RI Surplus Produksi, Kementan Bidik Ekspor Ayam dan Telur ke Arab Saudi

Kamila Meilina
7 Juli 2026, 10:34
ekspor, telur, ayam, Arab Saudi
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nz
Peternak memanen telur ayam ras di sentra peternakan ayam petelur Desa Kalisidi, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Rabu (10/6/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Pertanian (Kementan) membidik perluasan pasar ekspor ayam dan telur ke Arab Saudi di tengah kondisi produksi domestik yang mengalami surplus. Langkah itu ditempuh untuk menyerap kelebihan pasokan sekaligus menjaga keseimbangan harga di tingkat peternak.

Arab Saudi menjadi salah satu pasar potensial karena tingginya kebutuhan pangan untuk jemaah umrah dan haji. Selain itu, pemerintah juga tengah menjajaki peluang ekspor ke Cina yang memiliki permintaan tinggi terhadap ceker ayam.

"Salah satu market yang besar adalah Arab Saudi, kaitannya untuk kebutuhan umrah dan haji. Selain itu juga ke China sebagai market yang besar. Di sana salah satu komoditas ayam yang diminati adalah ceker ayam," kata Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono dalam konferensi pers di kantornya, dikutip dari YouTube Kementan, Selasa (7/7).

Menurutnya, Indonesia saat ini tidak lagi sekadar mencapai swasembada daging ayam dan telur, melainkan telah mengalami kelebihan produksi (oversupply). Kondisi itu mendorong pemerintah untuk memperluas pasar ekspor ke sejumlah negara.

"Untuk daging ayam sama telur, kita bukan lagi swasembada, tetapi sudah oversupply. Saat ini kita sudah mengekspor ke sebelas negara dan akan terus meningkatkan kuantitas ekspor," kata dia.

Pembukaan pasar ekspor merupakan bagian dari diplomasi ekonomi yang dilakukan pemerintah. Menurutnya, pembahasan komoditas ekspor, mulai dari sarang burung walet, durian, buah-buahan hingga produk peternakan dan perikanan, menjadi salah satu agenda dalam pertemuan Presiden dengan para kepala negara.

"Kalau Presiden bertemu dengan banyak kepala negara, salah satunya adalah bagaimana mengegolkan ekspor berbagai komoditas Indonesia, termasuk komoditas pertanian, peternakan, dan perikanan," katanya.

Surplus Pasokan Tekan Harga Ayam

Di sisi lain, Sudaryono mengakui melimpahnya pasokan ayam di dalam negeri menjadi salah satu penyebab anjloknya harga ayam hidup dan telur di tingkat peternak. Ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan membuat harga jatuh di bawah biaya produksi.

Pemerintah tengah menyiapkan berbagai langkah jangka pendek, menengah, dan panjang untuk menjaga keseimbangan tersebut, termasuk melalui perluasan pasar ekspor dan peningkatan konsumsi domestik.

Salah satu sumber permintaan baru berasal dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai berpotensi meningkatkan konsumsi ayam dan telur secara signifikan.

Namun, ia mengakui permintaan dari program tersebut sempat menurun selama masa libur sekolah karena distribusi MBG ikut berkurang. Untuk itu, pemerintah mendorong peternak mulai menyesuaikan pola produksi dengan kalender sekolah agar pasokan tetap seimbang sepanjang tahun.

"Kita ingin peternak menyesuaikan kalender produksinya dengan kalender anak sekolah. Ini kondisi baru yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menjadi pembelajaran agar ke depan kita bisa lebih siap," ujarnya.

Selain memperluas pasar ekspor, pemerintah juga menetapkan harga minimum ayam hidup dan telur di tingkat peternak mulai 15 Juli 2026. Harga live bird dipatok minimal Rp 19.500 per kilogram, sedangkan harga telur minimal Rp 24.000 per kilogram.

Menurut Sudaryono, kebijakan tersebut bertujuan menjaga keberlanjutan usaha peternak sekaligus memastikan harga di tingkat konsumen tetap sesuai dengan harga acuan.



add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...