Trump Ingin Jadikan Gaza 'Zona Kebebasan'

Hari Widowati
16 Mei 2025, 08:39
Trump, Donald Trump, Gaza, Palestina
REUTERS/Carlo Allegri
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam sebuah forum bisnis di Qatar menyatakan ia ingin menjadikan Gaza sebagai zona kebebasan.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menyampaikan keinginannya untuk mengambil alih Jalur Gaza, pada Kamis (15/5). Trump mengatakan kepada sebuah forum bisnis di Qatar bahwa Amerika Serikat akan "menjadikan Gaza zona kebebasan" dan berpendapat tidak ada lagi yang bisa diselamatkan di wilayah Palestina tersebut.

Trump pertama kali mengemukakan idenya tentang Gaza pada Februari lalu. Ia mengatakan AS akan membangun kembali wilayah itu dan memaksa warga Palestina untuk pergi ke tempat lain. Rencana tersebut menuai kecaman global, dengan Palestina, negara-negara Arab, dan PBB mengatakan hal itu sama saja dengan pembersihan etnis.

Sebagian besar dari 2,3 juta penduduk Gaza menjadi pengungsi internal karena Israel terus melancarkan serangan militer yang telah menewaskan hampir 53.000 warga Palestina dan menghancurkan sebagian besar wilayah kantong tersebut. Israel memulai serangannya setelah serangan Hamas pada Oktober 2023.

Berbicara kepada sekelompok pejabat dan pemimpin bisnis di Qatar, Trump mengatakan dia memiliki konsep untuk Gaza yang sangat bagus. "Jadikan Gaza zona kebebasan, biarkan Amerika Serikat terlibat," kata Trump seperti dikutip Reuters.

Trump mengatakan dia telah melihat foto Gaza dari udara di mana tidak ada bangunan yang berdiri.

"Saya ingin melihat (Gaza) menjadi zona kebebasan. Dan jika perlu, saya pikir saya akan bangga jika Amerika Serikat memilikinya, mengambilnya, menjadikannya zona kebebasan. Biarkan hal-hal baik terjadi," ujar Trump.

Trump sebelumnya mengatakan dia ingin mengubah Gaza menjadi "Riviera Timur Tengah."

Warga Palestina Menolak Keras Usul Trump

Warga Palestina dengan keras menolak rencana apa pun yang melibatkan mereka meninggalkan Gaza, membandingkan gagasan semacam itu dengan "Nakba" tahun 1948, atau "malapetaka," ketika ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal dalam perang yang menyebabkan berdirinya Israel. Banyak yang mengatakan mereka lebih memilih tinggal di reruntuhan rumah mereka.

Mengomentari pernyataan Trump di Qatar, pejabat Hamas Basem Naim mengatakan presiden AS "memiliki pengaruh yang diperlukan" untuk mengakhiri perang Gaza dan membantu mendirikan negara Palestina.

"Gaza adalah bagian integral dari tanah Palestina - itu bukan real estate untuk dijual di pasar terbuka," kata Naim.

Keterlibatan langsung Amerika Serikat di Gaza akan semakin menyeret Washington ke dalam konflik Israel-Palestina dan berpotensi menandai intervensi terbesarnya di Timur Tengah sejak invasi Irak tahun 2003. Banyak warga Amerika memandang keterlibatan asing dengan skeptis.

Israel menginvasi Gaza sebagai balasan atas serangan yang dipimpin Hamas terhadap komunitas di Israel selatan pada 7 Oktober 2023, yang mengakibatkan sekitar 1.200 orang tewas dan 251 orang disandera ke Gaza, menurut catatan Israel.

Awal bulan ini, Israel menyetujui rencana ofensif yang diperluas terhadap Hamas yang mungkin mencakup perebutan Jalur Gaza dan pengendalian bantuan. Menurut petugas medis, sedikitnya 70 warga Palestina tewas dalam serangan Israel pada hari Kamis (15/5).

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggambarkan gagasan Trump sebagai visi yang berani. Ia mengatakan, dia dan presiden AS telah membahas negara mana yang mungkin bersedia menerima warga Palestina yang meninggalkan Gaza.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...