Harga LNG Turun, Industri Plastik Minta Kuota HGBT Optimal Dongkrak Daya Saing

Kamila Meilina
1 Juli 2026, 11:32
LNG, gas industri, harga gas
Dok. PGN
Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) menyambut keputusan pemerintah menurunkan harga regasifikasi gas alam cair (LNG) non-Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) menjadi US$ 13 per MMBTU.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) menyambut keputusan pemerintah menurunkan harga regasifikasi gas alam cair (LNG) non-Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) menjadi US$ 13 per MMBTU. Industri berharap pasokan HGBT bisa lebih optimal dari sisi harga dan volume pasokan untuk mendukung daya saing industri. 

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiyono mengatakan, industri masih menjadikan HGBT sebagai prioritas utama karena harga gas menjadi komponen besar dalam biaya produksi.

Menurutnya, industri berharap harga HGBT dapat kembali berada di kisaran US$6–US$7 per MMBTU, dengan kuota yang diberikan sesuai kebutuhan industri. “Karena itu akan signifikan memengaruhi production cost kita,” ujar Fajar kepada Katadata.co.id, Rabu (1/7). 

Biaya energi dan utilitas menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing industri plastik, terutama di tengah tekanan masuknya produk impor. “Kalau production cost kita tidak bisa bersaing, terutama dari sisi yang paling berpengaruh itu energi dan utilitas. Utilitas lebih banyak ditopang oleh gas,” katanya.

Apabila industri tidak mendapatkan akses HGBT secara maksimal, biaya produksi akan sulit ditekan. Kondisi tersebut membuat produk dalam negeri semakin sulit bersaing dengan barang impor yang terus membanjiri pasar.

“Kalau gasnya kita tidak dapat HGBT, untuk daya saing juga berat. Makanya kita tetap fokus agar HGBT ini dimaksimalkan dulu,” ujarnya.

Sementara itu, untuk harga gas non-HGBT yang berada di kisaran US$13 per MMBTU, Inaplas menghargai kebijakan tersebut. Namun, industri berharap pemerintah lebih dulu memastikan pemenuhan HGBT.

“Yang non-HGBT harganya 13 dolar, kita menghargai itu. Tapi kita lebih berharap yang HGBT-nya dulu dimaksimalkan,” jelas Fajar.

Realisasi HGBT Masih Rendah

Fajar mengungkapkan, realisasi pemanfaatan HGBT sebelumnya masih berada di bawah 40%. Akibatnya, sebagian kebutuhan gas industri masih harus dipenuhi melalui skema non-HGBT dengan harga yang lebih tinggi.

“Realisasi HGBT kemarin di bawah 40%. Sisanya masih ditopang non-HGBT yang harganya bisa melonjak sampai US$ 20-an,” ujar dia.

Menurutnya, optimalisasi HGBT berpotensi langsung menekan biaya produksi industri plastik dan meningkatkan kemampuan bersaing dengan produk impor.

Selain harga gas, Fajar juga menyoroti faktor pasokan listrik yang menjadi tantangan industri. Gangguan pasokan listrik dapat menurunkan produktivitas karena proses produksi harus berhenti dan kembali berjalan.

“Kita berharap pasokan listrik dijaga. Kalau tidak, utilisasi bisa turun sampai 5–10% karena banyak start-stop,” katanya.

Dari sisi pasar, Inaplas juga menilai industri plastik nasional masih menghadapi tekanan akibat tingginya impor. Untuk bahan baku seperti polietilena (PE) dan polipropilena (PP), pasokan domestik masih belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan sehingga sebagian masih bergantung pada impor.

“Khusus PVC dan PET, supply dalam negeri sudah lebih dari cukup, tapi impor masih banjir. Akibatnya, kita terpaksa ekspor dengan margin yang lebih tipis,” kata Fajar.



add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...