Harga Air Minum dalam Kemasan Berpotensi Naik 45% Imbas Lonjakan Harga Plastik

Kamila Meilina
10 April 2026, 17:51
plastik, air minum, air minum dalam kemasan
ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/tom.
Pekerja melakukan bongkar muat galon air mineral di Kalibata, Jakarta, Jumat (3/4/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Perkumpulan Pengusaha Air Dalam Kemasan Nusantara (AMDATARA) memperkirakan harga air minum dalam kemasan (AMDK) berpotensi naik signifikan seiring lonjakan harga bahan baku plastik yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir, mencapai 35–45%.

Ketua Umum AMDATARA, Karyanto Wibowo, menjelaskan lonjakan harga bahan baku kemasan plastik berbasis minyak bumi dinilai menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan biaya produksi. Sebab, lebih dari 99% plastik global diproduksi dari bahan bakar fosil, sehingga kenaikan harga energi langsung berdampak pada industri kemasan.

“Kami menyampaikan keprihatinan serius atas tekanan yang semakin berat terhadap industri AMDK akibat lonjakan harga bahan baku kemasan, terutama plastik berbasis minyak bumi,” ujar Karyanto kepada Katadata.co.id, Jumat (10/4).

Menurut data AMDATARA, harga bahan baku plastik seperti Polietilena Tereftalat (PET) resin, high density polyethylene (HDPE), dan polipropilen (PP) telah melonjak antara 25 hingga 70%, bahkan mencapai 100% untuk beberapa jenis material sejak awal April 2026. Kondisi ini membuat biaya produksi AMDK meningkat tajam dan berpotensi mendorong kenaikan harga jual di tingkat konsumen dalam waktu dekat.

Lonjakan harga ini dipicu oleh gangguan pasokan petrokimia global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.

Produsen AMDK Skala Kecil Terancam Berhenti Produksi

Selain berdampak pada harga, AMDATARA juga mengingatkan adanya potensi kelangkaan bahan baku yang mulai dirasakan produsen. Sejumlah pelaku usaha, khususnya UMKM di sektor AMDK, bahkan terancam tidak dapat melanjutkan produksi dalam satu hingga dua bulan ke depan.

“Tanpa solusi, kami khawatir akan terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang mengancam puluhan ribu lapangan kerja di industri hilir plastik dan AMDK,” kata Karyanto.

AMDATARA menekankan bahwa industri AMDK memiliki peran penting sebagai penyedia air minum aman bagi masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah. Kenaikan harga yang signifikan dinilai berpotensi menekan daya beli sekaligus mengganggu akses masyarakat terhadap air minum yang terjangkau.

Untuk itu, AMDATARA mendesak pemerintah segera mengambil langkah intervensi guna meredam dampak kenaikan harga bahan baku. Sejumlah usulan yang diajukan antara lain relaksasi pajak pertambahan nilai (PPN) kemasan dari 11% menjadi 8% atau lebih rendah, pembebasan Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) untuk resin impor, serta pemberian stimulus pajak dan insentif likuiditas bagi UMKM.

Selain itu, pemerintah juga diminta mempercepat pembukaan sumber pasokan alternatif serta mendukung pengembangan bahan baku plastik daur ulang (rPET) yang memenuhi standar food-grade.

“Tanpa intervensi cepat, kelangsungan ribuan usaha kecil dan menengah di sektor AMDK terancam,” ujar Karyanto.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...