AS hingga Cina Minta Iran Buka Jalur Pelayaran di Selat Hormuz
Sejumlah negara telah meminta Iran untuk kembali membuka jalur pelayanan Selat Hormuz di tengah konflik bersenjata dengan Israel dan Amerika Serikat.Ini karena selat tersebut penting untuk stabilitas energi.
Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman ke Samudra Hindia dinilai krusial bagi stabilitas perdagangan energi global.
Salah satu negara yang mulai mendesak Iran untuk membuka Selat Hormuz adalah Cina. Dikutip dari The Guardian, pekan lalu Kementerian Luar Negeri Cina menyerukan semua pihak menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Beijing menilai eskalasi konflik yang mengganggu jalur tersebut berisiko memicu kenaikan biaya pengiriman dan mengganggu distribusi energi dunia.
Cina merupakan importir minyak dan gas terbesar di dunia. Negeri Panda juga menjadi pembeli utama minyak Iran dalam beberapa waktu terakhir. Mereka menjadi salah satu yang paling terdampak jika pengiriman energi melalui jalur tersebut terganggu.
Sedangkan 20% pengiriman minyak mentah melalui jalur laut melintasi wilayah tersebut. Selain itu, sekitar 20% kapal pengangkut gas alam dunia serta sepertiga perdagangan pupuk global juga melewati jalur ini.
Data perusahaan intelijen maritim Windward menunjukkan hanya tujuh kapal yang melintasi Selat Hormuz pada 2 Maret. Jumlah itu turun sekitar 60% dibandingkan hari sebelumnya dan jauh di bawah rata-rata harian yang biasanya mencapai 79 kapal.
Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan menutup Selat Hormuz sejak 28 Februari lalu setelah adanya serangan militer gabungan AS dan Israel.
Penutupan Selat Hormuz menghambat ekspor energi dari sejumlah produsen kelas kakap seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Irak, Kuwait, serta Iran, ke pasar global. Kondisi tersebut berpotensi memicu kekurangan pasokan energi dan mendorong kenaikan harga.
India menjadi salah satu negara Asia yang paling terdampak karena sangat bergantung pada impor minyak dan gas dari Timur Tengah. Selain itu, Korea Selatan, Thailand, dan Filipina juga termasuk negara yang paling rentan terhadap lonjakan harga minyak akibat ketergantungan mereka pada impor energi.
Penghentian pelayaran juga mendorong kenaikan tajam biaya pengiriman. Tarif spot sewa kapal tanker minyak mentah jenis very large crude carrier (VLCC) dari Timur Tengah ke Cina melonjak hingga lebih dari US$ 424 ribu per hari. Angka itu empat kali lipat dibandingkan tarif sekitar US$ 100 ribu per hari yang berlaku dalam beberapa pekan sebelumnya.
Dorongan serupa juga disampaikan oleh Presiden AS, Donald Trump. Dikutip dari Al Jazeera pada 9 Maret, Trump mengancam serangan militer yang lebih besar kepada Iran jika IRGC terus menghalangi pelayaran di Selat Hormuz.
Penutupan Selat Hormuz disebut telah memicu lonjakan harga minyak mentah jenis Brent yang menjadi acuan minyak internasional menembus US$ 119 per barel.
“Saya tidak akan membiarkan rezim teroris menahan dunia sebagai sandera dan berusaha menghentikan pasokan minyak global," kata Trump.
Trump menyatakan bahwa AS berupaya mengakhiri ancaman di Selat Hormuz, termasuk menawarkan asuransi bagi kapal tanker yang beroperasi di Teluk.
Tingginya tarif sewa kapal tanker juga dipicu karena sejumlah perusahaan asuransi maritim membatalkan perlindungan risiko perang untuk kapal yang beroperasi di Teluk.
