Perundingan Nuklir Iran-AS Masuk Babak Penentuan untuk Cegah Konflik Meningkat
Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali menggelar perundingan sengketa nuklir di Jenewa, Swiss pada Kamis (26/2), waktu setempat. Negosiasi ini disebut sebagai babak penentuan setelah dua perundingan sebelumnya mengalami kebuntuan.
Dua perundingan sebelumnya berlangsung pada 18 Februari di Jenewa, Swiss dan 6 Februari lalu di Oman. Perundingan terbaru yang digelar pada Kamis ini diharapkan mampu menyelesaikan sengketa sekaligus mencegah potensi serangan baru AS terhadap Iran.
Pemerintah AS sebelumnya telah memperketat ancaman sanksi dan aksi militer terhadap Iran menyusul kebuntuan putaran kedua perundingan nuklir pada 18 lalu Februari. Sikap keras AS ini juga menyusul langkah Teheran yang menggelar latihan angkatan laut bersama Rusia di Laut Oman.
Pada 15 Februari lalu, kapal induk pertama, USS Abraham Lincoln yang membawa hampir 80 pesawat di atasnya terdeteksi berada sekitar 700 kilometer dari pantai Iran.
Armada kedua yang dipimpin oleh Kapal Perang USS Gerald R Ford pada Selasa (24/2) telah berada di Perairan Yunani dalam perjalanan berlayar ke kawasan Timur Tengah.
AS dan Israel meyakini Iran bertujuan untuk mengembangkan senjata nuklir. Melansir pemberitaan Reuters pada Kamis (26/2), Utusan Khusus AS, Steve Witkoff, dan menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, dijadwalkan menghadiri perundingan tidak langsung dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya sempat menyampaikan kemungkinan serangan terhadap Iran dalam pidato tahunan kenegaraan di hadapan kongres di Gedung Capitol, Washington, D.C, pada Selasa, 24 februari.
Dalam pidato tersebut, Trump menyatakan lebih memilih penyelesaian melalui jalur diplomasi, namun ia tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.
Pada Rabu (25/2) malam, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi bersama Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi, yang bertindak sebagai mediator, membahas proposal yang akan diajukan Iran guna mencapai kesepakatan.
Berdasarkan pernyataan Kementerian Luar Negeri Oman yang diunggah di media sosial X, Albusaidi dijadwalkan bertemu dengan tim perunding Amerika Serikat pada Kamis pagi untuk menyampaikan pandangan Iran sekaligus mendengarkan posisi AS.
Kepala Badan Energi Atom Internasional Rafael Grossi juga diperkirakan berada di Jenewa selama perundingan untuk menggelar pembicaraan dengan kedua pihak.
Trump Ultimatum Iran
Sementara itu, Wakil Presiden AS, JD Vance, menegaskan kembali sikap Trump bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. "Itu akan menjadi tujuan militer utama jika jalur itu yang dipilih Presiden Trump,” kata Vance dalam wawancara dengan Fox News pada Rabu (25/2).
Trump pada 19 Februari lalu memberikan tenggat 10 hingga 15 hari bagi Iran untuk mencapai kesepakatan, sembari memperingatkan konsekuensi serius jika gagal.
AS telah mengerahkan kekuatan militer secara besar-besaran di Timur Tengah—pengerahan terbesar sejak invasi Irak pada 2003—yang memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik regional.
Pada Juni tahun lalu, AS bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas nuklir Iran. Teheran pun mengancam akan melakukan pembalasan keras jika kembali diserang.
Meski perundingan berfokus pada program nuklir Iran, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut penolakan Iran untuk membahas program rudal balistik sebagai masalah besar yang pada akhirnya harus diselesaikan.
Rubio menilai rudal tersebut dirancang semata-mata untuk menyerang AS dan berpotensi mengancam stabilitas kawasan. “Jika bahkan kemajuan dalam program nuklir saja tidak tercapai, akan sulit membuat kemajuan dalam isu rudal balistik,” ujar Rubio kepada wartawan di Saint Kitts pada Rabu malam.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada Selasa (24/2) mengatakan Iran menargetkan kesepakatan yang adil dan cepat. Namun, ia menegaskan Teheran tidak akan melepaskan hak atas penguasaan teknologi nuklir untuk tujuan damai.
Sementara itu, Washington memandang pengayaan uranium di dalam negeri Iran sebagai jalur potensial menuju pengembangan senjata nuklir.
Seorang pejabat senior Iran kepada Reuters melaporkan bahwa pada akhir pekan lalu Teheran telah menawarkan konsesi baru sebagai imbalan pencabutan sanksi serta pengakuan atas haknya untuk memperkaya uranium, seiring upaya mencegah serangan AS. Namun, kedua pihak belum mencapai titik temu.
