.064 unit.

Ketua I Gaikindo, Jongkie D Sugiarto mengungkapkan ada tiga faktor yang menyebabkan angka penjualan mobil ini menurun dibandingkan tahun lalu.

“Mulai dari daya beli masyarakat yang sangat menurun, pertumbuhan ekonomi yang baru-baru ini mulai meningkat, serta faktor harga komoditas yang juga menurun,” kata Jongkie kepada Katadata, Rabu malam (12/11).

Dikutip dari Antara, data penjualan mobil hingga Oktober 2025 menunjukkan bahwa jumlah terbanyak penjualan berasal dari segmen kendaraan penumpang dan disusul segmen kendaraan niaga terutama dari merek Mitsubishi Fuso, Isuzu, dan Hino.

Adapun lima merek dengan penjualan mobil terbanyak, dikuasai oleh perusahaan asal Jepang. Posisi pertama dipimpin Toyota sejumlah 31,8% atau sebanyak 202.376 unit selama 10 bulan terakhir.

Posisi kedua ada Daihatsu dengan total penjualan 107.090 unit setara dengan 16,8%, lalu di posisi ketiga ada Mitsubishi Motors dengan total penjualan 56.516 unit atau 8,9%.

Sementara untuk posisi keempat ada Honda yang menjual 50.270 unit atau 7,9% dan kelima diduduki Suzuki dengan total penjualan 49.803 unit setara 7,8%.

Meski kondisi penjualan mobil lesu dibandingkan 2024, namun dia berharap kinerja penjualan mobil di Indonesia pada 2026 bisa naik. “Mudah-mudahan membaik ya,” ujarnya.

Penjualan mobil di Indonesia tak hanya dihiasi oleh merek Jepang, namun juga diisi dengan merek asal Cina. Berdasarkan data Gaikindo, hingga Oktober 2025 jumlah penjualan mobil BYD dengan total 30.670 unit, kemudian ada Hyundai-HMID sebanyak 16.594 unit.

Tak hanya penjualan, Jongkie juga membahas tentang keberadaan mobil listrik di Indonesia. Jongkie mengatakan, masyarakat saat ini memang mulai melirik mobil listrik dengan harga terjangkau. 

Kendati demikian, penggunaan kendaraan listrik di Indonesia saat ini menghadapi kendala. “Terkait kurangnya infrastruktur atau stasiun pengisian kendaraan listrik umum yang (jumlahnya) masih sangat kurang,” ucapnya.

Berdasarkan data PT PLN (Persero), hingga November 2025 perusahaan telah mengoperasikan 4.400 unit SPKLU di 2.700 lokasi di seluruh Indonesia.

Revisi Target

Jongkie sebelumnya mengungkapkan sejumlah produsen mobil mulai merevisi target penjualan tahun ini, seiring penurunan kinerja penjualan hingga kuartal ketiga 2025. Pameran Jakarta Auto Week yang akan digelar pada November mendatang disebut menjadi penentu arah industri otomotif nasional pada akhir tahun.

"Arah masukan anggota Gaikindo sejauh ini revisi target, tapi kami masih menunggu masukan seluruh produsen mobil sebelum merevisi target penjualan. Selain itu, kami berharap ada peningkatan penjualan dalam Jakarta Auto Week pada akhir November 2025," katanya kepada Katadata.co.id, Rabu (29/10).

Jongkie menilai daya beli masyarakat masih menjadi faktor utama penentu kinerja industri otomotif ke depan. Ia belum dapat memproyeksikan apakah pelemahan daya beli yang menekan penjualan tahun ini akan berlanjut ke 2026.

Sebelumnya, Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara juga menilai tren penjualan mobil di paruh kedua tahun ini masih lesu, termasuk untuk segmen kendaraan listrik. 

"Sinyal optimisme penjualan semester masih bercampur, namun penjualan Juli-Desember 2025 cenderung berat," kata Kukuh kepada Katadata.co.id, Kamis (10/7).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...