Produksi Beras Global Diprediksi Turun akibat Risiko El Nino
Produksi beras dunia pada musim 2026/2027 diperkirakan mengalami penurunan. Hal itu disebabkan ketidakpastian cuaca yang dipengaruhi potensi kemunculan fenomena El Nino serta tekanan terhadap profitabilitas sektor pertanian.
Berdasarkan laporan Food and Agriculture Organization (FAO) atau Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia, produksi beras global diproyeksikan mencapai 552,4 juta ton, turun 1,6% dibandingkan produksi pada musim 2025/2026 yang mencapai 562,6 juta ton.
“Semua wilayah kecuali Afrika diantisipasi untuk panen lebih sedikit daripada pada Tahun 2025/26,” tulis laporan tersebut, dikutip pada Senin (22/6)/
Kendati demikian, di kawasan Asia, penurunan produksi tidak akan terlalu signifikan. Ini disebabkan produksi ditopang ketersediaan air irigasi yang relatif baik, program bantuan yang berjalan, serta peningkatan dukungan terhadap input produksi.
Penurunan hasil panen ini dibayangi tingginya konsumsi masyarakat terhadap beras yang mencapai sekitar 558,1 juta ton pada musim 2026/2027, berpotensi menekan cadangan beras dunia.
Namun, stok yang tersedia dari musim sebelumnya diperkirakan masih cukup untuk menjaga keseimbangan pasokan. Cadangan beras global di akhir musim ini berada di angka 213,8 juta ton. Jumlah ini memang turun sekitar 2,7% dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi masih menjadi level cadangan tertinggi kedua sepanjang sejarah pencatatan.
Sementara itu, aktivitas perdagangan beras internasional diproyeksikan ikut melambat pada 2026. Volume perdagangan diperkirakan turun 2,1% menjadi 59,8 juta ton karena sejumlah negara masih memiliki pasokan dari panen besar sebelumnya maupun stok impor, sehingga kebutuhan pembelian dari pasar global berpotensi berkurang.
Sementara itu, perdagangan beras dunia diperkirakan ikut berubah. Persaingan pasar dan turunnya permintaan dari beberapa negara pembeli utama dapat menekan ekspor dari Kamboja, Cina, Pakistan, dan Amerika Serikat. Sebaliknya, Brasil, Myanmar, Uruguay, Vietnam, serta India diperkirakan meningkatkan ekspor beras ke pasar global.
Dari sisi harga, beras internasional mulai naik setelah sempat berada di titik terendah dalam delapan setengah tahun pada November 2025. Kenaikan ini didorong oleh berkurangnya tekanan panen, permintaan yang tetap kuat untuk beras premium seperti beras wangi dan Japonica, serta meningkatnya biaya produksi.
Meski harga mulai pulih, kenaikannya masih terbatas karena pasokan beras dunia tetap cukup besar. Indeks Harga Beras FAO tercatat 104,8 poin pada Mei 2026, naik 6,6 persen dibandingkan Oktober 2025, tetapi masih 1,4 persen lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
