Dilema Pelaku UMKM Terjepit Lonjakan Harga Plastik
Kenaikan harga plastik tak hanya menjadi isu di tingkat industri, tetapi sudah terasa hingga ke lapisan paling bawah pelaku usaha mikro. Di toko plastik dan pedagang kecil, harga berubah cepat, margin tergerus, dan ketidakpastian terasa.
Pemilik usaha toko plastik, Restu Anggi (42), mengaku kenaikan harga terjadi hampir di seluruh produk yang ia jual. Bahkan, untuk beberapa jenis plastik pembungkus, lonjakannya mencapai 50% di tingkat konsumen.
“Yang paling terasa itu plastik bening untuk bungkus, seperti buat es, laundry, itu naiknya luar biasa,” kata Restu saat ditemui di tokonya, Kamis (9/4). Sehari-hari, toko Restu di wilayah Bojonggede menjual aneka peralatan plastik seperti plastik pembungkus kemasan hingga berbagai alat makan plastik.
Ia mencontohkan, harga plastik yang sebelumnya dijual Rp33 ribu per pak kini melonjak menjadi Rp 53 ribu. Di sisi lain, harga modal yang ia keluarkan juga ikut naik tajam, dari Rp 28 ribu menjadi Rp 50 ribu per pak.
Kenaikan tak hanya terjadi pada plastik pembungkus. Produk lain seperti sendok plastik, gelas plastik, hingga wadah makanan berbahan plastik (thinwall) juga ikut terdampak. Harga wadah makanan berbahan plastik yang sebelumnya Rp 25 ribu per pak kini naik menjadi Rp 35 ribu.
Lonjakan harga ini mulai terasa sekitar sepekan sebelum Lebaran. Awalnya, Restu mengira kenaikan tersebut hanya bersifat musiman. Namun, tren harga plastik justru terus menanjak.
“Dari grup asosiasi jualan, itu tiap jam ada info harga baru. Harga tadi malam bisa beda sama siang ini. Kami penjual jadi tertekan,” ujarnya.
Penjual Masih Harus Tahan Harga
Dalam kondisi seperti ini, menaikkan harga jual bukan perkara mudah. Restu mengaku tetap menyesuaikan harga bagi konsumen, tetapi tidak berani menaikkan secara drastis. Alhasil, margin keuntungan harus dikorbankan.
“Biasanya ambil margin 15%, sekarang maksimal cuma bisa 8%. Itu pun untuk minggu ini, belum tahu kalau minggu depan naik lagi,” katanya.
Tekanan tak hanya datang dari sisi biaya, tetapi juga dari konsumen. Banyak pelanggan, terutama pedagang kecil, mulai mengeluhkan kenaikan harga kemasan.
“Yang paling terasa itu pedagang makanan dan minuman. Mereka sekali belanja langsung terasa naiknya,” ujarnya.
Ia pun mulai khawatir akan dampak lanjutan terhadap omzet. Jika pedagang kecil mulai mengurangi pembelian karena terbebani biaya kemasan, maka permintaan di tingkat toko plastik juga ikut menurun.
“Takutnya ini efek domino. Kalau mereka enggak kuat modal, ke kami juga pasti berkurang,” kata Restu.
Kondisi serupa dirasakan Yanto (35), penjual es teh yang mengandalkan kemasan plastik untuk berjualan. Ia mengaku harga gelas plastik yang biasanya Rp5.000–Rp6.000 per pak kini naik menjadi sekitar Rp9.000.
“Belum lagi plastik bungkusannya, itu juga naik. Sekarang saya tanya dulu ke pembeli, mau pakai plastik atau tidak,” kata Yanto.
Meski begitu, untuk produk minuman dalam gelas plastik, ia tetap harus mengeluarkan biaya tambahan. Di sisi lain, harga jual es teh masih bertahan di Rp5.000 per gelas.
“Kalau dinaikkan, susah. Pembeli bisa kabur. Jadi, terpaksa kami yang potong profit,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Indra, penjual gorengan di sekitar lokasi yang sama. Ia menyebut harga plastik pembungkus naik dari Rp10 ribu menjadi Rp16 ribu per pak.
“Memang isinya banyak, tapi tetap terasa waktu beli stok,” kata Indra.
Seperti pelaku usaha lainnya, ia juga belum menaikkan harga jual produknya. Namun, rencana itu mulai dipertimbangkan.
Strategi Bertahan di Tengah Tekanan
Sekretaris Jenderal Asosiasi UMKM Indonesia, Edy Misero, menilai kondisi ini menunjukkan betapa pentingnya plastik dalam rantai ekonomi UMKM. Kenaikan harga bahan baku, terutama biji plastik, akan berdampak luas.
“Plastik itu sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Jadi apapun pergerakannya, termasuk kesulitan impor biji plastik, pasti berdampak,” ujar Edy.
Menurut dia, pelaku UMKM saat ini berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, biaya produksi meningkat. Di sisi lain, mereka harus menjaga harga tetap terjangkau agar tidak kehilangan pembeli.
“Salah satu alternatifnya menaikkan harga seminimal mungkin. Kedua, mengurangi margin profit, misalnya dari 15% menjadi 10%,” katanya.
Strategi ini, menurut Edy, menjadi cara bertahan di tengah tekanan biaya sekaligus kekhawatiran melemahnya daya beli masyarakat. Namun, konsekuensinya jelas: ruang keuntungan semakin menipis.
Ia juga mengingatkan bahwa dampak kenaikan harga plastik tidak merata. UMKM yang menjadikan plastik sebagai bahan baku utama akan terdampak lebih besar dibandingkan yang hanya menggunakannya sebagai pembungkus.
Meski begitu, hampir semua pelaku usaha tetap merasakan imbasnya. Kenaikan biaya pada akhirnya akan mengalir ke harga produk di tingkat konsumen.
Di tengah situasi ini, Edy mendorong pemerintah untuk mempercepat langkah penanganan, termasuk melalui pengelolaan limbah plastik agar dapat didaur ulang menjadi bahan baku baru.
“Kalau bisa diolah kembali, itu bisa mengurangi ketergantungan impor,” ujarnya.


Produk UMKM Unggulan 