Zohran Mamdani Menang: New York City Dipimpin Walikota Muslim Pertama

Martha Ruth Thertina
5 November 2025, 13:18
Zohran Mamdani menyampaikan pidato kemenangan di Brooklyn, New York, Selasa (4/11) waktu setempat. Dia menang telak dalam pemilihan Walikota New York.
ABC News
Zohran Mamdani menyampaikan pidato kemenangan di Brooklyn, New York, Selasa (4/11) waktu setempat. Dia menang telak dalam pemilihan Walikota New York.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Zohran Mamdani mencetak kemenangan bersejarah dalam Pilkada New York City. Ia menjadi Muslim pertama yang akan memimpin kota dengan populasi penduduk terbesar di Amerika Serikat tersebut.

Mamdani mengalahkan para pesaingnya: mantan Gubernur Negara Bagian New York Andrew Cuomo dari Partai Demokrat yang maju lewat jalur independen, kandidat Partai Republik Curtis Sliwa, dan inkumben Eric Adams yang tengah terjerat kasus korupsi.

Saat berita ini ditulis, menurut estimasi dari Associated Press, dengan sekitar 91% suara masuk, Mamdani memeroleh sekitar 50,4% suara, jauh di depan pesaing terberatnya Cuomo 41,6%, Sliwa 7,1%, dan Adams 0,3%. Berbagai media AS sudah memberitakan kemenangan telak Mamdani.

Berdiri di hadapan para pendukung yang bersorak di Brooklyn, Mamdani yang berdarah India menyampaikan pidato kemenangan. Ia mengutip pernyataan Perdana Menteri pertama India Jawaharlal Nehru. 

"Saat berdiri di sini, saya teringat kata-kata Jawaharlal Nehru: 'Jarang terjadi dalam sejarah, ketika kita melangkah dari yang lama ke yang baru, ketika sebuah zaman berakhir dan jiwa suatu bangsa yang lama tertekan akhirnya menemukan suaranya.’ Malam ini, New York telah melakukan hal itu," ujarnya. 

Dari Uganda ke Amerika

Mamdani lahir di Kampala, Uganda, pada 18 Oktober 1991. Mengutip The Independent, dia tumbuh dalam keluarga intelektual dan berkesenian.

Ayahnya, Mahmood Mamdani, lahir di India dan besar di Uganda, merupakan profesor antropologi yang menekuni studi kolonialisme, antikolonialisme, dan dekolonisasi. Sedangkan ibunya, Mira Nair, adalah sutradara asal India yang dikenal lewat film “Salaam Bombay!” dan “Mississippi Masala”.

Ketika berusia tujuh tahun, Mamdani pindah bersama keluarganya ke Manhattan di Negara Bagian New York karena ayahnya mengajar di Columbia University. Setelah lulus SMA, ia sempat pindah ke Maine untuk menempuh pendidikan di Bowdoin College. Mengambil Studi Africana, Mamdani lulus pada 2014. Di era ini, ia sempat jadi rapper. 

Sekembalinya ke New York, ia bekerja sebagai konselor pencegahan penyitaan rumah. Ia baru memeroleh status warga negara Amerika Serikat pada 2018. Di masa ini, dia bertemu dengan istrinya, ilustrator Rama Duwaji, melalui aplikasi kencan Hinge.

Karier politiknya mulai menanjak ketika ia terpilih menjadi anggota Majelis Negara Bagian New York pada 2020, mewakili Distrik 36 di Queens. Selama empat tahun, ia memperkenalkan sekitar 20 rancangan undang-undang. Sebanyak tiga di antaranya disahkan menjadi undang-undang.

Janji Menurunkan Biaya Hidup di New York

Mamdani mengumumkan pencalonan sebagai walikota pada 2024, menjanjikan era perubahan dari pemerintahan korup di bawah Eric Adams, dan penurunan biaya hidup.

“Semua politisi bilang New York adalah kota terhebat di dunia,” tulisnya di X. “Tapi apa gunanya jika tak ada yang mampu tinggal di sini? Saya maju untuk menurunkan biaya hidup bagi kelas pekerja.”

Dia menawarkan ide-ide seperti bus kota gratis, moratorium kenaikan biaya sewa apartemen bersubsidi, toko grosir kota milik pemerintah, serta tempat penitipan anak universal. Kampanyenya berjalan dari pintu ke pintu, blok ke blok perumahan, hingga kehadiran intens di media sosial.

Kampanye Multikulturalisme

Pilkada berlangsung saat isu antisemitisme dan Islamofobia jadi perhatian utama penduduk New York. Mamdani merespons dengan “membangun jembatan”.

Ia menggandeng Brad Lander, auditor keuangan New York City yang beragama Yahudi dan dikenal progresif, untuk merespons kekhawatiran pemilih Yahudi terhadap sikapnya yang mendukung negara Palestina.

Tim kampanyenya juga merilis materi dalam berbagai bahasa, menyasar komunitas yang kerap terpinggirkan dalam kontestasi politik.

Presiden Donald Trump menolak mentah-mentah Mamdani dan sempat menyebut dia sebagai “100% Communist Lunatic” alias “100 persen Komunis Gila”. Trump melabuhkan dukungan kepada Cuomo dan mengancam akan memangkas anggaran federal untuk New York bila Mamdani menang.

Ancaman itu terbukti tak menyurutkan dukungan New Yorker, dengan Mamdani menang telak.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...