Perseteruan Trump dan Powell Memanas, Pelaku Pasar Cemaskan Efek Bumerang
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menginginkan suku bunga turun drastis, pasar saham melonjak, dan, mungkin yang terpenting, agar gubernur Federal Reserve (The Fed) pilihannya itu mundur dari jabatannya. Namun, investigasi kriminal yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Jerome Powell oleh pemerintahan Trump mungkin tidak akan mencapai salah satu dari hasil tersebut.
Bahkan, eskalasi yang mengejutkan dari perseteruan panjang Trump-Powell bisa berujung pada bumerang. Hal itu dapat menunda penurunan suku bunga, memicu kegelisahan di Wall Street, dan membujuk Powell untuk tetap bertahan lama setelah masa jabatannya sebagai gubernur berakhir pada Mei 2026.
Ancaman Departemen Kehakiman untuk mendakwa Powell secara pidana bahkan dapat mempersulit Trump untuk mengganti Powell dengan orang yang loyal kepadanya.
“Ini adalah perang hukum dalam bentuk terburuknya. Saya sulit percaya mereka akan merendahkan diri sampai ke tingkat ini. Ini sudah keterlaluan,” kata mantan Presiden Federal Reserve Dallas, Richard Fisher, kepada CNN pada hari Senin (12/1), dalam sebuah wawancara telepon.
Fisher, yang duduk di dewan direksi perusahaan induk CNN, Warner Bros. Discovery, mengatakan dia tidak tahu apa yang ingin dicapai Trump melalui penyelidikan kriminal tersebut “selain untuk membalas dendam.”
Trump Tidak akan Menang
Untuk menghindari kepanikan di kalangan investor dan CEO, pemerintahan Trump di masa lalu menghindari menyerang Powell secara langsung. Mereka lebih memilih menggunakan hinaan dalam pernyataan publik.
Para investor langsung menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap peningkatan dramatis tersebut, dan sempat melanjutkan kembali aksi "jual Amerika" yang dimulai musim semi lalu sebagai respons terhadap kenaikan tarif bersejarah Trump.
Harga saham-saham di Bursa AS dan nilai tukar dolar AS sedikit melemah, pada Senin (12/1) pagi.
Respons yang lebih signifikan terlihat di pasar logam mulia. Harga emas melonjak 3% ke level tertinggi sepanjang masa di atas US$ 4.600 (Rp 77,64 juta) per ounce. Harga perak juga melonjak lagi 8% ke level tertinggi sejak 1979 sebesar US$ 86 (Rp 1,45 juta) per ounce, pada hari Senin.
Para ekonom mengatakan kepada CNN mereka khawatir penyelidikan kriminal Departemen Kehakiman terhadap Powell secara langsung menargetkan independensi The Fed, yang dirancang untuk terisolasi dari campur tangan politik.
“Upaya untuk mengkriminalisasi pelaksanaan kebijakan moneter adalah suatu penghinaan,” kata profesor ekonomi Universitas Michigan, Justin Wolfers, kepada CNN.
“Setiap warga Amerika harus menentang ini. Ekonomi yang buruk. Politik yang buruk. Buruk bagi supremasi hukum. Buruk bagi pasar.”
Tim Mahedy, mantan pejabat di Federal Reserve San Francisco, mengatakan Trump mencoba mengirim pesan kepada para pejabat Fed saat ini dan di masa mendatang, yang tidak sejalan dengan keinginan Trump untuk suku bunga rendah.
“Trump tidak akan memenangkan ini,” kata Mahedy, CEO dan kepala ekonom di Access Macro, sebuah perusahaan konsultan. “Powell bukanlah orang yang bisa diintimidasi. Mereka tidak akan menurunkan suku bunga pada bulan Januari.”
Langkah ini bahkan membuat Menteri Keuangan Scott Bessent kesal. Sumer CNN mengatakan Bessent tidak senang dengan keputusan untuk menuntut Jerome Powell. Bessent khawatir keputusan tersebut akan merugikan pasar. Di masa lalu, Trump pernah diperingatkan bahwa pemecatan Powell dapat mengakibatkan hal tersebut.
Peluang Penurunan Suku Bunga AS Tipis
Pasar hanya melihat peluang 5% penurunan suku bunga Fed pada pertemuan berikutnya di akhir Januari, menurut CME FedWatch Tool. Angka itu sedikit berubah dari 4,4% pada hari Minggu (11/1) dan turun dari 17% seminggu yang lalu.
