Natal Tak Lagi Manis Bagi Industri Mainan Lokal, Produk Impor Ilegal Merajalela
Momentum Natal yang biasanya mendongkrak penjualan. kini tak lagi dirasakan industri mainan lokal. Sejak pandemi Covid-19, lonjakan permintaan Desember kini dinikmati produk impor ilegal.
Asosiasi Mainan Indonesia atau AMI menyampaikan industri mainan umumnya mengalami peningkatan permintaan hingga 25% dibandingkan bulan biasa tiap Desember. Namun lonjakan permintaan tersebut kini dinikmati mainan impor ilegal sejak pandemi Covid-19 sampai saat ini.
"Industri mainan anak saat ini ibarat mati tak mau, hidup pun segan akibat mainan impor ilegal dari Cina yang masuk melalui lokapasar," kata Ketua Umum AMI Sutjiadi Lukas kepada Katadata.co.id, Selasa (23/12).
Lukas menyampaikan industri mainan domestik kini lesu sepanjang tahun akibat mainan asal Negeri Panda yang tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia yang telah berlaku wajib. Menurutnya, mainan impor ilegal tersebut menggunakan skema impor yang sama dengan garmen impor ilegal, yakni impor borongan.
Impor borongan dinilai membuat petugas Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan tidak memeriksa setiap mainan impor asal Negeri Tirai Bambu. Kondisi tersebut diperburuk dengan oknum kepolisian yang mencari-cari kesalahan industri mainan lokal terkait pemenuhan SNI wajib.
Alhasil, utilisasi industri mainan kini anjlok dari posisi setidaknya 95% pada 2019 menjadi 75% saat ini. Penurunan utilisasi tersebut membuat banyak pabrik mainan kini menghentikan produksinya untuk mengurangi beban operasional.
Kementerian Perindustrian mendata total tenaga kerja yang diserap industri mainan menembus 37.000 orang di 204 pabrik pada tahun lalu.
"Bahkan sudah ada pabrik yang gulung tikar akibat impor mainan ilegal dari Cina. Namun saya tidak enak menyebutkan pabrik apa saja yang sudah tutup," katanya
Ekspor Tetap Tumbuh
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan kinerja industri mainan di pasar ekspor menunjukkan pertumbuhan positif sejak 2019. Hal tersebut tercermin dari peningkatan nilai ekspor mainan sebesar 13,8% secara tahunan menjadi US$ 610 juta pada tahun lalu.
Secara global, pangsa pasar mainan nasional mencapai 0,48% atau ada di peringkat ke-22 dari 195 negara produsen mainan. Adapun negara tujuan utama ekspor mainan lokal adalah Amerika Serikat.
Hal tersebut membuat pangsa pasar mainan asal Indonesia di Negeri Paman Sam mencapai 2% atau senilai US$ 289 juta pada tahun lalu. Jenis produk mainan anak nasional yang menjadi unggulan ekspor ke Amerika Serikat antara lain boneka, stuffed toys, mainan lainnya, mainan skala/model, dan mainan blok set.
“Hal ini mengindikasikan masih besarnya peluang ekspor Indonesia untuk penetrasi ke pasar domestik Amerika Serikat,” kata Agus dalam keterangan resmi yang dikutip Selasa (23/12).
