GOPAN Waspadai Dampak Impor 580 Ribu Grandparent Stocks dari AS
Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Sugeng Wahyudi, menanggapi rencana impor 580 ribu ekor ayam Grand Parent Stock (GPS) dari Amerika Serikat (AS) dalam kerangka perjanjian dagang resiprokal. Ia menilai impor GPS bukan hal baru, namun tetap perlu perhitungan cermat agar tidak berdampak negatif bagi peternak domestik.
Sugeng mengatakan, dampak impor GPS tidak akan langsung terasa. GPS merupakan indukan yang akan menghasilkan parent stock (PS), yang kemudian menghasilkan final stock (FS) atau ayam broiler siap potong. Proses hingga menjadi ayam pedaging membutuhkan waktu sekitar dua tahun.
“Nah, ini yang menjadi problem kalau perhitungannya tidak cermat. Karena nanti bisa menimbulkan kelebihan pasok jika tidak dihitung dengan benar,” ujar Sugeng kepada Katadata.co.id, Rabu (25/2).
Menurutnya, Indonesia setiap tahun memang mengimpor sekitar 500 ribu hingga 800 ribu ekor GPS untuk memenuhi kebutuhan bibit di hulu industri perunggasan. Ia menilai langkah tersebut masih dalam batas kebutuhan normal untuk penguatan industri unggas nasional.
Meski begitu ia mengingatkan, apabila produksi ayam broiler melonjak tanpa perencanaan yang matang, potensi kelebihan pasok (oversupply) bisa menekan harga di tingkat peternak.
Waspadai Impor Karkas Ayam
Lebih jauh, Sugeng menilai ancaman yang lebih besar justru datang jika pemerintah membuka keran impor karkas atau daging ayam dari AS.
“Yang harus dicegah saya kira impor karkas atau daging ayam dari Amerika. Kalau itu terjadi, akan berdampak pada peternak, bahkan industri unggas pada umumnya,” tegasnya.
Ia menilai impor karkas berpotensi memicu persaingan tidak seimbang, terutama karena tingkat efisiensi produksi dalam negeri dinilai masih kalah dibandingkan produsen besar di luar negeri.
Selain itu, industri perunggasan nasional memiliki peran penting dalam menyerap tenaga kerja. “Kalau karkas dari Amerika Serikat datang, dampaknya tidak bagus bagi industri peternakan di Indonesia. Yang paling merasakan dampaknya saya kira pelaku-pelaku kecil,” ujarnya.
Sebagai informasi, Perjanjian Perdagangan Resiprokal Indonesia–Amerika Serikat atau Agreement on Reciprocal Trade (ART), Indonesia menyetujui impor produk ayam AS dalam bentuk live poultry, yakni untuk kebutuhan Grand Parent Stock (GPS) sebanyak 580 ribu ekor (dengan estimasi nilai sekitar US$ 17-20 juta atau sekitar Rp 285,5 miliar-Rp 335,9 miliar).
