Avtur Naik, Tiket Pesawat Ikut Naik? Ini Respons Garuda Indonesia

Kamila Meilina
31 Maret 2026, 14:30
Mobil tangki mengisi bahan bakar pesawat di Bandara Internasional Lombok di Praya, Lombok Tengah, NTB, Jumat (13/3/2026). Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) memprediksi konsumsi Avtur untuk penerbangan di
ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/rwa.
Mobil tangki mengisi bahan bakar pesawat di Bandara Internasional Lombok di Praya, Lombok Tengah, NTB, Jumat (13/3/2026). Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) memprediksi konsumsi Avtur untuk penerbangan di Jatimbalinus periode mudik lebaran 2026 turun sebesar 6,1 persen dari rerata normal harian 3.316 KL per hari dikarenakan tidak terdapatnya penerbangan komersil saat Hari Raya Nyepi di Bandara Ngurah Rai dan adanya cancel flight rute Timur Tengah.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Garuda Indonesia menyiapkan sejumlah langkah efisiensi dan mitigasi operasional menyusul potensi kenaikan harga avtur akibat dinamika geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah.

“Garuda Indonesia menegaskan komitmennya dalam menjalankan pengelolaan biaya secara disiplin dan prudent melalui pendekatan yang adaptif, terukur, dan berorientasi pada optimalisasi kinerja,” ujar Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Oentoro, dalam keterangannya yang diterima Katadata.co.id, Selasa (31/3).

Menurut dia, langkah mitigasi yang disiapkan perusahaan mencakup optimalisasi pengelolaan bahan bakar serta efisiensi biaya operasional sebagai upaya menjaga keseimbangan terhadap potensi tekanan kinerja akibat kenaikan harga avtur.

Meski demikian, perusahaan belum mengonfirmasi terkait adanya kenaikan harga tiket dan layanan maskapai yang berimbas kepada penumpang secara langsung. 

Bahan bakar merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam struktur biaya operasional penerbangan. Di tengah kenaikan biaya energi ini, perusahaan berupaya melakukan penghematan biaya namun tetap menjaga keuangan perusahaan dan operasional tetap berjalan. 

Perusahaan juga terus mengevaluasi langkah-langkah yang diambil agar bisa menyesuaikan diri dengan kondisi industri penerbangan yang terus berubah. Manajemen juga akan berfokus pada pengendalian biaya dan optimalisasi arus kas perusahaan. 

Dari sisi operasional, Garuda Indonesia memastikan kebutuhan konektivitas masyarakat tetap terpenuhi secara optimal. 

“Manajemen juga memperkuat konsolidasi internal bersama seluruh jajaran karyawan, termasuk anak dan cucu perusahaan, guna mengakselerasi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan operasional,” kata Thomas.

Di tengah langkah mitigasi itu, Garuda Indonesia juga memandang penguatan ekosistem industri melalui kerja sama dan sinergi yang lebih erat dengan para pemangku kepentingan di sektor aviasi nasional menjadi faktor kunci dalam menjaga resiliensi industri penerbangan di tengah tekanan global saat ini.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...