Mobil Nasional Meluncur 2028, Mampukah Bersaing dengan Mobil Listrik Impor Cina?
Rencana Presiden Prabowo Subianto mengembangkan mobil nasional menghadapi tantangan besar karena pasar otomotif Indonesia semakin kompetitif dengan kehadiran sejumlah merek kendaraan listrik Cina. Program mobil nasional tersebut ditargetkan meluncur pada 2028.
Pakar Otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menilai target produksi 2028 masih mungkin dicapai. Namun, produksi awal sebaiknya tidak langsung mengejar kapasitas 50.000 unit.
"Target produksi pada 2028 masih mungkin dicapai, tetapi lebih realistis bila dimulai dalam skala terbatas, bukan langsung mengejar kapasitas penuh 50.000 unit," kata Yannes kepada Katadata, dikutip Jumat (21/8).
Menurutnya, produksi awal sekitar 5.000-10.000 unit dapat diarahkan untuk pemerintah pusat dan daerah, TNI-Polri, serta BUMN. Pasar tersebut dapat menjadi pasar awal sebelum mobil nasional masuk ke pasar konsumen yang lebih luas. Setelah kualitas, TKDN, jaringan purnajual, dan skala produksi terbentuk, kapasitas produksi dapat ditingkatkan secara bertahap.
Dalam memproduksi target program ini, Indonesia dinilai sudah memiliki kemampuan manufaktur otomotif yang cukup kuat. Hal ini sebab, Indonesia memiliki pabrik perakitan, tenaga kerja, serta jaringan pemasok yang selama ini mendukung produksi berbagai merek global.
Namun, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah dalam teknologi bernilai tinggi, seperti desain platform, baterai, motor listrik, inverter, battery management system, hingga perangkat lunak kendaraan.
Karena itu, menurut Yannes, tantangan mobil nasional bukan hanya membangun pabrik, tetapi juga membangun kemampuan untuk mengembangkan kendaraan sendiri.
Salah satu opsi yang dapat dilakukan adalah menggandeng produsen kendaraan listrik yang sudah memiliki teknologi matang melalui lisensi atau pengembangan bersama. Ia juga mengusulkan pembentukan tim sekitar 150-200 engineer Indonesia untuk terlibat dalam pengembangan kendaraan sejak tahap desain.
Hadapi Persaingan Mobil Cina
Yannes menilai persaingan mobil nasional akan sangat berat karena pasar kendaraan listrik Indonesia semakin dipenuhi produk Cina dengan harga kompetitif, desain menarik, dan teknologi yang semakin berkembang.
Dengan produksi awal yang masih kecil, mobil nasional dinilai akan sulit bersaing jika hanya mengandalkan harga.
Karena itu, mobil nasional perlu memiliki keunggulan lain, seperti daya tahan, biaya perawatan, ketersediaan suku cadang, serta desain yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.
Menurutnya, pemilihan segmen juga penting karena pasar kendaraan penumpang Indonesia masih banyak didominasi MPV dan SUV. Rentang harga Rp100 juta-Rp250 juta juga menjadi salah satu pasar yang perlu diperhatikan.
"Jangan sekadar menjadi alternatif lokal dengan badge nasionalisme dari produk EV sejenis yang sudah tersedia di pasar," ujarnya.
Yannes juga mengingatkan mobil nasional tidak cukup hanya menjual sentimen nasionalisme. Pemerintah perlu memastikan proyek tersebut dapat berkembang menjadi ekosistem industri yang berkelanjutan.
Dukungan pemerintah, kata dia, dapat diberikan melalui kontrak pengadaan multiyear, peta jalan TKDN, pengembangan pemasok lokal, serta kesiapan jaringan servis dan suku cadang.
Pengamat Otomotif Bebin Djuana mengatakan keberhasilan proyek tersebut juga bergantung pada merek yang menjadi mitra serta pihak Indonesia yang mengerjakannya.
"Rencana tersebut tergantung dari merek mana yang diajak kerja sama, dari pihak Indonesia siapa yang ditunjuk untuk mengerjakannya," kata Bebin kepada Katadata.co.id, dikutip Jumat (21/8).
Ia menilai pemerintah juga perlu menyiapkan aturan perpajakan agar harga mobil nasional dapat dijangkau masyarakat.
"Yang penting harus dipersiapkan adalah peraturan perpajakannya agar produk tersebut mampu dijangkau masyarakat luas," ujarnya.
Bebin menambahkan, komponen kendaraan dapat diproduksi di dalam negeri secara bertahap. Menurutnya, Indonesia memiliki modal industri karena sektor otomotif telah berkembang lebih dari 50 tahun.
"Komponen-komponen yang dibutuhkan sebagian secara bertahap bisa dipersiapkan di dalam negeri," kata dia.
