Pengusaha Ritel Pilih Tahan Harga Meski Biaya Operasional Naik

Kamila Meilina
8 Juni 2026, 22:09
ritel, mal, harga
Katadata/Fauza Syahputra
Suasana pengunjung di Mal Plaza Blok M, Jakarta Selatan, Rabu (25/3/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pelaku usaha ritel memilih menahan kenaikan harga meski menghadapi tekanan biaya operasional yang terus meningkat. Di tengah daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya dan periode penjualan yang melambat, pengusaha menilai menaikkan harga masih menjadi opsi terakhir.

Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, mengatakan industri ritel saat ini tengah menghadapi periode low season yang lebih panjang dibandingkan biasanya. 

"Tahun ini periode low season menjadi lebih panjang karena Ramadan dan Idulfitri datang lebih awal di triwulan satu," ujar Alphonzus dalam acara BINA Holiday & Back to School di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (8/6). 

Di saat penjualan belum maksimal, pelaku usaha justru harus menghadapi kenaikan berbagai biaya operasional. Menurut Alphonzus, tekanan biaya datang dari sektor logistik, kenaikan harga gas industri, hingga sejumlah pajak daerah yang meningkat.

Ia menjelaskan, biaya gas mengalami kenaikan karena harga compressed natural gas (CNG) memiliki komponen yang terkait dengan dolar Amerika Serikat. Pelemahan rupiah membuat beban operasional pusat perbelanjaan semakin besar.

"Namun di satu sisi kami tidak bisa begitu saja menaikkan biaya kepada para penyewa karena sedang berada di low season," katanya.

Selain itu, sejumlah pemerintah daerah disebut mulai menaikkan pajak untuk menambah pendapatan daerah setelah berkurangnya alokasi dana dari pusat. Menurutnya, kebijakan tersebut turut menambah beban operasional pelaku usaha.

Meski demikian, APPBI mengatakan bahwa menaikkan harga kepada konsumen bukan menjadi pilihan utama. Menurut Alphonzus, langkah tersebut justru berisiko semakin menekan daya beli masyarakat yang saat ini masih menghadapi berbagai tantangan ekonomi.

"Menaikkan harga itu adalah langkah terakhir di tengah situasi daya beli masyarakat yang sedang mengalami tekanan. Menaikkan harga menjadi opsi terakhir," ujarnya.

Sebagai alternatif, pelaku usaha memilih mendorong peningkatan transaksi melalui berbagai program promosi dan festival belanja. APPBI bersama pelaku usaha ritel tengah menyiapkan sejumlah agenda untuk menarik minat konsumen, mulai dari Festival Jakarta Great Sale, Solo Raya Great Sale, hingga Indonesia Shopping Festival yang akan digelar pada Agustus mendatang.

Menurut Alphonzus, berbagai program tersebut ditujukan untuk meningkatkan penjualan sekaligus menahan laju kenaikan harga di tingkat konsumen. "Kami berusaha semaksimal mungkin menahan kenaikan harga dengan cara mendorong penjualan semaksimal mungkin," katanya.

Ia berharap kondisi perlambatan konsumsi dapat membaik sebelum memasuki kuartal IV. Pasalnya, periode tersebut merupakan momentum penting bagi industri ritel untuk mengejar target penjualan tahunan.

Sementara itu, Ketua Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah, menilai sektor ritel masih memiliki potensi besar untuk tumbuh. Dia mengatakan, sekitar 40% omzet ritel nasional berasal dari Jakarta sehingga penguatan konsumsi dan investasi dinilai penting untuk menjaga kinerja sektor tersebut.

Hippindo bersama sejumlah mitra telah menginisiasi program business matching guna menarik lebih banyak produsen membuka pabrik di Indonesia. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat pasokan barang dalam negeri dan mendukung pertumbuhan industri ritel.

Hippindo juga mendorong sinergi antara program Belanja di Indonesia Aja dengan sektor pariwisata. Wisatawan dinilai dapat menjadi sumber tambahan konsumsi karena tidak hanya menggunakan layanan transportasi dan akomodasi, tetapi juga berbelanja selama berada di Indonesia.

"Wisatawan membawa devisa dan uang belanja. Mereka pasti menggunakan hotel, transportasi, dan berbelanja berbagai produk selama berada di Indonesia," ujar Budihardjo.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...