Harga Gas Industri Naik, Dua Pabrik Keramik di Bekasi Terancam PHK 55 Ribu Orang

Kamila Meilina
23 Juni 2026, 14:27
Petugas memeriksa jaringan distribusi pipa gas di PT Kalimantan Jawa Gas (KJG) di kawasan Tambaklorok, Semarang, Jawa Tengah, Senin (28/7/2025). Menurut data KJG yang juga salah satu anak perusahaan PGN ketersediaan gas saat ini melimpah sehingga mengopti
ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/nz
Petugas memeriksa jaringan distribusi pipa gas di PT Kalimantan Jawa Gas (KJG) di kawasan Tambaklorok, Semarang, Jawa Tengah, Senin (28/7/2025). Menurut data KJG yang juga salah satu anak perusahaan PGN ketersediaan gas saat ini melimpah sehingga mengoptimalkan penjualan untuk menjaga dan mendukung persaingan perusahaan di Indonesia dengan volume gas yang disalurkan saat ini mencapai 35 BBTUD atau naik dari tiga tahun sebelumnya 0,2 BBTUD untuk 26 pelanggan diantaranya PLN dan sejumlah perusahaan industri.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea menyebut dua pabrik keramik besar di Bekasi terancam berhenti beroperasi akibat tingginya harga gas industri. 

Ia mengatakan dua perusahaan tersebut merupakan anggota serikat pekerja yang memiliki jumlah pekerja besar, yakni pabrik granit, Milan Keramik, dan Mulia Keramik. Menurutnya, kondisi ini berpotensi memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Dua pabrik anggota saya yang terbesar di Bekasi tutup karena gas industri. Ini bahaya sekali," ujar Andi Gani dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas)  Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) di Jakarta, Selasa (23/6). 

Apabila tidak ada solusi dalam waktu dekat, sekitar 55 ribu pekerja berpotensi terkena PHK dalam waktu 10 hari ke depan. Menurutnya, kekhawatiran tersebut muncul setelah perusahaan mulai melakukan pembahasan terkait keberlanjutan operasional.

"Kalau kita tidak serius dalam waktu 2-3 hari ke depan, dapat dipastikan 55 ribu buruh akan di-PHK. Dua perusahaan sudah dipanggil dan kami sudah diminta memberikan tawaran, tetapi kami menolak," katanya.

Kenaikan harga gas industri menjadi salah satu tekanan besar bagi sektor manufaktur, terutama industri yang bergantung pada penggunaan gas dalam proses produksinya.

Ia mengungkapkan harga gas industri yang sebelumnya berada di kisaran U$ 6 per MMBTU kini meningkat hingga sekitar US$ 23 per MMBTU. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat biaya produksi industri semakin berat.

"Bisnis tekstil dan semua yang menggunakan gas industri pasti akan berat," ujarnya.

Ia meminta pemerintah segera mengambil langkah untuk menyelesaikan persoalan pasokan dan harga gas industri. Menurutnya, Indonesia sebagai salah satu negara penghasil gas terbesar justru menghadapi persoalan ketersediaan gas untuk kebutuhan dalam negeri.

"Kita penghasil LNG terbesar di dunia, alangkah mirisnya kita malah kekurangan gas di dalam negeri, sementara diekspor ke luar," kata Andi Gani.

Ia berharap pemerintah dapat segera mengambil keputusan untuk menjaga keberlangsungan industri dan mencegah terjadinya PHK besar-besaran. Ia juga menyatakan optimistis Presiden Prabowo Subianto akan memperhatikan kondisi pekerja.



add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...