Kementan Targetkan Hilirisasi Kelapa 151 Ribu Hektare pada 2026

Tia Dwitiani Komalasari
22 Juli 2026, 15:36
Pedagang musiman menggantung kelapa muda bakar di pinggir Jalan Lintas Nasional Medan-Banda Aceh, Desa Peunaga Rayeuk, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Aceh, Sabtu (21/2/2026). Permintaan kelapa muda bakar yang merupakan sajian untuk menu berbuka puasa saa
ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/tom.
Pedagang musiman menggantung kelapa muda bakar di pinggir Jalan Lintas Nasional Medan-Banda Aceh, Desa Peunaga Rayeuk, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Aceh, Sabtu (21/2/2026). Permintaan kelapa muda bakar yang merupakan sajian untuk menu berbuka puasa saat Ramadhan itu meningkat dari 65 kelapa per hari menjadi 90 hingga 140 kelapa per hari dan dijual Rp10.000 per buah.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan pengembangan kawasan hilirisasi kelapa seluas 151.554 hektare pada 2026 sebagai upaya meningkatkan pasokan bahan baku industri, memperkuat nilai tambah komoditas, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Pengawas Mutu Hasil Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Agus Rosyid mengatakan, target tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat hilirisasi kelapa sebagaimana diamanatkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045.

"Tahun ini target kami 151.554 hektare dengan anggaran sekitar Rp427 miliar di luar benih," kata Agus dalam webinar hilirisasi kelapa di Jakarta, Rabu (22/7).

Luasan tersebut meningkat signifikan dibandingkan realisasi program pada tahun sebelumnya yang mencapai 1.975 hektare dengan anggaran sekitar Rp10,92 miliar.

Agus mengatakan hingga saat ini, sebanyak 28 provinsi telah masuk dalam program pengembangan kawasan hilirisasi kelapa. Melalui program tersebut, pemerintah menyalurkan paket bantuan berupa benih kelapa, pupuk organik, serta dukungan biaya persiapan lahan dan penanaman.

Menurut dia, program tersebut diharapkan dapat meningkatkan pasokan bahan baku bagi industri pengolahan, memperkuat hilirisasi, sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa di dalam negeri.

Selain itu, lanjut Agus, pemerintah juga telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp154,38 miliar untuk pengembangan kawasan hilirisasi kelapa seluas 51.721 hektare pada 2027.

Agus mengatakan Indonesia saat ini masih menjadi produsen kelapa terbesar kedua di dunia dengan produksi sekitar 2,132 juta ton.

Luas areal perkebunan kelapa nasional mencapai sekitar 3,2 juta hektare, dengan 98 persen di antaranya merupakan perkebunan rakyat.

Meski demikian, produktivitas kelapa nasional dinilai masih rendah. Ia menyebut produktivitas saat ini baru sekitar 1,1 ton per hektare per tahun, jauh di bawah potensi produksi yang dapat mencapai 3,5 hingga 5 ton per hektare per tahun.

Menurut Agus, peningkatan produktivitas menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan industri kelapa nasional, selain tingginya proporsi tanaman tua dan belum optimalnya hilirisasi di dalam negeri.

Untuk itu, dalam mendukung pengembangan ekosistem hilirisasi, pemerintah juga menggandeng berbagai pihak, termasuk swasta, PT Perkebunan Nusantara (PTPN), dan Danantara.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Antara

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...