Investigasi Kecelakaan KRL Bekasi: Masinis Terima Sinyal Hijau tapi Diminta Rem
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap detik-detik sebelum terjadinya tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di kawasan Stasiun Bekasi Timur.
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menjelaskan bahwa pada momen sebelum kecelakaan, masinis menerima aspek sinyal hijau dan tetap berada dalam instruksi untuk melakukan pengereman secara bertahap.
Ia menyebut bahwa KA Agro Promo saat melintas berada dalam kondisi sinyal hijau. Namun, lembaga tersebut menegaskan bahwa aspek teknis sinyal dan pengaturan perjalanan masih akan didalami lebih lanjut dalam tahap analisis berikutnya.
“Masinis mendapatkan lampu hijau dan tetap mengikuti instruksi operasional berupa pengereman bertahap,” kata Soerjanto dalam rapat bersama Komisi V DPR RI, Kamis (21/5).
Ia memaparkan urutan pergerakan beberapa rangkaian kereta yang terlibat di Stasiun Bekasi dan Bekasi Timur. Salah satunya, KA 5568A Commuter Line tercatat berangkat dari Stasiun Bekasi menuju Bekasi Timur dan sempat melakukan proses naik turun penumpang sebelum kejadian berlangsung.
Pada pukul 20.48.29, terjadi insiden awal berupa tabrakan antara KA 5181 Commuter Line dengan kendaraan bermotor roda empat di jalur 3.
Setelah peristiwa itu, KA 5568A masih berada di area stasiun untuk proses pelayanan penumpang, namun pergerakannya disebut turut terdampak oleh kondisi kerumunan di sekitar lokasi kejadian.
KNKT mencatat, dalam rentang waktu yang sangat singkat, yakni sekitar 3 menit 43 detik, terjadi rangkaian peristiwa lanjutan hingga tabrakan berikutnya melibatkan KA Agro Promo (KA4B) dengan rangkaian kereta lain pada pukul 20.52.12.
KNKT juga mencatat adanya perbedaan jadwal perjalanan. KA 5568A terlambat sekitar 8 menit, sementara KA Agro Promo lebih cepat sekitar 3 menit dari jadwal di Stasiun Bekasi Timur. Kondisi ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian dengan jadwal yang telah ditetapkan.
Sempat Lakukan Pengereman
Soerjanto mengungkap adanya upaya masinis KA Argo Bromo Anggrek untuk menghentikan laju kereta sebelum terjadi tabrakan dengan KRL di kawasan Stasiun Bekasi Timur.
Soerjanto menjelaskan, proses pengereman sudah mulai dilakukan sejak sekitar 1,3 kilometer sebelum lokasi kejadian. Informasi tersebut, kata dia, diterima masinis melalui pengendali perjalanan (PK Timur) yang mengatur jalur antara Manggarai hingga Cikampek.
“Sebetulnya masinis sudah mulai ngerem di 1,3 km sebelum lokasi tabrakan. Dia tahunya karena diinformasikan oleh PK Timur,” ujar Soerjanto dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Pernyataan tersebut kemudian didalami oleh Ketua Komisi V DPR RI Lasarus. Ia menanyakan apakah jarak 1,3 kilometer cukup untuk menghentikan laju kereta jarak jauh.
“Bentar, Pak, ini 1,3 km sudah ngerem?” tanya Lasarus.
“Sudah,” jawab Soerjanto.
Lasarus kemudian mempertanyakan kembali kebutuhan jarak pengereman ideal untuk kereta jarak jauh agar bisa berhenti sepenuhnya.
Menanggapi hal itu, Soerjanto menjelaskan bahwa pengereman maksimal kereta umumnya membutuhkan jarak sekitar 900 meter hingga 1 kilometer untuk dapat berhenti sepenuhnya.
“Kalau melakukan pengereman secara maksimal, itu kurang lebih antara 900 sampai 1.000 meter,” jelas Soerjanto.
