Iran Bantah Serang Pelabuhan Oman, Diduga Ada Operasi Bendera Palsu

Andi M. Arief
12 Maret 2026, 16:55
Update Perang Iran
ANTARA
Update Perang Iran
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Sebuah drone telah menyerang salah satu fasilitas penyimpanan minyak mentah di Pelabuhan Salalah, Oman. Militer Iran membantah serangan tersebut dilancarkan dari Tanah Persia.

Inchcape Shipping Services melaporkan seluruh operasi terminal kargo lokal dan global telah dihentikan. Sedangkan otoritas Pelabuhan Salalah menyatakan telah menginstruksikan evakuasi bagi seluruh orang di kawasan pelabuhan untuk alasan keamanan.

“Kami sedang mengevaluasi situasi secara berjalan dan akan memberikan kabar terbaru selanjutnya tentang kelanjutan operasi saat bisa dilakukan," kata Pengelola Pelabuhan Salalah dalam keterangan resmi, Kamis (12/3).

Berdasarkan laporan Bloomberg, penutupan Pelabuhan Salalah tidak berdampak pada pasokan minyak mentah di Oman. Pemerintah Oman menekankan seluruh pasokan minyak mentah di dalam negeri masih tersedia dan dalam kondisi normal.

Dilansir dari Times of India, serangan misil yang terjadi di Pelabuhan Salalah diduga berasal dari Iran. Namun Pusat Komando Militer Iran Khatam Al-Anbiya menyangka serangan tersebut sebagai operasi bendera palsu atau false flag oleh koalisi Amerika Serikat dan Israel.

Seperti diketahui, operasi bendera palsu adalah tindakan untuk menyamarkan sumber tanggung jawab dan menimpakan kesalahan pada pihak lain. Dengan kata lain, militer Iran menuding serangan di Pelabuhan Salalah berasal dari koalisi Amerika Serikat dan Israel.

Dalam pernyataan resmi, Pusat Komando Khatam Al-Anbiya menilai serangan di Pelabuhan Salalah sebagai hal yang mencurigakan. Adapun pemerintah Iran menyatakan sedang memeriksa kondisi di sekitar lokasi serangan udara di Oman.

Di samping itu, pemerintah Iran membantah serangan di Pelabuhan Salalah berasal dari Tanah Persia. Pemerintah Iran berargumen memiliki hubungan baik sebagai sahabat dan tetangga dengan Kesultanan Oman dan tidak mencari konfrontasi dengan negara Islam di Timur Tengah.

Karena itu, pemerintah Iran mengingatkan Amerika Serikat dan Israel bahwa konflik dengan Iran berpotensi meluas ke seluruh negara di Timur Tengah akibat operasi bendera palsu.

Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Iran bahkan disebut-sebut akan mengandalkan perang dalam jangka panjang melawan kekuatan Negeri Abang Sam.

Hal ini bahkan disampaikan oleh seorang pejabat tinggi Iran, Kamal Kharazi. Penasihat kebijakan luar negeri untuk kantor pimpinan tertinggi Iran itu mengatakan mereka menolak diplomasi dengan AS.

"Saya tidak melihat ruang untuk diplomasi lagi. Karena Donald Trump telah menipu orang lain dan tidak menepati janjinya," kata Kamal Kharazi pada Senin (9/3), dikutip dari CNN.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga memberikan sinyal serupa. Araghchi mengatakan Iran telah mempelajari militer AS selama 20 tahun.

Araghchi juga mengatakan serangan yang dilakukan AS tak akan berdampak pada kemampuan Iran bertahan. Dia lalu menyinggung model pertahanan Iran yang mampu membuat Negeri Mullah itu menghadapi AS.

"Pertahanan Mosaik Terdesentralisasi memungkinkan kita untuk memutuskan kapan—dan bagaimana—perang akan berakhir," kata Abbas Araghchi pada 2 Maret lalu. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...