Iran Buka Akses Selat Hormuz untuk Negara Sahabat: Ada Malaysia, Bagaimana RI?

Muhamad Fajar Riyandanu
27 Maret 2026, 14:12
Selat Hormuz
REUTERS/Stringer
Pemandangan udara Selat Hormuz, kawasan perairan yang dikendalikan Iran.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pemerintah Iran membuka akses pelayaran terbatas di Selat Hormuz bagi sejumlah negara di tengah meningkatnya tensi konflik bersenjata di Timur Tengah. Sejumlah kapal tanker minyak Malaysia, Thailand, Cina, Rusia, Pakistan, hingga Irak kini diperbolehkan melintas selat tersebut oleh Teheran.

The Guardian pada Jumat (27/3) melaporkan kebijakan pembukaan akses pelayaran terbatas secara selektif ini berdasarkan pertimbangan politik dan keamanan. Pemerintah Iran menempatkan hubungan diplomatik sebagai faktor utama dalam menentukan negara mana yang memperoleh akses ke jalur distribusi energi global tersebut.

Perdana Menteri (PM) Malaysia, Anwar Ibrahim, mengatakan telah berbicara dengan para pemimpin Iran, Mesir, Turki, dan negara-negara kawasan lainnya pada Kamis (26/3). Ia menyampaikan kapal-kapal Malaysia kini diizinkan untuk melintas melalui Selat Hormuz.

Dalam pidato yang disiarkan televisi, Anwar mengucapkan terima kasih kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, karena telah mengizinkan kapal Malaysia melintas. “Kami saat ini sedang dalam proses membebaskan kapal tanker minyak Malaysia dan para pekerja yang terlibat agar mereka dapat melanjutkan perjalanan pulang,” kata Anwar Ibrahim.

Meski berstatus sebagai negara penghasil minyak, Malaysia tetap bergantung pada pasokan energi yang melintasi Selat Hormuz, dengan sekitar 50% kebutuhan minyak nasional diangkut melalui jalur perairan tersebut.

“Bagi kami saat ini, kami terpaksa mengelola situasi ini karena dampak dari blokade di Selat Hormuz, perang, serta terhentinya pasokan minyak dan gas semuanya berdampak pada kami,” ujar Anwar.

Kebijakan akses pelayaran selektif yang diterapkan oleh Iran menandai pergeseran peran Selat Hormuz dari sekadar jalur perdagangan internasional menjadi instrumen tekanan geopolitik. Iran memanfaatkan kontrol atas jalur tersebut untuk memperkuat posisi tawar terhadap negara-negara yang bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk.

The Guardian juga menuliskan sejumlah kapal kargo dan tanker minyak berukuran kecil dari Thailand dan Cina juga telah melewati Selat Hormuz sejak pasukan Iran secara efektif memblokir jalur perdagangan tersebut sebagai respons atas serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Awal pekan ini, sebuah kapal tanker minyak Thailand melintas dengan aman setelah koordinasi diplomatik antara Thailand dan Iran. Seorang pejabat Thailand pada Rabu, (25/3) mengatakan, kapal tersebut tidak diwajibkan membayar untuk lolos dari blokade.

Tanker milik Bangchak Corporation itu melintasi Selat Hormuz pada Senin (22/3) setelah pembicaraan antara Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow dan duta besar Iran untuk Thailand.

Selain Thailand, dua kapal pengangkut liquefied petroleum gas (LPG) yang terkait dengan Cina juga dilaporkan telah melintasi Selat Hormuz. Sebuah kapal kontainer milik Negeri Tirai Bambu, Newvoyager, turut melewati jalur tersebut setelah melakukan pembayaran kepada otoritas Iran.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Kamis (26/3) menyatakan bahwa negaranya telah mengizinkan kapal-kapal dari India untuk melintas melalui Selat Hormuz.

Melansir pemberitaan media India, The Economic Times, Konsulat Jenderal Iran di Mumbai menyebutkan Iran telah memberikan izin pelayaran melalui Selat Hormuz bagi negara-negara yang dianggap bersahabat, termasuk Cina, Rusia, India, Irak, dan Pakistan.

Keterangan tersebut sejalan dengan yang dikatakan Araghchi. Laporan kantor berita pemerintah Iran, Tasnim, menyebut Araghchi mengatakan bahwa Selat Hormuz yang dibatasi bagi musuh dan sekutunya sejak dimulainya agresi pada akhir bulan lalu tetap terbuka bagi negara-negara sahabat.

"Untuk beberapa negara yang kami identifikasi sebagai teman kami, kami mengizinkan jalur melalui Selat Hormuz. Kami mengizinkan Cina, Rusia, India, Irak, dan Pakistan untuk melewatinya," kata Araghchi pada Kamis (26/3)

"Tidak ada alasan bagi kami untuk mengizinkan musuh kami melewati Selat Hormuz."

Sementara itu, dua kapal milik PT Pertamina hingga kini masih tertahan di Selat Hormuz sejak beberapa pekan lalu. Belum ada informasi terbaru dari pemerintah mengenai proses diplomatik untuk meloloskan dua kapal tersebut mengarungi selat yang memisahkan Negeri Persia dan dunia Arab itu.

Terakhir, Kementerian Luar Negeri dua pekan lalu menyatakan masih melakukan pendekatan diplomatik secara intensif dengan Pemerintah Iran untuk mengeluarkan dua kapal Pertamina yang tertahan di Selat Hormuz. Juru Bicara Kemenlu Yvonne Mewengkang menuturkan, keluarnya dua kapal milik Pertamina menjadi isu spesifik yang krusial bagi pemerintah. 

Menurut dia, Kedutaan Besar RI di Teheran terus melakukan komunikasi dengan Kementerian Luar Negeri Iran dan otoritas untuk mengeluarkan Kapal Gamsunoro dan Kapal Pertamina Pride. "Kami sedang memastikan dengan pemerintah Iran agar dua kapal kita dapat melewati Selat Hormuz dengan aman. Keselamatan para WNI menjadi perhatian kami," kata Yvonne di kantornya, Jumat (13/3). 

Yvonne mengatakan, kelancaran transportasi laut di Selat Hormuz penting untuk perekonomian dunia, khususnya bagi Indonesia. Karena itu, pemerintah Indonesia mendorong semua pihak dalam konflik untuk menghentikan serangan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...