PMI Manufaktur Indonesia Melesat, Kalahkan Jepang, Vietnam hingga Cina

Nur Hana Putri Nabila
2 November 2026, 19:32
PMI manufaktur, cina,
ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/wsj.
Pekerja menyelesaikan proses produksi cat di pabrik PT Jotun Indonesia yang baru diresmikan di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (15/4/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks Manajer Pembelian atau Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia meningkat menjadi 54 pada Oktober 2026, dari 52,4 pada September. Capaian ini merupakan level ekspansi tertinggi dalam 31 bulan terakhir sekaligus melampaui sejumlah negara di Asia Pasifik, termasuk Jepang, Cina, dan Korea Selatan.

Berdasarkan laporan S&P Global yang dirilis pada Senin (2/11), PMI manufaktur Indonesia mencapai level tertinggi sejak Maret 2024. Angka ini lebih tinggi dibandingkan PMI manufaktur Jepang yang berada di level 53,3, Vietnam 52,3, Cina 52, Korea Selatan 51,3, Malaysia 51 dan Australia 49,6.

Penguatan aktivitas manufaktur Indonesia terutama ditopang oleh peningkatan permintaan. Pesanan baru tumbuh dengan laju tercepat dalam lima tahun terakhir, seiring meningkatnya kepercayaan pelanggan dan peluncuran produk baru.

Pesanan ekspor baru bahkan mencatat laju pertumbuhan tertinggi sejak S&P Global mulai mengumpulkan data PMI pada April 2011. Kondisi tersebut menunjukkan semakin kuatnya permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia di pasar internasional.

Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti mengatakan sektor manufaktur Indonesia melanjutkan perbaikan selama dua bulan berturut-turut pada awal kuartal keempat 2026.

Ekspansi industri berlangsung solid dan mencapai level tertinggi sejak Maret 2024. Penguatan pesanan baru turut mendorong peningkatan produksi secara tajam.

Untuk memenuhi permintaan, perusahaan meningkatkan pembelian dan persediaan bahan baku. Produsen juga memanfaatkan stok barang jadi yang tersedia untuk memenuhi pesanan pelanggan.

Produksi manufaktur Indonesia meningkat selama dua bulan berturut-turut hingga Oktober 2026. Bahkan, laju pertumbuhan produksi pada Oktober menjadi yang tercepat sejak Maret 2024.

Namun, tingginya permintaan turut menekan kapasitas produksi. Tumpukan pesanan atau backlog meningkat pada Oktober, meskipun dengan laju moderat. Sementara itu, persediaan barang jadi menyusut tajam dengan laju penurunan tercepat sejak Agustus 2020.

Tumpukan pekerjaan produsen juga meningkat selama empat bulan berturut-turut hingga Oktober. Untuk mengantisipasi kebutuhan produksi berikutnya, perusahaan meningkatkan pembelian bahan baku selama dua bulan berturut-turut dan memperbesar persediaan praproduksi.

Indeks Kepercayaan Industri Ikut Menguat

Penguatan PMI manufaktur pada Oktober 2026 sejalan dengan perbaikan Indeks Kepercayaan Industri (IKI). IKI Oktober tercatat sebesar 53,77, naik 1,84 poin dibandingkan September yang berada di level 51,93.

Capaian tersebut juga lebih tinggi 0,27 poin dibandingkan IKI Oktober 2025 sebesar 53,50. Kenaikan ini menunjukkan berlanjutnya penguatan kepercayaan pelaku industri terhadap kondisi usaha manufaktur nasional.

Direktur Bidang Ekonomi S&P Global Market Intelligence Trevor Balchin sebelumnya menyebut sektor manufaktur Indonesia menutup triwulan ketiga dengan kinerja yang sangat kuat. Peningkatan produksi dan pesanan baru yang didukung pertumbuhan ekspor menjadi faktor penting penguatan tersebut.

Balchin juga menyoroti prospek produksi jangka pendek yang menjanjikan. Pada September, tunggakan pekerjaan meningkat dengan laju tertinggi dalam lima tahun, meskipun perusahaan telah menambah tenaga kerja.

Sementara itu, tekanan biaya input pada September turun ke level terendah dalam enam bulan. Kondisi tersebut mendorong perusahaan meningkatkan pembelian bahan baku dan memperkuat persediaan input.

Penyerapan Tenaga Kerja Melambat, Biaya Industri Naik

Meski aktivitas manufaktur menguat, peningkatan produksi belum diikuti penyerapan tenaga kerja yang sebanding. S&P Global mencatat perusahaan hanya menambah sedikit pekerja pada Oktober. Laju penciptaan lapangan kerja juga melambat dibandingkan September.

Di sisi pasokan, kinerja pemasok mulai membaik. Waktu pengiriman bahan baku menjadi lebih singkat untuk pertama kalinya dalam lebih dari setahun. Perbaikan tersebut juga menjadi yang terbesar sejak Desember 2019, antara lain didukung kelancaran transportasi dan distribusi barang.

Namun, produsen masih menghadapi tekanan kenaikan biaya produksi. Inflasi biaya input meningkat pada awal kuartal keempat 2026, terutama akibat kenaikan harga bahan baku dan bahan bakar. Sejumlah perusahaan juga menyebut pelemahan nilai tukar sebagai faktor yang menambah beban biaya.

Kenaikan biaya input tersebut mendorong produsen menaikkan harga jual produk dengan laju lebih cepat pada Oktober.

Kendati menghadapi tekanan biaya dan kapasitas produksi, pelaku industri tetap optimistis terhadap prospek bisnis selama 12 bulan ke depan. Tingkat keyakinan tersebut relatif stabil dibandingkan September.

Optimisme ini ditopang harapan bahwa permintaan pasar tetap kuat sehingga perusahaan dapat melanjutkan ekspansi bisnis. Produsen juga berharap tekanan harga dan kendala pasokan semakin mereda.

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji pun mengatakan, momentum penguatan itu harus dijaga agar memberikan dampak lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan daya saing industri.

Meski PMI manufaktur Indonesia lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara di Asia Pasifik, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengingatkan pelaku industri agar tidak cepat berpuas diri. Sebab, masih terdapat negara dengan kinerja manufaktur yang lebih baik.

Sarmuji mengatakan pemerintah terus berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif melalui penguatan ekosistem manufaktur, peningkatan pemanfaatan produk dalam negeri, pengamanan pasar domestik dari persaingan impor yang tidak sehat, serta peningkatan kepastian pasokan energi dan bahan baku.

Pemerintah juga berupaya memperkuat industri yang telah memiliki kemampuan produksi sekaligus mendorong industri yang masih membutuhkan dukungan agar berkembang.

"Kita ingin pertumbuhan manufaktur tidak hanya terlihat dari indikator survei, tetapi juga tercermin dalam peningkatan produksi, investasi, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja," ujar Sarmuji dalam keterangan tertulis, Senin (2/11).

Sarmuji menambahkan, penguatan industri nasional perlu diarahkan agar Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga semakin kompetitif di pasar ekspor.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila, Antara

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...