Kinerja Industri Tekstil Domestik Lesu Walaupun Konsumsi Pakaian Meningkat
Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin) mencatat konsumsi rumah tangga untuk produk pakaian dan alas kaki tidak berbanding lurus dengan kinerja industri tekstil dan pakaian jadi di dalam negeri. Saat konsumsi melonjak, kinerja industri pakaian dalam negeri justru lesu.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, mengatakan terdapat perbedaan cakupan antara data konsumsi rumah tangga dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan data Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang dipaparkan secara agregat.
“Kami mencermati data BPS yang di-launching pada awal Februari lalu, terutama terkait demand subsektor industri pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya,” ujar Febri dalam konferensi pers, di Jakarta Selatan, Kamis (26/2).
Berdasarkan publikasi BPS, konsumsi rumah tangga untuk pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya tumbuh 2,73% pada 2024. Angka tersebut meningkat signifikan menjadi 4,52% pada 2025.
"Secara nilai produk domestik bruto (PDB) harga konstan tahun dasar 2020, konsumsi sektor ini tercatat sekitar Rp 258 triliun pada 2025, naik dibandingkan Rp 247 triliun pada 2024," kata Febri.
Namun di sisi lain, berdasarkan nilai IKI yang dirilis Kemenperin, subsektor industri ini justru mengalami kontraksi. “Kami juga mencermati perkembangan IKI, terutama pada IKI industri yang berorientasi pasar domestik,” kata dia.
Ia menilai peningkatan permintaan tersebut tidak sepenuhnya dipenuhi oleh industri pakaian jadi yang menyasar pasar domestik.
“Kenaikan yang besar di tahun 2025 itu ternyata demand-nya tidak dipenuhi oleh produk industri pakaian jadi dalam negeri,” kata dia, merujuk pada pemenuhan kebutuhan oleh barang impor.
Febri menyatakan, industri pakaian jadi terbagi menjadi dua segmen utama, yakni industri berorientasi ekspor dan industri berorientasi pasar domestik. Menurutnya, data IKI yang menunjukkan ekspansi industri pakaian jadi secara umum lebih banyak ditopang oleh kinerja industri yang berorientasi ekspor.
Industri Pakaian Jadi Berorientasi Domestik Alami Kontraksi
Jika data IKI dielaborasi lebih dalam, akan terlihat bahwa industri pakaian jadi yang berorientasi domestik justru mengalami kontraksi pada beberapa bulan di 2025.
Kontraksi yang dimaksud Febri merujuk pada nilai perkembangan subsektor tekstil dalam indikator IKI. Beberapa subsektor tekstil mengalami kontraksi dalam catatan industri tengah lesu, produksi turun, ataupun permintaan melemah.
Berdasarkan IKI, Kemenperin mencatat Industri Tekstil (KBLI 13) mengalami masa sulit atau fase kontraksi pada Oktober dan November 2025. Sementara itu, Industri Pakaian Jadi (KBLI 14) berhasil mempertahankan kondisi ekspansi di setiap bulan sepanjang tahun 2025 tanpa satu pun catatan kontraksi.
Di sisi lain, Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki (KBLI 15) tercatat mengalami kontraksi selama tiga bulan berturut-turut, yaitu pada bulan April, Mei, dan Juni 2025.
“Kalau data dielaborasi lebih dalam dan dibagi antara industri pakaian jadi berorientasi ekspor dan berorientasi pasar domestik, maka akan terlihat adanya kontraksi, terutama pada industri pakaian jadi yang berorientasi domestik,” katanya.
