Stok CPO Diprediksi Naik Akhir 2026, tetapi Ekspor Anjlok 37,2%
Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) memproyeksikan stok minyak sawit mentah (CPO) nasional mencapai 1,7 juta ton pada akhir Desember 2026. Kenaikan stok ini terjadi di tengah penurunan ekspor yang diperkirakan mencapai 37,2% pada kuartal IV 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dalam laporan Outlook Industri Sawit Indonesia Q4 2026, IPOSS memperkirakan ekspor produk sawit pada kuartal IV hanya mencapai 4,9 juta ton. Sementara itu, sepanjang 2026, ekspor diproyeksikan turun 15,4% menjadi 25,76 juta ton.
Penurunan ekspor terjadi ketika konsumsi minyak sawit dalam negeri meningkat, terutama untuk memenuhi kebutuhan bahan baku biodiesel seiring penerapan mandatori B50 sejak Juli 2026.
Direktur IPOSS Nanang Hendarsah mengatakan, tantangan industri sawit saat ini adalah menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri dan keberlanjutan ekspor.
“Persoalannya bukan memilih antara biodiesel dan ekspor. Keduanya sama-sama penting bagi Indonesia. Tantangannya adalah memastikan produksi sawit mampu mengimbangi pertumbuhan kebutuhan domestik, sehingga penguatan ketahanan energi tidak terus mempersempit ruang ekspor,” ujar Nanang dalam laporan tersebut, dikutip Jumat (16/10).
IPOSS memperkirakan konsumsi domestik minyak sawit mencapai 27,1 juta ton sepanjang 2026, naik 7,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Adapun produksi minyak sawit nasional diproyeksikan hanya tumbuh 1,86% menjadi 52,4 juta ton.
Stok minyak sawit nasional diprediksi menyentuh titik terendah sekitar 300 ribu ton pada Oktober 2026, sebelum meningkat menjadi sekitar 1,7 juta ton pada akhir Desember.
Kenaikan stok tersebut didukung oleh peningkatan produksi menjelang akhir tahun dan penurunan ekspor. Produksi minyak sawit pada kuartal IV diproyeksikan mencapai 13,3 juta ton, naik 15,6% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Namun, IPOSS menilai kenaikan produksi tersebut lebih mencerminkan pergeseran distribusi produksi antarkuartal, bukan pemulihan kapasitas produksi secara struktural.
Untuk meningkatkan produksi, percepatan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dinilai perlu menjadi prioritas. Program ini diperkirakan berpotensi menyumbang 940 ribu ton CPO pada 2026, setara sekitar 2% dari produksi CPO nasional.
IPOSS juga mengingatkan, penurunan ekspor berpotensi memengaruhi penerimaan Pungutan Ekspor (PE) yang digunakan untuk membiayai program strategis sawit, termasuk biodiesel dan PSR. Karena itu, peningkatan produktivitas diperlukan untuk menjaga keseimbangan kebutuhan energi, ekspor, dan pembiayaan industri sawit.
