Iran Siap Gelar Perang Jangka Panjang Lawan AS, Seperti Apa Strateginya?
Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Iran bahkan disebut-sebut akan mengandalkan perang dalam jangka panjang melawan kekuatan Negeri Abang Sam.
Hal ini bahkan disampaikan oleh seorang pejabat tinggi Iran, Kamal Kharazi. Penasihat kebijakan luar negeri untuk kantor pimpinan tertinggi Iran itu mengatakan mereka menolak diplomasi dengan AS.
"Saya tidak melihat ruang untuk diplomasi lagi. Karena Donald Trump telah menipu orang lain dan tidak menepati janjinya," kata Kamal Kharazi pada Senin (9/3) dikutip dari CNN.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga memberikan sinyal serupa. Araghchi mengatakkan Iran telah mempelajari militer AS selama 20 tahun.
Araghchi juga mengatakan, serangan yang dilakukan AS tak akan berdampak pada kemampuan Iran bertahan. Dia lalu menyinggung model pertahanan Iran yang mampu membuat Negeri Mullah itu menghadapi AS.
"Pertahanan Mosaik Terdesentralisasi memungkinkan kita untuk memutuskan kapan—dan bagaimana—perang akan berakhir," kata Abbas Araghchi pada 2 Maret lalu.
Pertahanan Mosaik
Dikutip dari Al Jazeera, pertahanan Mosaik adalah konsep militer terkait Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), khususnya di bawah mantan komandan Mohammad Ali Jafari pada tahun 2007 hingga 2019.
Pertahanan ini adalah konsep di mana Iran mampu terus berperang meski kehilangan komandan senior, fasilitas terpusat, hingga pusat kendali.
Model ini mulai diadopsi usai invasi AS ke Afganistan dan Irak. Saat itu, para pemikir militer melihat rezim Saddam Hussein tumbang dengan cepat karena kekuatan militer yang sangat terpusat.
Dengan model ini, militer Iran bukan sekadar mempertahankan Teheran, atau melindungi kepemimpinan tertinggi. Prioritas mereka adalah menjaga pengambilan keputusan, mempertahankan unit tempur agar tetap beroperasi, dan mencegah perang berakhir dengan satu serangan.
Alih-alih membuat militernya lebih bergantung pada kendali pusat, Iran beralih ke difusi. Alih-alih berasumsi bahwa mereka dapat menandingi superioritas konvensional AS atau Israel, Iran fokus pada bertahan hidup.
Doktrin Iran mengasumsikan setiap aggresor akan memiliki teknologi, kekuatan udara, dan kemampuan intelijen yang lebih unggul. Dengan metode ini, Iran mengharapkan konflik bisa diperpanjang sehingga lawan akan terdampak dari sisi biaya hingga lainnya untuk melanjutkan perang.
Perlawanan Berjenjang
Dalam model ini, tentara regular akan menjadi target pertama serangan. Sedangkan unit pertahanan Udara akan mencoba mengurangi keunggulan udara lawan sebisa mungkin.
IRGC dan Basij akan berperan banyak dalam tahap perang berikutnya. Mereka akan mengubah perang terbuka menjadi perang gesekan (war of attrition) dengan perlawanan lokal, penyergapan, hingga operasi lokal.
Angkatan Laut akan bergerak untuk menutup akses Selat Hormuz. Sedangkan pasukan rudal yang dikendalikan IRGC akan fokus pada serangan jarak jauh ke infrastruktur lawan.
Iran juga akan memperluas konflik lewat jaringan regional mereka di Timur Tengah. Tujuannya: menyebarkan perang lewat segala lapisan alih-alih terisolasi dalam satu front yang mudah dihancurkan.
Dikutip dari Associated Press, dengan situasi ini, maka pemenang dari perang adalah negara yang bisa menahan serangan lebih panjang. Bagi penguasa Iran, kemenangan berarti bertahan tanpa kehilangan kekuasaan.
Pejabat Kementerian Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, juga mengatakan negaranya menolak tawaran gencatan senjata dari Cina, Rusia, hingga Prancis.
Ini sekaligus merespons Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengatakan negaranya telah memenangkan beberapa pertempuran dengan Iran saat ini.
“Saat ini, kami memegang kendali,” kata Gharibabadi pada Senin (9/3).

