Menko Airlangga Lapor Prabowo: PMI Manufaktur Tertinggi dalam 31 Bulan

Nur Hana Putri Nabila
2 November 2026, 19:18
Airlangga, Prabowo, PMI manufaktur
ANTARA FOTO/Bayu Pratama S./nym.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan usai bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (19/10/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melaporkan penguatan aktivitas manufaktur Indonesia kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/11). Indeks Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 mencapai 54, meningkat dari 52,4 pada September 2026.

Penguatan tersebut mencerminkan ekspansi sektor manufaktur yang mencapai level tertinggi sejak Maret 2024 atau dalam 31 bulan. Di sisi lain, laporan S&P Global menunjukkan pesanan ekspor baru manufaktur Indonesia mencatat kenaikan tertinggi sejak lembaga tersebut mulai mengumpulkan data PMI pada April 2011.

"Ini menandakan penguatan ekspansi sektor manufaktur dan level ekspansinya ini terkuat sejak Maret yang lalu, Maret 2024. Jadi ini level ekspansi yang tinggi," kata Airlangga seusai rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/11).

Berdasarkan laporan S&P Global yang dirilis pada Senin (2/11), PMI manufaktur Indonesia naik dari 52,4 pada September menjadi 54 pada Oktober 2026. Angka ini menunjukkan perbaikan kondisi operasional manufaktur paling kuat sejak Maret 2024.

Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti mengatakan sektor manufaktur Indonesia melanjutkan perbaikan selama dua bulan berturut-turut pada awal kuartal keempat 2026. Ekspansi berlangsung solid, didorong penguatan pesanan baru yang mendorong peningkatan produksi secara tajam.

Peningkatan permintaan menjadi pendorong utama ekspansi industri manufaktur pada Oktober. Pesanan baru bertambah selama tiga bulan berturut-turut dengan laju tercepat sejak Oktober 2021. Sejumlah produsen menilai peningkatan tersebut didukung oleh kepercayaan pelanggan yang membaik dan peluncuran produk baru.

Pertumbuhan permintaan juga terjadi di pasar internasional. Pesanan ekspor baru mencatat kenaikan tertinggi sejak S&P Global mulai mengumpulkan data pada April 2011.

Kondisi tersebut mendorong perusahaan meningkatkan pembelian bahan baku dan persediaan untuk memenuhi pesanan. Produsen juga memanfaatkan stok barang jadi yang tersedia.

Menurut Usamah, kuatnya permintaan membuat kapasitas produksi manufaktur masih berada di bawah tekanan. Hal ini tercermin dari peningkatan tumpukan pesanan atau backlog pada Oktober, meskipun dengan laju moderat.

Di sisi produksi, produsen meningkatkan aktivitas selama dua bulan berturut-turut. Laju pertumbuhan produksi pada Oktober menjadi yang tercepat sejak Maret 2024.

Namun, tingginya permintaan juga menguras persediaan barang jadi. Stok produk siap jual menyusut tajam, dengan laju penurunan tercepat sejak Agustus 2020. Tumpukan pekerjaan produsen juga meningkat selama empat bulan berturut-turut hingga Oktober.

Untuk mengantisipasi kebutuhan produksi berikutnya, perusahaan meningkatkan pembelian bahan baku selama dua bulan berturut-turut. Langkah tersebut mendorong kenaikan signifikan pada persediaan bahan baku atau stok praproduksi.

Meski aktivitas manufaktur menguat, peningkatan produksi belum diikuti penyerapan tenaga kerja yang sebanding. Perusahaan hanya menambah sedikit pekerja pada Oktober, sementara laju penciptaan lapangan kerja melambat dibandingkan September.

Di sisi pasokan, kinerja pemasok mulai membaik. Waktu pengiriman bahan baku menjadi lebih singkat untuk pertama kalinya dalam lebih dari setahun. Perbaikan waktu pengiriman tersebut juga menjadi yang terbesar sejak Desember 2019, antara lain didukung kelancaran transportasi dan distribusi barang.

Kendati demikian, produsen masih menghadapi tekanan kenaikan biaya produksi. Inflasi biaya input meningkat pada awal kuartal keempat 2026, terutama akibat kenaikan harga bahan baku dan bahan bakar. Sejumlah perusahaan juga menyebut pelemahan nilai tukar sebagai faktor yang menambah beban biaya.

Kenaikan biaya input tersebut mendorong produsen menaikkan harga jual dengan laju lebih cepat pada Oktober. Meski menghadapi tekanan biaya dan keterbatasan kapasitas produksi, pelaku industri tetap optimistis terhadap prospek bisnis selama 12 bulan ke depan.

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menilai kenaikan PMI manufaktur menjadi indikator bahwa kinerja industri nasional semakin membaik. Ia mengatakan capaian ini harus dijaga agar berdampak lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan daya saing industri.

Ia juga menekankan bahwa penguatan industri harus tecermin dalam peningkatan produksi, investasi, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja, bukan hanya kenaikan indikator survei.

Selain PMI manufaktur, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) menunjukkan perbaikan pada Oktober 2026. IKI tercatat sebesar 53,77, naik 1,84 poin dibandingkan September yang berada di level 51,93.

Angka tersebut juga lebih tinggi 0,27 poin dibandingkan IKI Oktober 2025 sebesar 53,50. Kenaikan ini menunjukkan berlanjutnya penguatan kepercayaan pelaku industri terhadap kondisi usaha manufaktur nasional.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila, Antara

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...