Indeks Harga Pangan Dunia Naik 2,4%, Dipicu Lonjakan Biaya Energi Imbas Perang

Kamila Meilina
7 April 2026, 08:47
Pekerja memikul karung berisi beras saat bongkar muat di Gudang Bulog Ternate, Maluku Utara, Senin (6/4/2026). Kementerian Pertanian menyebutkan stok cadangan beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog tetap stabil dan saat ini mencapai 4,5 juta ton d
ANTARA FOTO/Andri Saputra/sg
Pekerja memikul karung berisi beras saat bongkar muat di Gudang Bulog Ternate, Maluku Utara, Senin (6/4/2026). Kementerian Pertanian menyebutkan stok cadangan beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog tetap stabil dan saat ini mencapai 4,5 juta ton di tengah adanya gejolak Timur Tengah sehingga ketahanan pangan nasional tetap terjaga dan aman.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks harga pangan global mencatat kenaikan pada Maret 2026, didorong oleh lonjakan harga energi seiring eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan laporan terbaru Food and Agriculture Organization (FAO), Indeks Harga Pangan FAO tercatat sebesar 128,5 poin pada Maret, naik 2,4% dibandingkan Februari dan 1,0% lebih tinggi secara tahunan.

"Harga komoditas pangan dunia naik pada bulan Maret untuk dua bulan berturut-turut, sebagian besar karena harga energi yang lebih tinggi terkait dengan eskalasi konflik di Timur Dekat," demikian dikutip dari laman resmi FAO, Selasa (7/4).  

Harga pangan dunia naik terutama karena harga minyak mentah meningkat. Kenaikan ini membuat biaya produksi dan distribusi pangan ikut naik, termasuk harga pupuk dan ongkos transportasi.

Secara rinci, harga serealia naik 1,5% dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan ini terutama dipicu oleh harga gandum yang melonjak 4,3% akibat kekeringan di Amerika Serikat serta kemungkinan berkurangnya penanaman di Australia karena pupuk mahal.

Sementara itu, harga jagung cenderung stabil karena pasokan global masih cukup, meski ada dorongan dari meningkatnya permintaan bioetanol. Berbeda dengan itu, harga beras justru turun 3,0% karena sedang musim panen, permintaan impor melemah, dan nilai tukar sejumlah mata uang terhadap dolar AS menurun.

Kepala Ekonom FAO, Máximo Torero, mengatakan bahwa kenaikan harga sejauh ini masih tergolong moderat karena ditopang oleh pasokan serealia global yang cukup. Namun, ia mengingatkan risiko ke depan jika konflik berlangsung lebih lama.

“Jika konflik berlanjut lebih dari 40 hari di tengah tingginya biaya input dan margin yang rendah, petani akan dihadapkan pada pilihan sulit: mengurangi penggunaan input, mengurangi luas tanam, atau beralih ke komoditas yang lebih hemat pupuk. Keputusan ini akan berdampak pada hasil panen dan pasokan pangan ke depan,” ujarnya, dikutip Selasa (7/4).

Di sisi lain, Indeks Harga Minyak Nabati mencatat kenaikan signifikan sebesar 5,1% secara bulanan dan melonjak 13,2% dibandingkan tahun lalu. Kenaikan terjadi pada hampir seluruh jenis minyak nabati, termasuk sawit, kedelai, bunga matahari, dan rapeseed, seiring meningkatnya permintaan biofuel akibat harga minyak yang tinggi.

Indeks harga gula juga melonjak paling tinggi, yakni 7,2% pada Maret. Kenaikan ini dipicu oleh ekspektasi bahwa Brasil akan mengalihkan lebih banyak tebu untuk produksi etanol sebagai respons terhadap mahalnya harga energi global.

Sementara itu, indeks harga daging naik 1,0%, terutama didorong oleh kenaikan harga daging babi di Uni Eropa dan daging sapi dari Brasil. Sebaliknya, harga daging unggas dan domba mengalami penurunan akibat kendala logistik di kawasan Timur Tengah. Adapun indeks harga produk susu naik 1,2%, dipicu oleh kenaikan harga susu bubuk di tengah penurunan pasokan musiman di Oseania.

Di tengah kenaikan harga, FAO menilai kondisi pasokan pangan global masih relatif aman. Produksi serealia dunia pada 2025 diperkirakan mencapai 3,036 miliar ton atau naik 5,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, produksi beras global diproyeksikan tumbuh 2,0% menjadi rekor 563,3 juta ton.



add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...