Industri Kemasan Plastik Sambut Bea Masuk LPG 0%, Harga Jual Bisa Turun

Kamila Meilina
24 Juni 2026, 16:44
Pembeli memilih kemasan plastik di toko ritel Wijaya Pangan, Lumajang, Jawa Timur, Selasa (7/4/2026). Pedagang menyebut harga kemasan plastik di wilayah tersebut mulai naik sejak sebelum Ramadhan hingga mencapai dua kali lipat yang dipengaruhi dampak situ
ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/hm
Pembeli memilih kemasan plastik di toko ritel Wijaya Pangan, Lumajang, Jawa Timur, Selasa (7/4/2026). Pedagang menyebut harga kemasan plastik di wilayah tersebut mulai naik sejak sebelum Ramadhan hingga mencapai dua kali lipat yang dipengaruhi dampak situasi geopolitik global.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Rencana pemerintah menghapus bea masuk menjadi 0% untuk Liquefied Petroleum Gas (LPG) dan bahan baku plastik dapat memberikan dampak positif bagi industri kemasan. Kebijakan itu diproyeksikan mampu menekan biaya produksi hingga harga jual produk di tengah kondisi permintaan pasar yang masih mengalami perlambatan.

Ketua Umum Indonesian Packaging Federation (IPF) atau Federasi Pengemasan Indonesia Henky Wibawa mengatakan, pelaku industri menyambut baik rencana kebijakan yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto tersebut.

“Terkait berita tentang rencana pemerintah oleh Menko Airlangga akan menghapus bea masuk menjadi 0% untuk LPG dan bahan baku plastik, tentu sangat menggembirakan bagi pelaku usaha khususnya di industri kemasan dan industri pengguna produk-produk konsumsi masyarakat secara keseluruhan,” ujar Henky kepada Katadata.co.id, Rabu (24/6).

Usaha plastik hilir terutama menantikan kebijakan untuk pembebeasan bea masuk bahan baku plastik. Namun, Henky menyebut industri masih menunggu aturan teknis berupa Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang akan menentukan jenis-jenis material impor berdasarkan kode Harmonized System (HS Code) yang nantinya mendapatkan pembebasan bea masuk.

“Jika hal ini telah jelas, maka tentu akan sangat membantu bagi industri terkait dalam menurunkan biaya produksi dan harga jual,” katanya.

Henky menjelaskan komponen terbesar dalam biaya produksi industri kemasan berasal dari bahan baku. Porsi bahan baku bahkan mencapai sekitar 50–70% dari total biaya produksi, sehingga perubahan harga bahan baku akan sangat berpengaruh terhadap harga akhir produk.

Selain rencana penghapusan bea masuk, Henky menyebut harga bahan baku plastik dalam sebulan terakhir juga mengalami penurunan seiring kondisi geopolitik yang lebih kondusif. Penurunan harga minyak dunia turut mendorong harga berbagai turunannya, termasuk bahan baku plastik.

“Sejak sebulan terakhir ini harga bahan baku plastik terus turun karena kondisi geopolitik yang kondusif, sehingga bahan baku minyak harganya juga telah turun. Tentunya harga semua turunannya juga ikut turun,” ujarnya.

Di sisi lain, permintaan bahan baku plastik dari industri kemasan saat ini masih relatif rendah. Hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi pasar produk jadi dalam kemasan yang juga mengalami perlambatan.

“Permintaan bahan baku plastik oleh industri kemasan relatif juga sedikit menurun. Hal ini disebabkan kondisi pasar produk jadi dalam kemasan yang juga rada teredam,” kata Henky.

Menurutnya, pelemahan permintaan juga dipengaruhi oleh daya beli masyarakat yang menurun serta faktor musiman seperti libur sekolah, ketika konsumsi kebutuhan sehari-hari mengalami perubahan karena masyarakat lebih banyak melakukan perjalanan atau wisata.

Saat ini, Henky memperkirakan tingkat utilisasi produksi industri kemasan masih berada di kisaran 50%.

“Kami mengharapkan dapat kembali normal dalam sebulan ke depan menjadi 60–70%, jika dampak dari biaya bahan baku menurun dan harga jual juga dapat lebih menggembirakan, khususnya bagi UMKM dan kebutuhan di pasar-pasar tradisional,” ujarnya.



add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...