Beban Avtur Melonjak 42,9%, Garuda Indonesia Perkuat Bisnis Non-Penerbangan

Nur Hana Putri Nabila
2 November 2026, 07:05
Aktifitas penerbangan pesawat Garuda Indonesia di Bandara Soekarno Hatta, Rabu, (02/04).
Katadata/Arief Kamaludin
Aktifitas penerbangan pesawat Garuda Indonesia di Bandara Soekarno Hatta, Rabu, (02/04).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) terus menggenjot transformasi bisnis di tengah tekanan biaya operasional yang membayangi industri penerbangan. Kenaikan harga bahan bakar pesawat atau avtur membuat beban bahan bakar Garuda Indonesia Group membengkak 42,9% sepanjang Januari-September 2026.

Sejumlah upaya dilakukan Garuda untuk memperkuat fundamental bisnisnya. Garuda Indonesia menambah jumlah pesawat siap operasi menjadi 106 unit hingga September 2026, dari 82 unit pada periode yang sama tahun lalu. 

Hal itu seiring berlanjutnya program reaktivasi armada dan optimalisasi kapasitas operasional disokong Danantara. Alhasil Garuda juga memperbesar kontribusi bisnis non-penerbangan yang tumbuh 31,3% menjadi US$ 322,8 juta.

Pertumbuhan pendapatan non-penerbangan ditopang peningkatan pendapatan pemeliharaan pesawat dari pelanggan eksternal GMF AeroAsia sebesar 42,4% dan kenaikan pendapatan layanan agen perjalanan sebesar 76,1%.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Oentoro mengatakan meningkatnya pendapatan bisnis non-penerbangan mencerminkan potensi pengembangan kapabilitas dan sinergi antarentitas usaha yang terus GIAA optimalkan. Hal itu sebagai bagian dari transformasi demi memperkuat ketahanan bisnis dan mendukung pemulihan kinerja keuangan perusahaan. 

Menurut Thomas, optimalisasi potensi seluruh entitas usaha juga menjadi bagian dari strategi transformasi yang dijalankan melalui dukungan berkelanjutan Danantara sebagai pemegang saham. Khususnya dalam memperkuat produktivitas dan efektivitas pemanfaatan aset.

Seiring dengan efektivitas pemanfaatan aset, Thomas mengatakan pemulihan armada perlu ditopang dari kenaikan produktivitas dan optimalisasi jaringan penerbangan. Hal itu demi pertumbuhan kapasitas dapat memberikan manfaat yang lebih berkelanjutan.

“Setiap pesawat perlu dioperasikan secara lebih produktif, setiap rute harus dapat berkontribusi terhadap jaringan penerbangan yang semakin efisien, dan pelanggan perlu merasakan perbaikan nyata dalam keandalan dan kualitas layanan,” kata Thomas dalam keterangannya, dikutip Senin (2/10). 

Memasuki fase transformasi berikutnya, Thomas mengatakan Garuda Indonesia Group akan terus memprioritaskan peningkatan utilisasi dan produktivitas armada. Garuda juga akan mengoptimalisasi jaringan penerbangan lebih terukur, penguatan kontribusi bisnis di seluruh ekosistem Grup dan pengelolaan biaya dan aset lebih efektif.

Aksi itu diharapkan dapat memperkuat daya saing dan ketahanan finansial Grup. Sekaligus mendukung upaya pemulihan profitabilitas secara bertahap dan berkelanjutan.

“Fokus kami ke depan menerjemahkan setiap kemajuan operasional dan penguatan bisnis menjadi kinerja keuangan yang semakin sehat,” kata Thomas.

Adapun jika melihat ketersediaan armada Garuda Indonesia terpantau naik dari 16,7 juta penumpang, dari sebelumnya 15,6 juta penumpang pada sembilan bulan pertama 2025. Dari jumlah itu, Garuda Indonesia melayani sekitar 7,7 juta penumpang dan Citilink mengangkut sekitar 8,9 juta penumpang.

Frekuensi penerbangan Grup juga naik 7,9% yoy menjadi 117.868 penerbangan, dibandingkan 109.259 penerbangan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan keandalan operasional GIAA juga tercermin dari tingkat ketepatan waktu penerbangan atau on-time performance (OTP) Grup yang mencapai 92,01%, membaik 5,86 poin persentase dibandingkan 86,15% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari Januari–September 2026, Garuda Indonesia Group membukukan pendapatan konsolidasi sebesar US$ 2,71 miliar atau tumbuh 13,2% secara tahunan atau meningkat US$ 316,4 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara rinci bisnis penerbangan berjadwal masih menjadi kontributor utama pertumbuhan GIAA, naik 12,6% senilai US$ 233,2 juta. Sementara itu, pendapatan penerbangan non-berjadwal meningkat 2,1% atau US$ 6,3 juta.

Di luar bisnis penerbangan,pendapatan dari lini usaha non-penerbangan mencatatkan pertumbuhan lebih tinggi, yakni sebesar 31,3% menjadi US$ 322,8 juta, atau meningkat US$ 77 juta secara tahunan. 

Kinerja itu dicapai di tengah tekanan biaya industri yang masih signifikan, terutama akibat kenaikan harga bahan bakar penerbangan seiring volatilitas pasar energi global dan dinamika geopolitik di Timur Tengah. 

Sepanjang periode pelaporan, beban bahan bakar Grup meningkat 42,9% secara tahunan atau setara US$ 309,8 juta, alhasil total beban operasional melonjak hingga 15,7%. Dalam periode yang sama, Garuda Indonesia Group mencatatkan laba usaha sebesar US$ 97,2 juta, sementara rugi periode berjalan Grup secara konsolidasi menyusut 3% secara tahunan menjadi US$ 179,3 juta.






add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...