Pabrik-Pabrik di India Mati Lampu Imbas Krisis Batu Bara
Sejumlah pabrik, fasilitas pemurnian dan pengeboran (smelter) logam, serta rumah tangga di India mengalami pemadaman listrik dan kenaikan biaya energi. Hal ini terjadi seiring dengan dampak penurunan tajam persediaan batu bara di pembangkit listrik negara tersebut. Dampaknya sudah merembet ke berbagai sektor perekonomian.
Musim monsun yang terjadi di India saat ini telah menekan produksi listrik tenaga air, sementara cuaca yang lebih panas dari biasanya mendorong peningkatan permintaan untuk pendingin ruangan dan irigasi pertanian. Kondisi tersebut menyebabkan pembangkit listrik tenaga batu bara, yang memasok sekitar dua pertiga kebutuhan listrik India, menghabiskan persediaan batu bara mereka dengan cepat.
Saat ini pabrik-pabrik kecil, petani, dan rumah tangga menghadapi pemadaman listrik karena permintaan melampaui pasokan dalam jaringan listrik. Sementara itu, pelanggan industri besar di sektor peleburan logam, kimia, dan kertas kesulitan memperoleh bahan bakar yang cukup untuk memproduksi listrik sendiri.
Hal ini terjadi karena perusahaan tambang milik negara, Coal India Ltd., memprioritaskan pengiriman batu bara kepada pembangkit listrik yang terhubung dengan jaringan listrik.
Pabrik-pabrik baja kecil di negara bagian Chhattisgarh, India tengah, menghadapi pemadaman listrik selama 10 hingga 12 jam sehari. Sekretaris Jenderal Chhattisgarh Mini Steel Plant Association, Manish Dhuppad mengatakan kondisi tersebut memaksa pabrik mengurangi produksi.
“Pabrik baja membutuhkan pasokan listrik yang tidak terputus. Jika aliran listrik terputus sebelum kami dapat mengeluarkan logam dalam tungku maka material tersebut akan membeku. Saat listrik menyala, kami harus meleburnya kembali,” katanya dikutip dari Bloomberg, Selasa (13/10).
Kekurangan pasokan listrik ini semakin memperbesar dampak cuaca ekstrem terhadap perekonomian India, dengan lemahnya musim monsun dipicu oleh fenomena El Niño yang mencapai rekor. Kondisi ini juga menunjukkan bagaimana ketergantungan India yang masih berlanjut pada bahan bakar fosil membatasi kemampuan negara tersebut untuk merespons perubahan iklim.
Menurut Kementerian Energi India, pasokan bahan baku di hampir separuh PLTU India telah turun hingga kurang dari seperempat dari tingkat kebutuhan per 10 Oktober. Hujan monsun yang turun deras pada akhir bulan lalu di wilayah pertambangan batu bara di bagian timur negara tersebut memperburuk kekurangan pasokan, menekan produksi sekaligus menghambat pengangkutan batu bara melalui jalur kereta api.
Kondisi di Punjab, India Utara
Bloomberg mencatat, rumah tangga dan industri di Punjab, India Utara, mengalami pemadaman listrik berkepanjangan.
Pengelola pabrik kawat baja di Ludhiana, Badish Jindal, mengatakan pemadaman listrik yang sering terjadi selama tiga hingga empat jam telah meningkatkan biaya energi. Pasalnya, pabriknya harus beralih menggunakan generator cadangan yang mahal.
“Pemadaman listrik terjadi tanpa jadwal. Hal itu menyulitkan kami merencanakan operasional dan pengiriman, serta memengaruhi kualitas produk. Mesin yang tiba-tiba berhenti dan kembali beroperasi ketika pasokan listrik terputus lalu menyala kembali juga meningkatkan risiko kecelakaan,” ucapnya.
Jaringan listrik India mengalami kekurangan pasokan hampir 4 gigawatt per hari selama 10 hari pertama Oktober. Berdasarkan perhitungan Bloomberg, jumlah tersebut cukup untuk memasok listrik bagi sekitar 2 juta rumah tangga di pedesaan India.
Sekretaris jenderal Indian Captive Power Producers Association Rajiv Agarwal mengatakan kebijakan yang memprioritaskan pembangkit listrik terhubung dengan jaringan telah menempatkan perusahaan pada posisi yang sangat dirugikan.
Menurutnya, perusahaan-perusahaan tersebut harus membayar harga tinggi dalam lelang batu bara India dan membeli listrik mahal dari jaringan. Perusahaan juga harus menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan layanan pengangkutan batu bara melalui kereta api. Akibatnya, perusahaan dengan modal operasional terbatas terpaksa mengurangi produksi.
Premi rata-rata dalam penjualan batu bara spot Coal India pada September melonjak menjadi 94% di atas harga dasar, dibandingkan dengan selisih sebesar 59% pada Agustus. Data perusahaan tambang tersebut menunjukkan dua anak usahanya, Northern Coalfields dan South Eastern Coalfields, mengenakan premi lebih dari 200% dalam lelang pada bulan lalu.
