Erupsi Anak Krakatau, Pengusaha Hadapi Risiko Kenaikan Biaya Logistik

Kamila Meilina
8 September 2026, 13:44
erupsi, Anak Krakatau, biaya logistik
ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/sg
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mewaspadai dampak erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap aktivitas bisnis, terutama jika peningkatan aktivitas vulkanik berlangsung dalam waktu lama dan mengganggu transportasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mewaspadai dampak erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap aktivitas bisnis, terutama jika peningkatan aktivitas vulkanik berlangsung dalam waktu lama dan mengganggu transportasi.

Ketua Apindo Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, gangguan transportasi dapat berdampak pada mobilitas masyarakat, distribusi barang, perdagangan, hingga rantai pasok industri.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah penerbangan, terutama melalui Bandara Soekarno-Hatta yang merupakan salah satu pusat konektivitas udara nasional.

"Erupsi Gunung Anak Krakatau berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi apabila peningkatan aktivitas vulkanik berlangsung dalam waktu yang cukup panjang dan berdampak pada konektivitas transportasi maupun aktivitas masyarakat," ujar Shinta kepada Katadata.co.di, Selasa (8/9). 

Gangguan penerbangan yang berlangsung lama dapat menambah biaya yang harus ditanggung perusahaan. Biaya tersebut dapat muncul karena perusahaan harus menggunakan moda transportasi lain, melakukan penanganan dan penyimpanan barang tambahan.

Selain itu, perusahaan juga bisa menghadapi keterlambatan pengiriman atau lead time yang lebih panjang. Kondisi ini dapat membuat perusahaan perlu menambah stok bahan baku, menyesuaikan produksi, hingga menghadapi keterlambatan pemenuhan pesanan pelanggan.

Dampak gangguan distribusi akan lebih terasa bagi perusahaan yang menerapkan sistem just-in-time. Sistem tersebut membuat perusahaan mengandalkan pasokan bahan baku dan komponen sesuai kebutuhan produksi.

Jika pengiriman terlambat, ketersediaan bahan baku dapat ikut terganggu dan berpotensi memengaruhi proses produksi.

Karena itu, Apindo mendorong perusahaan untuk memetakan bahan baku, barang, dan komponen yang paling penting bagi kegiatan produksi. Perusahaan juga diminta menjaga komunikasi dengan pemasok dan penyedia jasa logistik serta menyiapkan alternatif rute, moda transportasi, atau pemasok jika diperlukan.

Meski terdapat sejumlah risiko, Apindo menilai masih terlalu dini untuk menghitung potensi kerugian ekonomi akibat erupsi Anak Krakatau. Shinta mengatakan besarnya dampak akan bergantung pada durasi dan luas gangguan, sektor yang terdampak, serta ketersediaan jalur dan moda transportasi alternatif.

"Pada tahap ini terlalu dini untuk memberikan estimasi kerugian ekonomi secara keseluruhan karena dampaknya sangat bergantung pada durasi dan cakupan gangguan," katanya.

Menurut Shinta, hal yang paling penting saat ini adalah memastikan keselamatan pekerja dan masyarakat serta menjalankan langkah-langkah mitigasi dengan baik.

Apindo juga meminta perusahaan memastikan rencana keberlangsungan bisnis atau business continuity plan berjalan dan dapat disesuaikan dengan perkembangan kondisi.

Selain menjaga pasokan, perusahaan perlu memperhatikan keselamatan pekerja, terutama di wilayah yang terdampak abu vulkanik. Perusahaan perlu menilai risiko paparan abu dan kualitas udara serta menyiapkan prosedur komunikasi dan respons darurat.

Potensi Tunda Perdagangan hingga Rp 2,9 Triliun

Potensi dampak terhadap rantai pasok ini juga sebelumnya telah diperhitungkan oleh Supply Chain Indonesia (SCI) yang memprediksi erupsi gunungapi dapat mengganggu arus ekspor dan impor melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta. 

Penutupan bandara dan penerbangan selama dua hari sejak Minggu (6/9) berpotensi menunda perdagangan hingga US$168 juta atau sekitar Rp2,9 triliun jika gangguan berlangsung 48 jam.

Founder & CEO SCI Setijadi mengatakan, dampak erupsi tidak hanya berkaitan dengan keselamatan penerbangan, tetapi juga kelancaran logistik. Sebaran abu vulkanik dapat menyebabkan penutupan ruang udara, pembatalan atau pengalihan penerbangan, perubahan jadwal, hingga penumpukan kargo di bandara. Kondisi ini pada akhirnya dapat mengganggu produksi dan perdagangan, terutama untuk barang yang membutuhkan pengiriman cepat.

SCI mencatat nilai ekspor nonmigas melalui Bandara Soekarno-Hatta pada 2025 mencapai US$9,90 miliar, sedangkan impor mencapai US$20,77 miliar. Total arus perdagangan melalui bandara tersebut sekitar US$30,67 miliar per tahunatau rata-rata US$84 juta per hari.

Namun, angka tersebut bukan berarti kerugian yang pasti terjadi. Nilai tersebut hanya menunjukkan potensi barang yang tertunda. Besarnya kerugian sebenarnya akan bergantung pada jumlah penerbangan yang dibatalkan, kemungkinan pengalihan kargo ke bandara lain, jenis barang, serta seberapa cepat penerbangan kembali normal.



add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...