Rencana Perang Amerika Serikat di Yaman Bocor ke Jurnalis Lewat Grup Chat

Muhamad Fajar Riyandanu
25 Maret 2025, 15:27
yaman, perang, amerika serikat, trump
ANTARA FOTO/REUTERS/Erin Scott/HP/dj
Erin Scott Kawanan burung terbang diatas Gedung Putih saat senja

Ringkasan

  • Rencana perang AS terhadap Houthi di Yaman bocor di grup chat Signal yang berisi pejabat tinggi Gedung Putih dan seorang jurnalis. Gedung Putih mengonfirmasi keaslian pesan, namun sedang menyelidiki bagaimana jurnalis bisa masuk ke grup tersebut.
  • Menteri Pertahanan Pete Hegseth dituduh membocorkan detail operasional perang, termasuk target dan jenis senjata, di grup chat tersebut. Hegseth membantah tuduhan tersebut, tetapi dibantah oleh jurnalis The Atlantic, Jeffrey Goldberg.
  • Kebocoran ini memicu kecaman dan seruan investigasi dari anggota parlemen Demokrat, yang menganggapnya sebagai pelanggaran keamanan nasional dan potensi pelanggaran hukum, termasuk Undang-Undang Catatan Federal.
! Ringkasan ini dihasilkan dengan menggunakan AI
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pejabat tinggi Pemerintahan Presiden Donald Trump di Gedung Putih membocorkan rencana perang dalam grup percakapan yang juga diikuti seorang jurnalis The Atlantic.

Percakapan antara para pejabat Gedung Putih itu berlangsung di aplikasi pesan singkat Signal beberapa saat sebelum Amerika Serikat (AS) menyerang kelompok Houthi di Yaman.

Pemimpin Redaksi The Atlantic, Jeffrey Goldberg, dalam laporannya mengatakan bahwa ia tiba-tiba diundang ke dalam grup percakapan terenkripsi di aplikasi Signal pada 13 Maret. Grup tersebut bernama 'Houthi PC small group'.

Grup percakapan tersebut menjadi media bagi U.S. National Security Advisor atau Penasihat Keamanan Nasional, Mike Waltz, dalam memberikan tugas kepada wakilnya, Alex Wong, untuk membentuk 'tiger team'. Tujuannya, mengoordinasikan aksi AS terhadap kelompok Houthi.

Gedung Putih melalui Juru bicara Dewan Keamanan Nasional atau National Security Council (NSC), Brian Hughes, mengatakan bahwa grup percakapan itu tampaknya merupakan rangkaian pesan yang asli dan autentik.

"Kami sedang meninjau bagaimana nomor yang tidak disengaja bisa masuk ke dalam grup tersebut," kata Hughes sebagaimana diberitakan oleh Reuters pada Selasa (25/3).

Meski begitu, Gedung Putih berusaha membela komunikasi yang terjadi merupakan sebuah contoh koordinasi kebijakan yang mendalam dan penuh pertimbangan antara pejabat senior.

"Keberhasilan operasi terhadap Houthi sejauh ini menunjukkan bahwa tidak ada ancaman terhadap pasukan kita maupun keamanan nasional," ujar Hughes.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melancarkan serangan militer terhadap kelompok Houthi pada 15 Maret sebagai tanggapan atas serangan mereka terhadap kapal-kapal di Laut Merah.

Trump juga memperingatkan Iran, yang merupakan pendukung utama Houthi agar segera menghentikan dukungannya terhadap kelompok tersebut.

Beberapa jam sebelum serangan dimulai, Menteri Pertahanan Pete Hegseth membagikan rincian operasional di dalam grup percakapan Signal. Informasi yang dibagikan termasuk target serangan, jenis senjata yang akan digunakan AS, serta urutan serangan.

Menurut Laporan The Atlantic, grup chat Signal itu beranggotakan lebih dari selusin pejabat tinggi pemerintahan Trump, termasuk Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Penasihat Keamanan Nasional Mike Waltz, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Direktur CIA John Ratcliffe, Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard, Menteri Keuangan Scott Bessent hingga Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles.

Pemimpin Redaksi The Atlantic, Jeffrey Goldberg, menyebut hal ini sebagai tindakan yang sangat ceroboh dalam menggunakan aplikasi Signal untuk mendiskusikan rencana perang.

Ketika ditanya oleh wartawan di Gedung Putih, Trump mengaku tidak mengetahui kejadian tersebut. "Saya tidak tahu apa pun tentang itu. Saya bukan penggemar The Atlantic," katanya.

Namun, seorang pejabat Gedung Putih kemudian mengatakan bahwa penyelidikan sedang berlangsung dan Trump telah diberi pengarahan mengenai insiden tersebut. Di sisi lain Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, membantah bahwa ia membagikan rencana perang dalam percakapan tersebut.

"Tidak ada yang mengirim pesan tentang rencana perang, dan itu saja yang bisa saya katakan," ujarnya kepada wartawan saat melakukan kunjungan resmi ke Hawaii pada Senin (24/3).

Goldberg kemudian menanggapi bantahan Hegseth dalam wawancara di CNN pada Senin malam. "Tidak, itu bohong. Dia benar-benar mengirim pesan tentang rencana perang," kata Goldberg.

Pernyataan Kontroversial Soal Eropa

Menurut tangkapan layar percakapan yang diperoleh The Atlantic, para pejabat dalam grup tersebut berdebat mengenai apakah AS harus melancarkan serangan atau tidak.

Pada satu titik, Wakil Presiden JD Vance tampaknya mempertanyakan apakah sekutu AS di Eropa, yang lebih terdampak oleh gangguan pengiriman di Laut Merah, memang layak mendapat bantuan dari AS.

"@PeteHegseth jika menurutmu kita harus melakukannya, ayo kita lakukan," tulis seseorang yang diidentifikasi sebagai Vance.

"Tapi saya benar-benar benci terus-menerus menyelamatkan Eropa," lanjutnya.

James David Vance
James David Vance (Dok. Intagram JD Vance/@teamjdvance)

Orang yang diidentifikasi sebagai Menteri Pertahanan Pete Hegseth kemudian membalas: "Wakil Presiden: Saya sepenuhnya sependapat dengan kebencianmu terhadap ketergantungan Eropa. Ini MEMALUKAN,"

The Atlantic juga melaporkan bahwa Vance sempat menyuarakan kekhawatiran tentang waktu pelaksanaan serangan. Ia menyebut ada argumen kuat untuk menunda serangan selama satu bulan.

"Ada risiko lebih lanjut bahwa kita akan melihat lonjakan harga minyak yang cukup besar," tulis akun tersebut.

Seruan Investigasi

Sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat segera mengecam kesalahan tersebut. Mereka menyebutnya sebagai pelanggaran keamanan nasional AS dan pelanggaran hukum yang harus segera diselidiki oleh Kongres.

Menurut hukum AS, penyalahgunaan, penyimpangan, atau pembocoran informasi rahasia dapat dikategorikan sebagai tindak pidana. Namun, belum jelas apakah kasus ini memenuhi unsur pelanggaran hukum tersebut.

Pesan-pesan dalam grup percakapan Signal, yang menurut laporan The Atlantic telah diatur oleh Penasihat Keamanan Nasional Mike Waltz untuk terhapus secara otomatis setelah beberapa waktu, juga menimbulkan pertanyaan tentang potensi pelanggaran terhadap Undang-Undang Catatan Federal.

"Ini adalah salah satu pelanggaran intelijen militer paling mencengangkan yang pernah saya baca dalam waktu yang sangat lama," kata Pemimpin Demokrat di Senat, Chuck Schumer.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...