Pengusaha soal PMI Manufaktur Jeblok Lagi: Pemulihan Belum Kuat

Kamila Meilina
1 September 2026, 16:14
manufakur, cina
ANTARA FOTO/Maulana Surya/agr
Pekerja menyelesaikan pesanan produk tekstil untuk ekspor di pabrik PT Sari Warna Asli Tekstil (Sari Warna) Solo, Jawa Tengah, Kamis (17/7/2025). Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan kesepakatan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) yang turun menjadi 19 persen dari semula 32 persen diyakini dapat memacu daya saing produk manufaktur domestik di pasar ekspor dan juga akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja lebih luas lagi pada industri padat karya seperti industri tekstil,
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia kembali turun ke level 49,8 pada Agustus 2026 setelah sempat pulih ke zona ekspansi pada bulan sebelumnya. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai kondisi ini menunjukkan pemulihan sektor manufaktur masih belum cukup kuat dan konsisten.

Ketua Apindo Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, penurunan PMI saar ini masih relatif tipis sehingga belum tepat dibaca sebagai pelemahan yang dalam. Namun, kondisi ini menunjukkan momentum ekspansi yang sempat muncul pada Juli belum dapat dipertahankan.

“Dunia usaha melihat PMI Manufaktur Agustus yang berada di level 49,8 sebagai sinyal bahwa pemulihan sektor manufaktur masih belum cukup kuat dan konsisten, serta cenderung fluktuatif dalam beberapa bulan terakhir,” kata Shinta kepada Katadata.co.id, Selasa (1/9). 

Produksi dan ketenagakerjaan yang kembali turun menjadi perhatian. Berdasarkan catatan S&P Global, kedua indikator itu telah mengalami penurunan dalam lima dari enam periode survei terakhir.

Di sisi lain, masih terdapat sejumlah sinyal positif. Pesanan baru kembali meningkat meski tipis, sedangkan tingkat kepercayaan bisnis mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan.

Dengan kondisi tersebut, Shinta menilai sektor manufaktur saat ini lebih menggambarkan fase stagnasi dengan pemulihan yang masih fluktuatif.

Permintaan Belum Cukup Kuat

Shinta mengatakan, tekanan terhadap sektor manufaktur berasal dari kombinasi kondisi permintaan yang belum kuat, persaingan yang semakin ketat, serta biaya produksi yang masih menjadi perhatian.

Berdasarkan survei S&P Global, penurunan produksi pada Agustus antara lain dipengaruhi kondisi permintaan yang masih lemah, meningkatnya persaingan, dan kenaikan harga barang.

Kenaikan pesanan baru pada Agustus juga masih sangat marginal. Indeks pesanan baru hanya sedikit berada di atas level netral 50.

Ini artinya, terdapat perbaikan permintaan, tetapi skalanya belum cukup kuat untuk secara langsung mendorong peningkatan produksi.

Aktivitas pembelian pada Agustus juga baru stabil setelah turun selama lima bulan. Sementara itu, backlog atau pekerjaan yang belum terselesaikan masih meningkat.

Menurut Shinta, kondisi itu menunjukkan adanya permintaan yang mulai masuk, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong ekspansi produksi secara konsisten.

Selain kondisi permintaan, daya beli masyarakat juga menjadi salah satu tantangan bagi industri manufaktur. Namun, Shinta menilai tekanannya tidak terjadi secara merata pada seluruh kelompok masyarakat.

Menurutnya, tekanan lebih kuat terlihat pada kelompok menengah bawah, sementara konsumen berpendapatan lebih tinggi relatif lebih resilien. Kondisi tersebut membuat pola konsumsi masyarakat semakin tersegmentasi.

Hal itu juga tercermin dalam survei PMI Agustus. Sebagian perusahaan menyebut penurunan daya beli pelanggan sebagai salah satu faktor yang menahan permintaan.

Tekanan tersebut terutama dirasakan industri yang produknya sangat bergantung pada pasar domestik, sensitif terhadap harga, dan memiliki karakter konsumsi yang lebih discretionary.

Shinta juga melihat adanya pergeseran perilaku konsumen ke produk yang lebih menawarkan value-for-money.

“Artinya, tantangannya bagi industri bukan hanya soal volume permintaan, tetapi juga perubahan product mix, pricing dan segmentasi pasar,” katanya.

Meski demikian, Shinta mengingatkan agar kondisi tersebut tidak langsung diartikan sebagai pelemahan daya beli masyarakat secara keseluruhan. Konsumsi rumah tangga secara agregat masih tumbuh.

Menurutnya, kondisi yang lebih terlihat saat ini adalah tekanan yang tidak merata, terutama pada kelompok konsumen menengah bawah.

Tantangan ke depan adalah menjaga daya beli dan permintaan domestik sekaligus menurunkan cost of doing business serta memperkuat daya saing industri.

Dengan langkah itu, perbaikan pesanan yang mulai terlihat diharapkan dapat lebih cepat diterjemahkan menjadi peningkatan produksi, investasi, dan penciptaan lapangan kerja.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...