Iran Gelar Latihan Bersama Pasukan Rusia, AS Beri Peringatan
Amerika Serikat (AS) memperketat ancaman sanksi dan aksi militer terhadap Iran menyusul kebuntuan putaran kedua perundingan nuklir yang berlangsung di Jenewa, Swiss, pada 18 Februari. Sikap keras AS ini juga menyusul langkah Teheran yang menggelar latihan angkatan laut bersama Rusia di Laut Oman.
Washington menilai langkah Iran tersebut memperburuk situasi keamanan kawasan dan memperkecil peluang tercapainya kesepakatan. AS dan Iran sebelumnya juga telah menggelar perundingan nuklir putaran pertama pada 6 Februari lalu di Oman selaku mediator.
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Iran akan sangat bijak jika bisa mencapai kesepakatan dengan Presiden AS Donald Trump. Ini menyusul berakhirnya pembicaraan di Jenewa tanpa terobosan signifikan.
Leavitt mengakui adanya kemajuan yang terbatas dalam perundingan tersebut. Namun, ia mengatakan, Washington dan Teheran masih memiliki perbedaan tajam dalam sejumlah isu krusial, terutama terkait pengayaan uranium dan perluasan cakupan perjanjian nuklir.
“Kami masih sangat berjauhan dalam sejumlah isu," kata Leavitt, sebagaimana diberitakan oleh Al Jazeera pada Kamis (18/2).
Pada pertemuan pertama di Oman, AS menuntut Iran menghentikan program pengolahan uranium di wilayahnya dan berupaya memperluas negosiasi ke isu nonnuklir, seperti persediaan rudal Iran.
Di sisi lain, Iran mengatakan program nuklirnya bertujuan damai dan menyatakan bersedia membahas pembatasan hanya dengan imbalan pelonggaran sanksi. Teheran menolak nol pengayaan uranium dan menutup kemungkinan perundingan terkait kemampuan misilnya.
Iran-Rusia Gelar Latihan Militer Bersama
Di tengah berlanjutnya upaya diplomasi, AS terus memperkuat kehadiran militernya di sekitar Iran. Trump memerintahkan pengiriman kapal induk kedua ke kawasan tersebut.
Pada 15 Februari lalu, kapal induk pertama, USS Abraham Lincoln yang membawa hampir 80 pesawat di atasnya terdeteksi berada sekitar 700 kilometer dari pantai Iran.
Iran juga berupaya menunjukkan kekuatan militernya. Islamic Revolutionary Guard Corps menggelar serangkaian latihan perang sepanjang awal pekan ini di Selat Hormuz. Teheran juga mengelar latihan bersama dengan Angkatan Laut Rusia di Laut Oman.
Laksamana Muda Hassan Maqsoudlou mengatakan latihan yang digelar pada Kamis (19/2) bertujuan menyampaikan pesan perdamaian dan persahabatan kepada negara-negara di kawasan. Ia menjelaskan, latihan tersebut juga dimaksudkan untuk mencegah tindakan sepihak di wilayah tersebut.
Selain itu, kegiatan ini bertujuan meningkatkan koordinasi dalam menghadapi ancaman terhadap keamanan maritim, termasuk risiko terhadap kapal niaga dan tanker minyak.
Otoritas Iran juga mengeluarkan pemberitahuan kepada penerbang terkait rencana peluncuran roket di sejumlah wilayah selatan negara itu pada Kamis pukul 03.30 hingga 13.30 GMT.
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, memperingatkan bahwa setiap serangan baru AS terhadap Iran akan membawa konsekuensi serius. Ia menilai seranganterhadap fasilitas nuklir Iran yang berada di bawah pengawasan International Atomic Energy Agency telah menciptakan risiko nyata terjadinya insiden kontaminasi nuklir.
Lavrov juga mengingatkan, eskalasi ketegangan dapat merusak perbaikan hubungan Iran dengan negara-negara tetangga, khususnya Arab Saudi. “Tidak ada yang menginginkan peningkatan ketegangan. Semua orang paham ini seperti bermain api,” ujarnya.
Trump telah memberikan peringatan keras kepada Iran melalui unggahan di media sosial Truth Social. Ia menilai, jika Teheran memilih tidak mencapai kesepakatan terkait pemanfaatan fasilitas nukir, maka AS dapat mempertimbangkan penggunaan armada dari pangkalan udara di Kepulauan Chagos, Samudra Hindia.
"Ini untuk meniadakan potensi serangan dari rezim yang sangat tidak stabil dan berbahaya," tulis Trump.
Upaya negosiasi kedua negara sebelumnya runtuh tahun lalu ketika Israel melancarkan serangan ke Iran. Aksi ini memicu perang selama 12 hari yang kemudian diikuti Washington dengan membom tiga fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Trump kembali mengeluarkan ancaman aksi militer pada Januari menyusul penindakan keras Iran terhadap demonstran antipemerintah yang menewaskan sejumlah orang.
Teheran merespons dengan mengancam akan menutup Selat Hormuz—jalur vital ekspor minyak negara-negara Teluk—serta memperingatkan kemungkinan serangan terhadap pangkalan militer AS di kawasan.
Iran Ubah Infrastruktur
Pemerintah Iran juga dikabarkan mulai mengubah infrastruktur dari di sekitar kawasan sensitif milik militernya. Perubahan tersebut tampak dilakukan sejak konflik Iran-Israel meningkat pada 2024 sampai sekarang.
Berdasarkan gambar satelit, salah satu kawasan militer yang berubah adalah Kompleks Militer Parchin yang menjadi target serangan Israel pada 2024. Institut Sains dan Keamanan Internasional mengatakan, perubahan disinyalir untuk melindungi lokasi dari potensi serangan udara.
Israel telah meluncurkan misil bom ke Kompleks Militer Parchin pada 2024. Salah satu infrastruktur yang rusak dalam serangan tersebut adalah bangunan persegi panjang.
Berdasarkan gambar satelit, struktur berbentuk persegi panjang tersebut mulai dibangun kembali pada 12 Oktober 2025 dan rampung pada 14 November 2025. Adapun gambar satelit pada 13 Desember 2025 tampak sebagian bangunan tersebut ditutupi tanah dan tertutupi seluruhnya pekan ini, Senin (16/2).
Pendiri Institut Sains dan Keamanan Internasional David Albright menduga banguan tersebut adalah fasilitas penelitian senjata nuklir yang sebelumnya telah dihancurkan pada Oktober 2024, yakni Talghen 2. Menurutnya, militer Iran menutupi Taleghan 2 baru dengan tanah untuk mengaburkan pengamatan dari udara.
"Fasilitas tersebut kemungkinan akan menjadi bunker yang tidak dapat dikenali, yang akhirnya memberikan perlindungan signifikan dari serangan udara," kata David.
Ada lima fasilitas militer yang mendapatkan bangunan beton baru atau ditutupi tanah, yakni Kompleks Militer Parchin, Kompleks Nuklir Isfahan, Situs Natanz, Basis Misil di Shiraz Selatan, dan Basis Misil QOM.

