Manufaktur Beton Pracetak RI Tembus Pasar Filipina lewat Proyek Metro Manila
Industri manufaktur beton pracetak Indonesia mulai memperluas pasar ke luar negeri. PT Wijaya Karya Komponen Beton (WIKA Kobe), anak usaha PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON), memasok hingga ribuan bantalan rel kereta api untuk proyek Metro Manila Subway Project (MMSP) di Filipina.
WIKA Kobe memasok bantalan rel kereta api untuk Colas Rail Philippines dalam Paket Kontrak CP106 yang mencakup sistem elektrikal dan mekanikal (E&M) dan pekerjaan jalur rel Metro Manila Subway Project (MMSP). Perusahaan patungan WIKA Beton dan PS Construction Co Ltd asal Jepang itu berkomitmen memenuhi standar mutu, persyaratan teknis, keselamatan, dan jadwal pengiriman proyek.
Direktur Utama WIKA Beton Kuntjara mengatakan, perusahaan akan mengirimkan sekitar 120 –126 ribu bantalan rel secara bertahap dalam 3 tahun. Pengiriman akan dilakukan setiap tiga bulan dengan volume sekitar 20 kontainer dalam setiap pengiriman.
WIKA Kobe memproduksi dua tipe bantalan rel. Tipe yang pertama untuk jalur utama (mainline) dan depo, sedangkan yang lainnya adalah komponen dengan ukuran berbeda untuk area stasiun.
Kuntjara mengatakan, kontrak tersebut akan berdampak ke pendapatan perusahaan hingga sekitar US$ 11 juta. Dengan periode pengerjaan selama tiga tahun, WIKA Beton memperkirakan penjualan dari proyek ini mencapai sekitar US$ 3,5 juta per tahun.
“Kontrak yang ini pengirimannya sampai 2029,” kata Kuntjara kala ditemui di Cilincing, Jakarta Utara akhir September 2026 lalu, dikutip pada Rabu (21/10).
Perusahaan juga membidik peluang pasokan untuk proyek jalur kereta lainnya di Filipina. Salah satunya, proyek jalur kereta dari Malolos menuju Subic yang memiliki panjang sekitar 100 kilometer. Saat ini, Kuntjara mengatakan WIKA Beton masih bernegosiasi untuk mendapatkan kontrak proyek tersebut.
Di samping itu, pelaku industri manufaktur optimistis kinerja sektor industri akan membaik seiring target pertumbuhan ekonomi sebesar 6% pada 2027 yang dicanangkan pemerintah.
Sebelumnya, Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Dradjad Wibowo menyampaikan, pemerintah akan mengandalkan pertumbuhan investasi, peningkatan produktivitas, ekspor, perbaikan logistik, hingga pengembangan ekonomi syariah untuk mencapai target tersebut.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta menilai, faktor-faktor penopang pertumbuhan tersebut sudah tepat karena sebagian besar berkaitan dengan perbaikan sektor industri manufaktur. “Artinya, pemerintah akan memperbaiki kinerja industri manufaktur agar kontribusinya bisa diatas 21%,” ungkap Redma dalam keterangannya, dikutip Rabu (21/10).
Redma, yang juga menjabat sebagai ketua bidang di Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) dan Dewan Pengguna Angkutan dan Logistik (Depalindo), mengingatkan bahwa peningkatan investasi manufaktur, terutama pada industri padat karya dan produk ekspor bernilai tambah tinggi, bukan perkara mudah. Pasalnya, investasi dan ekspor Indonesia saat ini masih didominasi komoditas primer.
Selain itu, ia juga menyebut peningkatan ekspor produk bernilai tambah tinggi tidak hanya menghasilkan devisa, tetapi juga menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian. Dampaknya mencakup penyerapan tenaga kerja, penerimaan pajak, distribusi dan logistik, hingga pertumbuhan sektor jasa pendukung lainnya.
“Namun kondisi ini memerlukan kedalaman industri, rantainilai yang integrasi serta ekosistem yang mendukung sehingga menarik bagi investor,” ucap Redma.
