Sejumlah Negara Kecam Penangkapan Maduro oleh AS: Cina, Malaysia, hingga Rusia

Ameidyo Daud Nasution
5 Januari 2026, 19:18
Presiden Venezuela Nicolas Maduro muncul di layar saat ia menyampaikan pidato jarak jauh pada pembukaan sesi Dewan Hak Asasi Manusia PBB saat invasi Rusia di Ukraina, di Jenewa, Swiss, Senin (28/2/2022).
ANTARA FOTO/REUTERS/Fabrice Coffrini/Pool /foc/sad.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro muncul di layar saat ia menyampaikan pidato jarak jauh pada pembukaan sesi Dewan Hak Asasi Manusia PBB saat invasi Rusia di Ukraina, di Jenewa, Swiss, Senin (28/2/2022).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Militer Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam sebuah operasi pada Sabtu (3/1). Penangkapan tersebut memunculkan respons terbelah para pemimpin dunia.

Beberapa pemimpin dunia ada yang bersikap netral maupun memberikan dukungan terhadap langkah Trump. Meski demikian ada pula pemimpin yang mengecam aksi AS tersebut.

Salah satu yang tak mendukung langkah AS adalah Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. Dalam unggahan di akun Instagramnya, Anwar mengatakan tindakan AS adalah pelanggaran terhadap hukum internasional.

"Presiden Maduro dan istrinya harus dibebaskan tanpa penundaan yang tidak semestinya," kata Anwar dalam akun Instagramnya, Minggu (4/1).

Berikut sejumlah pemimpin hingga negara yang mengecam serangan AS:

Brasil

Presiden Brasil Luiz Inacio Lula Da Silva mengatakan tindakan AS melampaui batas. Ia juga mengatakan serangan Negeri Abang Sam merupakan pelanggaran hukum internasional.

Presiden Brasil membuka COP30
Presiden Brasil membuka COP30 (COP30 Brasil Amazonia/Antonio Scorza)

"Langkah pertama menuju dunia yang penuh kekerasan, kekacauan, dan ketidakstabilan," kata Lula

Kolombia

Presiden Kolombia Gustavo Petro mengatakan aksi AS tersebut serangan terhadap kedaulatan Amerika Latin. Petro juga mengirimkan pasukan ke perbatasan Venezuela untuk menjaga keamanan usai penangkapan Maduro.

"Memperingatkan seluruh dunia bahwa mereka (AS) telah menyerang Venezuela,” kata Petro dalam akun media sosial X seperti dikutip dari Al-Jazeera, Senin (5/1).

Chili

Dalam sebuah pernyataan yang diposting di X, Presiden Chili Gabriel Boric menyatakan prihatin dan mengecam tindakan militer AS di Venezuela. Boric juga mengingatkan agar tiap negara mengacu prinsip dasar hukum internasional.

"Krisis Venezuela harus diselesaikan melalui dialog dan dukungan multilateralisme, dan bukan melalui kekerasan atau campur tangan asing," kata Boric.

Meksiko

Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum juga mengecam intervensi militer di Venezuela. Sama seperti pemimpin lain, Sheinbaum menyatakan sikap lewat akun media sosial X.

Dalam unggahannya, ia juga menyertakan sebuah pasal dalam Piagam PBB yang menyatakan anggota PBB harus menahan diri dari penggunaan kekerasan terhadap integritas regional.

Malaysia

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim juga mengecam penangkapan Nicolas Maduro. Dia meminta AS membebaskan pemimpin Venezuela itu dalam waktu dekat.

"Apa pun alasannya, pemecatan paksa kepala pemerintahan yang sedang menjabat melalui tindakan eksternal menciptakan preseden yang berbahaya," kata Anwar dalam akun Instagramnya, Minggu (5/1).

Pidato Anwar Ibrahim di Sekretariat ASEAN
Pidato Anwar Ibrahim di Sekretariat ASEAN (ANTARA FOTO/Pandu BN/hma/YU)

Anwar mengatakan, penghormatan atas hukum internasional dan kedaulatan negara merupakan hal yang penting. Dia juga mengingatkan pentingnya dialog untuk mewujudkan solusi damai.

"Terlebih lagi di negara yang sudah bergulat dengan kesulitan ekonomi yang berkepanjangan dan ketegangan sosial yang mendalam," katanya.

Uruguay

Kementerian Luar Negeri Uruguay juga emantau serangan udara AS terhadap instalasi militer dan infrastruktur sipil Venezuela. Mereka menyatakan penolakannya terhadap intervensi militer satu negara di wilayah negara lain.

"Menegaskan kembali pentingnya menghormati hukum internasional dan Piagam PBB," demikian keterangan Kemlu Uruguay.

Cina

Kementerian Luar Negeri Cina mengutuk keras penggunaan kekerasan oleh AS terhadap negara berdaulat. Menurut mereka, tindakan tersebut mengancam perdamaian di Amerika Latin dan Karibia.

"Cina dengan tegas menentang perilaku hegemonik AS tersebut, yang secara serius melanggar hukum internasional," kata Kemlu Cina.

Rusia

Rusia juga menyatakan keprihatinan serta mengutuk tindakan AS. Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan saat ini penting untuk semua pihak agar mencegah eskalasi lebih lanjut.

“Venezuela harus dijamin haknya untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tangan militer yang merusak dari luar," demikian penjelasan Kemlu Rusia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...