Pupuk Indonesia akan Bangun 2 Pabrik Metanol untuk Dukung B50

Kamila Meilina
7 April 2026, 15:29
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, dalam Indonesia Future Policy Dialogue: Telaah Arah Pemerintahan Baru di Jakarta, Rabu (9/10).
Katadata
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, dalam Indonesia Future Policy Dialogue: Telaah Arah Pemerintahan Baru di Jakarta, Rabu (9/10).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

 PT Pupuk Indonesia (Persero) menyatakan akan membangun dua pabrik metanol guna mendukung program transisi energi menuju biodiesel 50 persen (B50). Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan impor metanol sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengatakan pembangunan pabrik tersebut merupakan penugasan pemerintah dalam rangka mendukung konversi crude palm oil (CPO) menjadi biofuel. Dua pabrik itu akan dibangun di Aceh dan Kalimantan Timur.

“Kami ditugaskan untuk mendukung transisi menuju B50, di mana B50 itu membutuhkan dua pabrik metanol supaya bisa mengkonversi dari CPO menjadi biofuel,” ujarnya dalam Rapat Kerja dengan Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (7/4).

Saat ini, kebutuhan metanol nasional masih sangat bergantung pada impor yang mencapai sekitar 1,5 juta ton per tahun. Tanpa pembangunan pabrik baru, impor diperkirakan meningkat hingga 2,5 juta ton.

Rahmad menjelaskan, dua pabrik metanol tersebut akan dibangun di dua lokasi strategis, yakni di Lhokseumawe, Aceh dan Bontang, Kalimantan Timur, tepatnya di kawasan industri yang telah memiliki infrastruktur pendukung seperti pelabuhan dan akses energi.

“Lokasi dipilih karena sumber gas tersedia dan kawasan industrinya sudah ada, sehingga pembangunan bisa lebih cepat,” katanya.

Ia menambahkan, proyek tersebut telah mendapatkan persetujuan pemerintah dan kini tengah dalam tahap persiapan, termasuk kerja sama dengan mitra strategis. Salah satunya melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan perusahaan energi global Mubadala Energy, serta koordinasi dengan pemerintah daerah Kalimantan Timur.

Pembangunan kedua pabrik diperkirakan memakan waktu sekitar 40 bulan. Meski demikian, Rahmad belum merinci nilai investasi (capex) proyek tersebut karena masih dalam tahap perhitungan.

Selain mendukung transisi energi, Pupuk Indonesia juga memastikan pasokan pupuk dalam negeri tetap menjadi prioritas utama. Saat ini, produksi urea nasional mencapai hampir 8 juta ton dengan kebutuhan domestik sekitar 6,3 juta ton, sehingga terdapat surplus yang dapat diekspor.

“Yang pertama harus dipastikan adalah kebutuhan domestik aman. Setelah itu baru kita alokasikan untuk ekspor ke negara-negara sahabat,” ujarnya.

Rahmad menyebut, ekspor pupuk Indonesia berpotensi meningkat di tengah terganggunya pasokan global, terutama dari kawasan Timur Tengah yang selama ini menyuplai sekitar 10 juta ton urea melalui Selat Hormuz.



add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...