Danantara Investasi Jumbo ke Perusahaan Daging Luar Negeri, Apa Untung Ruginya?

Kamila Meilina
13 Agustus 2026, 04:59
Logo baru Kantor Danantara, Senin (24/2)
Katadata / Patricia Yasinta Abigail
Logo baru Kantor Danantara, Senin (24/2)
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Investasi Danantara ke JBS Group bisa memberikan keuntungan, namun juga memiliki sejumlah risiko. Pemerintah memastikan investasi tersebut dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi pengembangan ekosistem protein nasional, serta mendukung sektor protein Indonesia dalam jangka panjang. 

Sebelumnya Danantara Investment Management (DIM) menginvestasikan US$2,5 miliar atau sekitar Rp44,75 triliun untuk mendapatkan 25% saham pada perusahaan patungan baru dengan JBS. Perusahaan patungan itu akan mengelola bisnis JBS di Australia dan Selandia Baru. Kemitraan ini ditujukan untuk mengembangkan ekosistem protein Indonesia dan memperkuat rantai pasok protein di Asia Tenggara.

Selain investasi awal US$2,5 miliar, perusahaan patungan tersebut berpotensi mendapatkan tambahan pembiayaan dari JBS hingga US$2,5 miliar. Dana tersebut nantinya dapat digunakan untuk akuisisi dan investasi baru (green field) di Indonesia, Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru.

Pandu Patria Sjahrir, Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, mengatakan kemitraan strategis ini mencerminkan komitmen Danantara Indonesia dalam membangun kolaborasi dengan mitra global. 

"Selain mendapatkan akses bisnis yang telah mapan di pasar internasional yang telah maju, kemitraan ini diharapkan dapat memanfaatkan pengalaman sekaligus jalur distribusi dari perusahaan global terkemuka yang dapat berkontribusi terhadap pengembangan jangka panjang sektor protein Indonesia," ujar Pandu dalam keterangan resmi, di Jakarta, Jumat (7/8).

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan masuknya modal, teknologi, dan pengalaman manajemen JBS dapat meningkatkan kapasitas industri protein nasional.

Peluang itu penting karena menurutnya produksi daging sapi dalam negeri belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan sehingga Indonesia masih bergantung pada impor sapi hidup dan daging, terutama dari Australia.

"JBS sebagai pemegang saham mayoritas tetap membawa risiko meningkatnya ketergantungan pada pemain dan rantai pasok asing," kata Yusuf.

Sementara itu, Danantara dan JBS menyatakan kemitraan tersebut diharapkan akan memanfaatkan pengalaman operasional dan jaringan distribusi global JBS untuk mendukung pengembangan jangka panjang sektor protein di Indonesia. Hal ini sekaligus akan memperkuat rantai pasok protein regional. 

 

Peternak Lokal Perlu Dilibatkan

Yusuf juga mengingatkan dampak investasi JBS terhadap peternak rakyat. Kehadiran perusahaan besar dengan teknologi dan jaringan distribusi yang kuat dapat membuat industri lebih efisien. Namun, kondisi tersebut juga bisa membuat peternak kecil semakin sulit bersaing jika mereka tidak mendapat dukungan.

Karena itu, pemerintah perlu memastikan investasi JBS terhubung dengan peternak dan pemasok lokal.

"Kemitraan dengan koperasi dan peternak rakyat, peningkatan penggunaan input lokal, transfer teknologi, serta penguatan pembibitan dan pakan domestik perlu menjadi bagian dari desain investasinya," ujar Yusuf.

Menurutnya, pemerintah tidak boleh hanya mengandalkan investasi asing untuk meningkatkan produksi. Investasi JBS harus dibarengi dengan penguatan kemampuan produksi di dalam negeri.

Yusuf menilai penguatan industri harus dimulai dari sektor hulu, terutama pembibitan dan perbaikan kualitas genetik sapi lokal. Dengan begitu, jumlah indukan produktif bisa meningkat dan pasokan sapi bakalan dari dalam negeri semakin kuat.

Industri pakan juga perlu didorong menggunakan lebih banyak bahan baku lokal agar biaya produksi peternak lebih stabil.

Selain itu, pemerintah perlu menyediakan pembiayaan dengan bunga dan tenor yang sesuai dengan siklus usaha peternakan. Pengawasan persaingan juga perlu diperkuat agar peternak dan perusahaan lokal tetap memiliki akses ke pasar.

Peternak Pertanyakan Investasi di Luar Negeri

Sekretaris Jenderal DPP Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Robi Agustiar menyambut positif investasi Danantara ke JBS. Menurutnya, investasi tersebut menunjukkan pemerintah masih melihat industri sapi potong sebagai sektor yang menarik.

"Artinya industri sapi potong atau industri protein ini masih positif dan menarik di mata pemerintah. Buktinya pemerintah menanamkan dananya yang cukup besar sebagai investasi," ujar Robi kepada Katadata.co.id, Rabu (12/8). 

Namun, Robi mempertanyakan mengapa investasi tersebut dilakukan melalui JBS yang beroperasi di Australia dan Selandia Baru, bukan langsung ke industri sapi di Indonesia.

"Yang kami pertanyakan adalah kenapa investasinya di luar," kata dia.

Danantara sebelumnya menyatakan investasi tersebut dilakukan dengan tujuan untuk memberdayakan kemampuan dan pengalaman JBS Global di bidang pengembangan protein dalam rangka memperkuat ekosistem protein di Indonesia.

Robi membandingkan langkah itu dengan investasi Danantara di sektor unggas yang dilakukan di dalam negeri. Menurutnya, pemerintah perlu menjelaskan kriteria perusahaan yang bisa mendapatkan investasi atau menjadi mitra Danantara. Dengan informasi itu, perusahaan dan peternak lokal juga dapat mengetahui peluang untuk mendapatkan investasi.

Robi tetap menilai investasi ke JBS sebagai langkah positif bagi industri. Namun, dia berharap manfaat dari kemitraan tersebut juga dapat dirasakan di dalam negeri, baik dalam bentuk investasi pada perusahaan lokal, peningkatan teknologi, maupun pengembangan sumber daya manusia.

"JBS itu adalah perusahaan protein terbesar di dunia yang berkantor pusat di Brasil. Kalau boleh, sebagian dananya diinvestasikan balik ke Indonesia," katanya.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...