“Ini adalah tindakan keterlaluan yang, jika dilakukan oleh presiden lain mana pun, akan mengejutkan,” kata mantan Wakil Gubernur Fed, Alan Blinder, kepada CNN melalui email. “Untungnya, Fed dan ketuanya, Jerome Powell, tidak mudah diintimidasi.”
Para pengamat Fed mengatakan serangan Trump terhadap lembaga tersebut dapat membuat para pejabat yang masih ragu-ragu mengenai penurunan suku bunga enggan terlihat menuruti perintah presiden.
“Secara keseluruhan, ini kontraproduktif terhadap agenda presiden dan hampir memaksa FOMC untuk lebih agresif guna menghindari tekanan politik,” kata Mahedy.
Setiap mantan gubernur Fed yang masih hidup, sekelompok mantan menteri keuangan, dan ekonom Gedung Putih dari berbagai partai mengeluarkan pernyataan untuk membela Powell "dari upaya yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk melemahkan" independensi Fed. Mereka menyamakan serangan itu dengan apa yang terjadi di pasar negara berkembang.
Gedung Putih telah berupaya menjauhkan Trump dari penyelidikan Departemen Kehakiman.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan, Trump tidak pernah memerintahkan Departemen Kehakiman untuk membuka penyelidikan terhadap Powell, yang sebelumnya telah dicemooh presiden sebagai "orang bodoh," "orang tolol," dan "orang yang benar-benar dungu."
Powell Masih Bisa Bertahan di The Fed
Upaya Trump untuk menggulingkan Powell justru dapat menyebabkan hal sebaliknya terjadi.
Meskipun masa jabatan Powell sebagai ketua berakhir pada Mei 2026, secara teori ia dapat tetap berada di The Fed selama bertahun-tahun. Pasalnya, masa jabatannya di Dewan Gubernur bank sentral AS baru berakhir pada Januari 2028.
Powell bersikap tertutup mengenai apakah ia akan tetap berada di The Fed, menolak usulan Trump untuk menggantinya di dewan, dan memastikan suara yang kuat untuk mendukung independensi The Fed tetap ada.
Ketika ditanya oleh CNN tentang gagasan ini pada bulan Desember, Powell mengelak dengan mengatakan: “Saya fokus pada sisa waktu saya sebagai gubernur bank sentral AS. Saya tidak punya hal baru untuk disampaikan kepada Anda mengenai hal itu.”
Namun, yang menarik adalah hingga pekan lalu, para petaruh di pasar prediksi Kalshi memperkirakan peluang 85% bahwa Powell akan keluar dari posisi sebagai gubernur Fed sebelum Agustus. Tetapi, peluang tersebut anjlok setelah berita tentang penyelidikan kriminal dan sekarang hanya berada di angka 55%.
Dengan kata lain, pasar berpikir Powell lebih mungkin untuk tetap menjabat. Ini justru kebalikan dari apa yang diinginkan Trump.
“Menurut saya ini adalah langkah yang sangat tidak bijaksana dan bodoh,” kata Douglas Holtz-Eakin, Presiden American Action Forum, sebuah lembaga think tank berhaluan tengah-kanan. “Ini benar-benar bodoh.”
Trump Bakal Umumkan Kandidat Pilihannya untuk Gantikan Powell
Trump mungkin akan segera mengumumkan pilihannya untuk menggantikan Powell, dengan kandidat utama termasuk mantan Gubernur Fed Kevin Warsh dan ekonom Gedung Putih Kevin Hassett.
Namun, nama-nama tersebut harus mendapatkan persetujuan dari Senat AS. Investigasi Powell tampaknya telah mempersulit tugas tersebut secara signifikan.
Beberapa menit setelah pernyataan video Powell yang menantang pada Minggu (11/1) malam, Senator Republik Thom Tillis mengatakan di X bahwa panggilan pengadilan ini seharusnya menghilangkan "keraguan yang tersisa" bahwa pejabat Trump secara aktif mendorong untuk mengakhiri independensi Fed.
Tillis, yang duduk di Komite Perbankan Senat yang akan mempertimbangkan calon pengganti Powell, mengatakan dia akan menentang pengesahan setiap calon untuk Fed. Termasuk, kekosongan jabatan gubernur Fed yang akan datang, sampai masalah hukum Powell diselesaikan.
Senator Republik dari Alaska Lisa Murkowski mengatakan, dia mendukung langkah Tillis dan menyebut tindakan pemerintahan Trump "tidak lebih dari upaya pemaksaan."
Jika senator Partai Republik lainnya mengikuti jejaknya, itu dapat memperlambat atau menggagalkan upaya Trump untuk mengesahkan pengganti Powell.
