Trump Kirim Lebih Banyak Pasukan ke Timur Tengah, Pasar AS Kian Bergolak

Ahmad Islamy
21 Maret 2026, 15:10
Timur Tengah
Instagram/White House
Presiden AS Donald Trump.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, belum lama ini menyebut pemerintahannya tengah mempertimbangkan untuk mengurangi (winding down) operasi militer di Timur Tengah. Namun, pernyataannya itu justru memicu tanda tanya besar di pasar global.

Pasalnya, apa yang disampaikan bos Gedung Putih itu justru kontradiktif dengan langkah Washington yang baru saja mengumumkan pengiriman tambahan kapal perang dan pasukan Marinir AS ke Timur Tengah di saat masih berkecamuknya perang dengan Iran.

Ketidakpastian arah kebijakan AS tersebut mencuat setelah lonjakan harga minyak mentah kembali menyeret bursa saham AS ke zona merah. Pada penutupan perdagangan Jumat (20/3) sore waktu AS atau Sabtu (21/3) pagi WIB, indeks S&P 500 ditutup merosot 100,01 poin atau 1,51% ke level 6.506,48.

Sementara indeks Nasdaq anjlok 443,08 poin atau 2,01% ke level 21.647,61. Adapun indeks Dow Jones terkoreksi 443,96 poin atau 0,96% ke level 45.577,47.

Sebagai langkah darurat guna meredam kenaikan harga bahan bakar yang kian liar, pemerintahan Trump akhirnya memutuskan untuk mencabut sanksi terhadap minyak Iran yang telah dimuat di kapal-kapal tanker. Langkah pragmatis tersebut menunjukkan upaya keras Washington untuk menstabilkan inflasi energi domestik meski konflik bersenjata tak menunjukkan tanda-tanda mereda.

Di medan tempur, eskalasi justru semakin memanas. Militer Israel melaporkan adanya serangan rudal susulan dari Iran pada Sabtu (21/3) pagi waktu setempat. Di saat yang sama, Arab Saudi mengeklaim telah menjatuhkan 20 pesawat nirawak (drone) dalam waktu singkat di wilayah timur negeri itu yang juga menjadi jantung instalasi minyak utama milik Riyadh. 

Krisis kemanusiaan pun kian mendalam dengan total korban jiwa mencapai lebih dari 1.300 orang di Iran dan 1.000 orang di Lebanon. Sementara jutaan warga di kedua negara tersebut terpaksa mengungsi akibat serangan udara Israel di Teheran dan Beirut.

Tekanan di sektor energi ini mulai memicu kekhawatiran serius di industri penerbangan global. CEO United Airlines, Scott Kirby mengungkapkan, perusahaan kini tengah bersiap menghadapi skenario terburuk di mana harga minyak bisa menyentuh level US$ 175 per barel. Kirby memperingatkan, harga bahan bakar pesawat yang telah melonjak lebih dari dua kali lipat dalam tiga pekan terakhir dapat membebani maskapai hingga US$ 11 miliar per tahun jika kondisi ini menetap.

Terkait antisipasi krisis tersebut, Kirby memberikan pernyataan tegas dalam pesan resminya kepada karyawan United Airlines. “Saya pikir ada peluang besar situasinya tidak akan sampai seburuk itu. Tetapi tidak ada ruginya bagi kami untuk bersiap menghadapi kemungkinan tersebut,” ujarnya. 

Sebagai gambaran fluktuasi pasar, harga minyak mentah jenis Brent tercatat bergerak liar dari kisaran US$ 70 per barel sebelum perang pecah menjadi setinggi US$ 119,50 per barel pada pekan ini.

Skenario harga minyak di level US$ 175 tentu akan berdampak besar pada tarif transportasi secara global.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...