Apindo Wanti-wanti Ancaman Stagflasi di Tengah Lonjakan Harga Bahan Baku

Kamila Meilina
14 April 2026, 15:52
Wakil Presiden Direktur PT Toyota Manufacturing Indonesia, Bob Azam.
Antara/Sella Panduarsa Gareta.
Wakil Presiden Direktur PT Toyota Manufacturing Indonesia, Bob Azam.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengingatkan potensi ancaman stagflasi di tengah lonjakan harga bahan baku dan melemahnya daya beli masyarakat. Kondisi ini dinilai dapat menekan kinerja industri sekaligus memperburuk kondisi ekonomi secara keseluruhan.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam, mengatakan dunia usaha saat ini harus bersiap menghadapi berbagai kemungkinan akibat ketidakpastian pasokan dan harga bahan baku.

“Segala kemungkinan bisa terjadi. Jadi kita harus siap,” ujar Bob, ditemui usai rapat dengan Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Selasa (14/4). 

Bob menyebut kondisi ini terjadi di hampir seluruh sektor industri, terutama yang bergantung pada bahan baku impor seperti nafta dan gas. Industri plastik menjadi salah satu yang paling terdampak karena bahan bakunya berasal dari turunan minyak tersebut.

Apindo disebut mencatat banyak keluhan dari pelaku usaha terkait lonjakan harga bahan baku, khususnya plastik. Namun, dunia usaha diharapkan tetap menahan kenaikan harga jual di tengah kondisi daya beli masyarakat yang sedang melemah.

“Kami berharap di masa sulit ini jangan sampai menaikkan harga, karena daya beli masyarakat juga sedang tidak bagus,” ujarnya.

Menurut Bob, kenaikan biaya produksi sebaiknya diserap melalui efisiensi internal perusahaan, bukan dibebankan ke konsumen. Ia mengingatkan bahwa kombinasi kenaikan harga dan penurunan daya beli dapat memicu stagflasi.

“Kalau harga naik, tapi daya beli turun, itu stagflasi. Ini yang harus kita hindari,” kata dia. Ia merujuk pada kondisi stagflasi di mana kombinasi pertumbuhan melambat, namun tingkat pengangguran dan inflasi tinggi di saat yang bersamaan. 

Hal ini sebab, gangguan pasokan bahan baku berpotensi menyebabkan pola produksi yang tidak stabil, terutama bagi industri yang bergantung pada impor. Kondisi ini dapat memicu situasi “stop and go” dalam kegiatan produksi.

“Bisa saja karena bahan bakar atau bahan baku, kita seperti stop and go. Begitu ada bahan kita jalan, begitu tidak ada kita berhenti,” katanya.

Meski demikian, ia menilai Indonesia sebenarnya memiliki potensi kemandirian yang tinggi dengan sumber daya yang melimpah. Situasi ini dinilai bisa menjadi momentum untuk memperkuat industri dalam negeri.

“Indonesia sebenarnya bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Ini momentum untuk membangun kekuatan kita,” kata Bob.

Untuk itu, Apindo mendorong adanya peran bersama antara pelaku usaha, pemerintah, dan pekerja. Dunia usaha diharapkan mampu meningkatkan efisiensi, sementara pemerintah diminta menyederhanakan regulasi, khususnya terkait impor bahan baku.

“Jangan sampai impor dipersulit dengan kuota. Ketika kuota ada, barangnya justru tidak tersedia. Ini harus lebih fleksibel,” katanya.

Ia menambahkan, lonjakan harga bahan baku seperti plastik yang bisa mencapai 60 hingga 70% berpotensi berdampak luas, mengingat hampir seluruh produk, terutama makanan, bergantung pada kemasan plastik.

Meski demikian, Apindo berharap pelaku usaha tidak serta-merta melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sebagai respons terhadap tekanan biaya.

“Jangan cepat-cepat PHK,” kata Bob.

Ke depan, Apindo juga melihat adanya peluang untuk mengembangkan bahan substitusi sebagai alternatif pengganti plastik. Menurutnya, setiap tekanan dalam industri dapat membuka ruang inovasi baru.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...