Cara Militer Iran Hadapi AS-Israel: Andalkan Rudal, Drone, dan Jaringan Proksi

Muhamad Fajar Riyandanu
3 Maret 2026, 18:04
iran, drone, amerika serikat, israel
Zona Defensa
Ilustrasi drone
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pasukan Iran gencar meluncurkan serangan balasan setelah operasi militer gabungan antara Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu (28/2) menewaskan Pemimpin Agung (Ayatullah) Ali Hosseini Khamenei.

Militer Iran kini menargetkan sejumlah fasilitas militer AS yang berada di kawasan Timur Tengah dan negara-negara Teluk. Iran juga melancarkan serangan udara ke Kantor Kedutaan Besar AS di Ibu Kota Arab Saudi, Riyadh, pada Selasa (3/3) dini hari waktu setempat. Serangan itu memicu kebakaran di area kompleks diplomatik.

Iran membangun kekuatan militernya dengan menitikberatkan pada rudal balistik, pesawat nirawak (drone) tempur, dan strategi perang asimetris untuk menghadapi tekanan AS dan Israel.

Perang asimetris menitikberatkan bahwa pihak yang lebih lemah tidak harus menang secara militer dalam arti konvensional. Mereka cukup bertahan, menguras sumber daya lawan, serta menciptakan biaya politik dan ekonomi yang tinggi hingga musuh kehilangan momentum.

Strategi ini merupakan kebalikan dari perang simetris, di mana pihak yang memiliki kekuatan militer superior biasanya meraih kemenangan melalui penghancuran kapasitas tempur lawan secara langsung dan terbuka.

Sejumlah laporan media internasional menyebut Teheran mengembangkan doktrin pertahanan berbasis daya tangkal atau deterrence dan serangan jarak jauh. Pemerintah Iran mengoperasikan salah satu arsenal rudal balistik terbesar di Timur Tengah.

Catatan kajian intelijen AS yang dikutip Council on Foreign Relations pada 6 Februari lalu menyatakan Iran memiliki ribuan rudal dengan jangkauan hingga sekitar 2.000 kilometer (KM).

Militer Iran mengembangkan rudal seperti Kheibar Shekan dan sistem lain yang mampu menjangkau pangkalan militer AS di kawasan Teluk serta wilayah Israel.

Iran juga memperkuat armada drone tempurnya dalam satu dekade terakhir. Laporan The Guardian pada Senin (2/2) menyebut Teheran menggunakan drone Shahed-136 dalam berbagai operasi lintas kawasan.

Militer Iran memproduksi drone tersebut secara massal dan meluncurkannya dalam pola serangan berkelompok untuk menembus sistem pertahanan udara lawan.

Rencana operasionalnya mencakup penargetan fasilitas energi strategis serta serangan yang berpotensi mengganggu lalu lintas dan perjalanan udara di kawasan tersebut.

The Guardian melaporkan Shahed-136 merupakan pesawat tak berawak serangan satu arah atau drone kamikaze yang dikembangkan oleh industri dirgantara milik Iran, yakni Shahed Aviation Industries Research Center.

Seri ini dirancang di Iran pada akhir dekade lalu dan mulai tampak secara publik pada pertengahan 2021. Drone itu pertama kali terlihat dalam serangan terhadap kapal tanker minyak MT Mercer Street pada Juli 2021 yang menewaskan seorang warga Inggris dan Rumania.

AS menyebut Shahed Aviation Industries Research Center sebagai perusahaan Iran yang berada di bawah kendali Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).

IRCG memegang peran sentral dalam strategi militer Iran. Mereka mengendalikan program rudal, mengoordinasikan operasi eksternal, serta membina jaringan kelompok sekutu di Lebanon, Irak, Suriah, dan Yaman.

Kemampuan Rudal Iran

Iran juga memiliki rudal Sejjil yang merupakan rudal balistik jarak menengah buatan Iran yang memiliki jangkauan hingga 2.000 km. Jangkauan ini melebihi rudal Emad (1.700 km) dan Shahab-3 (1.300 km). Rudal ini pertama kali diuji coba pada 2008 dan dikenal sebagai rudal terbesar dan tercepat dalam arsenal Iran.

Center for Strategic and International Studies (CSIS) mencatat rudal Sejjil memiliki panjang sekitar 18 meter dan diameter 1,25 meter. Saat diluncurkan, bobot totalnya mencapai 23.600 kg. Sejjil juga mampu membawa hulu ledak hingga 700 kg bahan peledak berdaya tinggi (high explosive).

Laporan Sky News pada 14 Juni 2025 lalu menyebut jaringan proksi tersebut memperluas jangkauan pengaruh Iran tanpa harus mengerahkan perang konvensional skala penuh.

Jaringan ini mencakup berbagai kelompok bersenjata yang mendapat dukungan atau afiliasi dengan Teheran, seperti kelompok Palestina Hamas, gerakan Hizbullah di Lebanon, serta pemberontak Houthi di Yaman, termasuk pula berbagai milisi pro-Teheran di Irak dan Suriah.

Adapun Hizbullah Lebanon didirikan oleh IRGC pada tahun 1982 dengan tujuan untuk melawan pasukan Israel yang telah menginvasi Lebanon pada tahun itu.

Di sektor maritim, Angkatan Laut Iran mengadopsi strategi asimetris di perairan Teluk. Militer Iran mengerahkan kapal cepat bersenjata rudal, ranjau laut, dan kapal selam mini untuk mengamankan sekaligus mengancam jalur energi global di Selat Hormuz.

Meski demikian, Iran menghadapi sejumlah keterbatasan dalam hal kekuatan udara. Teheran belum memiliki armada jet tempur modern yang setara dengan Israel atau AS. Kelemahan tersebut membuat Iran lebih mengandalkan rudal dan drone sebagai instrumen utama pembalasan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...